Bukan untuk menggunakannya. Bukan pula untuk mengingatkan kita pada luka.
Mungkin hanya untuk melihatnya.
Namun, dari peristiwa sederhana itu, kita kembali menyadari bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah selesai hanya karena waktu telah berlalu.
Pedang itu pernah menjadi mahar seorang perempuan kepada laki-laki yang dipilihnya untuk menjadi teman hidup. Ia bukan sebatas benda tajam. Ia pernah menjadi bagian dari percakapan tentang cinta, tentang permintaan, tentang kesanggupan, dan tentang kehidupan yang saat itu masih terbentang panjang di hadapan kami.
Kini, perempuan itu telah tiada.
Pedangnya masih ada.
Buku-bukunya masih ada.
Tetapi orang yang dahulu memberi makna pada semua itu telah lebih dahulu memenuhi panggilan-Nya.
Di situlah saya kembali belajar bahwa manusia memang tidak pernah benar-benar memiliki apa pun secara mutlak. Kita hanya dititipi waktu untuk merawat, mencintai, dan menjaga sesuatu, sebelum pada akhirnya harus belajar melepaskannya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
_”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”_ ~ QS. Ali ‘Imran: 185
Ayat itu kita baca berulang kali. Kita dengar dalam pengajian. Kita sampaikan kepada orang-orang yang sedang berduka. Tetapi ketika kematian mengambil seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita, maknanya terasa berbeda.
Kita tidak lagi sebatas membaca tentang kematian. Kita sedang belajar hidup bersama kenyataan bahwa seseorang yang pernah duduk di samping kita, pernah menyampaikan keinginannya, pernah meminta sesuatu yang sederhana, suatu hari hanya bisa kita kenang melalui benda-benda yang ditinggalkannya.
Maka, ketika Ust Malla mencium pedang itu, entah mengapa saya merasa seolah-olah ada sesuatu yang lebih dalam sedang berlangsung.
Saya tidak berani memastikan apa yang beliau rasakan. Saya juga tidak tahu apa yang sesungguhnya ada dalam pikirannya.
Saya hanya menyaksikan sebuah pedang keluar dari sarungnya, seorang tamu memandangnya dengan penuh perhatian, dan diri saya sendiri yang mendadak disergap kenangan.
Terkadang, kita tidak perlu mengetahui seluruh alasan di balik sebuah peristiwa untuk merasakan maknanya.
Cukup kita hadir sepenuhnya di dalam peristiwa itu.
Sebab, tidak semua pertemuan datang untuk memberikan jawaban. Ada pertemuan yang justru mengajak kita kembali mengingat pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita simpan sendirian.
Di tengah suasana itu, Ust Malla tiba-tiba memanggil salah seorang adik saya yang tinggal di rumah.
Beliau menyerahkan beberapa lembar uang kepadanya.
_”Pergi beli makanan. Nanti kita makan ramai-ramai di sini.”_
Kalimat itu sederhana sekali.
Setelah percakapan tentang mahar, setelah pedang dikeluarkan dari sarungnya, setelah suasana haru yang tidak banyak kami bicarakan, beliau mengajak kami makan bersama.
Saya memperhatikan hal itu dan kembali tersenyum.
Begitulah terkadang cara manusia menjaga perasaan. Tidak selalu melalui nasihat panjang. Tidak selalu dengan kalimat yang terdengar bijaksana. Kadang-kadang cukup dengan mengajak makan, memastikan orang lain tidak merasa sendirian, dan menciptakan suasana yang membuat hati kembali hangat.
Ada orang yang pandai berbicara tentang persaudaraan, tetapi lupa duduk bersama saudaranya.
Ada pula yang tidak banyak berbicara, tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai.
Bagi saya, kunjungan Ust Malla hari itu bukan semata-mata tentang seorang anggota DPRD yang datang ke rumah seorang guru mengaji lorong. Lebih dari itu, ada pelajaran tentang persahabatan, penghargaan, kenangan, dan kemanusiaan yang saya rasakan melalui peristiwa-peristiwa kecil.












