Perhatikanlah, Allah tidak memerintahkan kita berdakwah dengan caci maki, fitnah, atau penghinaan. Allah memerintahkan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dengan cara yang santun.
Artinya, kebenaran tidak harus disampaikan dengan kebencian. Ketegasan tidak harus dibungkus dengan kekasaran. Bahkan, seseorang dapat menyampaikan kritik yang sangat tajam tanpa harus merendahkan martabat orang yang dikritiknya.
Jangan sampai merasa paling benar, lalu merasa berhak menghina siapa saja yang berbeda pandangan.
Ada pula pendakwah yang gemar membangun permusuhan dengan mengadu domba umat. Perbedaan pendapat dijadikan bahan pertengkaran. Perbedaan mazhab dijadikan alasan untuk saling mencela. Perbedaan pilihan politik dijadikan dasar untuk mengkafirkan, memusuhi, dan merendahkan sesama muslim.
Padahal, umat Islam membutuhkan persaudaraan, bukan pertikaian yang tidak berkesudahan.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Pesan ini seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi siapa pun yang menjadikan dakwah sebagai jalan hidupnya.
Bagaimana mungkin seseorang mengajak orang lain menuju surga, sementara lisannya justru menjadi sumber luka bagi sesama?
Bagaimana mungkin seseorang berbicara tentang akhlak Rasulullah, tetapi perilakunya jauh dari kelembutan dan keteladanan beliau?
Bagaimana mungkin seseorang menyerukan persatuan umat, sementara setiap hari yang disebarkannya adalah kebencian dan permusuhan?
Dakwah bukan sekadar kemampuan berbicara, mengutip ayat, menghafal hadis, atau menguasai panggung. Dakwah juga menuntut keteladanan akhlak. Sebab, manusia tidak hanya mendengarkan apa yang diucapkan seorang pendakwah, tetapi juga memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Jangan sampai ilmu agama yang dimiliki justru melahirkan kesombongan. Jangan sampai kefasihan berbicara membuat seseorang merasa paling suci. Jangan sampai popularitas dan jumlah pengikut membuat seorang pendakwah lupa bahwa dirinya pun manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kelembutan merupakan bagian dari keindahan akhlak. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.
Betapa indahnya pesan ini.
Dakwah yang lembut bukan berarti dakwah yang lemah. Dakwah yang santun bukan berarti membiarkan kemungkaran. Pendakwah tetap harus berani mengingatkan kesalahan, mengkritik ketidakadilan, dan membela kebenaran. Namun, semuanya harus dilakukan dengan ilmu, kejujuran, adab, serta tanggung jawab.
Mengkritik boleh, memfitnah jangan. Mengingatkan boleh, menghina jangan. Berbeda pendapat boleh, memprovokasi permusuhan jangan. Membela kebenaran boleh, tetapi jangan menghalalkan segala cara.
Apalagi di zaman media sosial, ketika sebuah potongan ceramah dapat tersebar ke mana-mana hanya dalam hitungan detik. Kalimat yang provokatif sering kali lebih cepat viral daripada nasihat yang menyejukkan. Konten yang berisi kemarahan terkadang lebih banyak mendapatkan perhatian dibandingkan pesan yang mengajak manusia memperbaiki diri.
Di sinilah pentingnya kehati-hatian.
Seorang pendakwah harus menyadari bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Fitnah yang disebarkan dapat merusak kehormatan seseorang. Tuduhan yang tidak terbukti dapat menghancurkan keluarga. Provokasi yang terus diulang dapat memecah belah masyarakat. Bahkan, sebuah ceramah yang tidak bertanggung jawab dapat menjadi sumber permusuhan berkepanjangan.












