MENCARI PEMIMPIN

Saat itu, Pak Aco menjabat sebagai Wali Kota Makassar. Pemerintah kota memegang peranan penting dalam mendukung kelancaran proyek tersebut, terutama melalui keterlibatannya dalam proses pembebasan tanah di wilayah yang akan dilalui jalan tol.

Persoalan pembebasan tanah bukanlah pekerjaan sederhana. Di balik garis-garis yang tergambar pada peta proyek, terdapat rumah, keluarga, mata pencaharian, serta harapan masyarakat. Pembangunan membutuhkan keputusan, koordinasi, komunikasi, dan kesediaan berbagai pihak untuk mencari jalan keluar.

Pengalaman tersebut memberi saya kesempatan untuk melihat bahwa kepemimpinan tidak hanya diuji ketika seorang pejabat berdiri di podium dan menyampaikan pidato. Kepemimpinan juga diuji ketika menghadapi persoalan nyata, mempertemukan kepentingan yang berbeda, serta mengambil keputusan demi kepentingan yang lebih luas.

Tentu, pengalaman bekerja bersama seorang tokoh tidak serta-merta menjadikan kita harus menyetujui seluruh pandangan politiknya. Namun, pengalaman itu dapat menjadi bahan untuk memahami bagaimana seorang pemimpin bekerja, berinteraksi, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Bagi saya, pengalaman seperti inilah yang membuat pembicaraan tentang pemimpin menjadi lebih bermakna. Kita tidak cukup hanya mengenal nama, popularitas, atau slogan seseorang. Kita perlu melihat rekam jejak, integritas, kemampuan, dan kesungguhannya dalam mengabdi.

BACA JUGA:  Dunia dan Ibu Rempong

Indonesia Sedang Mencari Pemimpin
Mencari Pemimpin merupakan buku ke-43 yang saya tulis. Judul ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan terhadap perjalanan bangsa Indonesia dan lahirnya buku ini diilhami oleh pertemuan saya dengan sosok Abah Anies, 18 September 2026 lalu di Makassar.
Hari ini, kita menghadapi berbagai persoalan di dalam negeri, mulai dari tantangan ekonomi, ketimpangan sosial, kualitas pendidikan, persoalan hukum, hingga tuntutan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada saat yang sama, dunia juga mengalami perubahan yang begitu cepat. Persaingan ekonomi, perkembangan teknologi, konflik geopolitik, dan perubahan hubungan antarnegara menuntut Indonesia memiliki kepemimpinan yang matang dan berpandangan jauh ke depan.
Pertanyaannya, pemimpin seperti apa yang sesungguhnya kita cari?
Dalam pandangan Islam, salah satu rujukan utama untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah keteladanan Rasulullah Muhammad SAW. Beliau bukan hanya pemimpin umat, melainkan juga teladan dalam kejujuran, amanah, kecerdasan, dan penyampaian kebenaran.
Ada empat sifat utama Rasulullah SAW yang sangat relevan untuk menjadi pedoman dalam memilih pemimpin.
Pertama, amanah. Pemimpin harus dapat dipercaya. Jabatan bukanlah hak istimewa untuk memperkaya diri atau kelompoknya, melainkan tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Rakyat memberikan kepercayaan agar kekuasaan digunakan untuk melayani, bukan untuk mengambil keuntungan pribadi.
Kedua, siddiq. Pemimpin harus jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kejujuran menjadi dasar kepercayaan publik. Pemimpin yang gemar berbohong, memanipulasi informasi, atau mengingkari janji akan merusak hubungan antara rakyat dan pemerintah.
Ketiga, fathanah. Pemimpin harus cerdas, bijaksana, dan mampu mencari solusi. Niat baik saja tidak cukup. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang memahami persoalan, mampu membaca perubahan

BACA JUGA:  Saya Memulai Karier di Radio dengan Rp50

Melalui buku ini saya berharap bisa bersilaturahmi dengan banyak tokoh-tokoh mulai dari Pemimpin Daerah, Walikota atau bupati, Gubernur, Tokoh-tokoh penting sampai kepada Calon Presiden dan menyampaikan pesan penting, bahwa mari kita bersungguh-sungguh mengurusi Bangsa ini dengan serius, seperti harapan para pendiri negeri ini demi kemakmuran Rakyat Indonesia tanpa kecuali.