MENCARI PEMIMPIN

Oleh Aslam Katutu

Makassar, NusantaraInsight — Jika Anda melihat foto ini, mungkin Anda akan bertanya-tanya. Saya, penulis buku Mencari Pemimpin, sedang berada dalam sebuah momen ketika buku tersebut ada di tangan seorang tokoh yang pernah memimpin Kota Makassar selama dua periode.

Barangkali Anda akan menduga bahwa buku ini berkaitan dengan sosok yang gambarnya terpampang pada sampulnya, yakni Anies Rasyid Baswedan, yang namanya kembali diperbincangkan dalam berbagai diskusi politik menjelang Pilpres 2029. Atau, jangan-jangan, buku ini berkaitan dengan Ilham Arief Siradjuddin, mantan Wali Kota Makassar dua periode, yang namanya juga kerap dikaitkan dengan dinamika politik Sulawesi Selatan dan kemungkinan kiprahnya pada kontestasi politik mendatang.

Dugaan itu tentu bisa dimengerti. Apalagi, ketika berbicara tentang pemimpin, pikiran kita sering kali langsung tertuju kepada tokoh-tokoh yang pernah memegang kekuasaan atau yang sedang dipersiapkan untuk memimpin negeri ini.

Namun, bagi saya, peristiwa ini bukan sekadar urusan foto, buku, atau pertemuan dengan seorang tokoh politik. Ada pelajaran yang lebih dalam tentang silaturahmi, perjalanan hidup, dan ikhtiar menemukan sosok pemimpin yang benar-benar dibutuhkan bangsa, seperti harapan saya di dalam buku itu.

BACA JUGA:  Miris, Menjelang Ramadhan Pinjol Makin Marak

Dalam kehidupan, sering kali kita baru memahami makna sebuah peristiwa setelah menjalaninya. Sebagai seorang Muslim, saya percaya bahwa segala sesuatu berlangsung dalam ketetapan Allah SWT. Apa yang tampak sederhana di mata manusia, bisa saja menjadi kenyataan. Bisa jadi Foto sampul Buku itu kelak menjadi Presiden RI, dan tokoh yang sahya hadiahkan buku itu menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, Wallahu A’alm Bishowab.

Pertemuan itu bermula dari ajakan sahabat saya, Syarief Borahima, Ketua Relawan Soelawesi Pejuang Anies (RESOPA), yang dikenal dekat dengan Anies Baswedan. Beliau mengajak saya menghadiri kegiatan zikir malam Jumat di Rumah Jabatan Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham.

Menurut informasi kegiatan zikir malam Jumat ini telah dimulai sejak 2008. Sebuah kebiasaan yang patut diapresiasi karena di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan, masih ada ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Malam itu, sambil mengikuti zikir bersama sejumlah ustaz di Makassar, saya kembali bersilaturahmi dengan Ilham Arief Siradjuddin, yang akrab disapa Pak Aco. Kami sudah cukup lama tidak bertemu setelah pernah bersama-sama berada dalam Tim Pemenangan MULIA pada Pemilihan Wali Kota Makassar 2024.

BACA JUGA:  Krisis Pendidikan Krisis Demokrasi

Suasana zikir membawa pertemuan itu dalam nuansa yang berbeda. Kami tidak sedang berada di tengah kampanye, rapat pemenangan, atau perdebatan politik. Kami hadir dalam suasana ibadah, mengingat Allah, dan mempererat hubungan antarsesama manusia.

Di sinilah saya kembali diingatkan bahwa kehidupan tidak semestinya hanya diisi oleh urusan mengejar jabatan dan kekuasaan. Ada hubungan dengan Allah yang harus dijaga, ada persaudaraan yang perlu dirawat, dan ada tanggung jawab sosial yang tidak boleh dilupakan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Silaturahmi, dengan demikian, bukan sekadar bertemu dan berjabat tangan. Ia merupakan jalan untuk membangun persaudaraan, memperluas pemahaman, dan membuka peluang bagi kebaikan.

Saya mengenal kiprah Pak Aco bukan hanya dari pemberitaan atau cerita orang lain. Kami pernah berada dalam satu gelanggang tugas mulia ketika saya mendapat amanah memimpin proyek pembangunan Jalan Tol Seksi IV Makassar pada 2007.