LAKEKOMAE MELACAK ARSIP AJOEBA DI MAKASSAR (2)

Oleh: Yudhistira Sukatanya

Makassar, NusantaraInsight — Ajoeba berhasil memicu perhatian media. Pernyataan Ajoeba dimuat terdepan di halaman utama Het Dagblad edisi Rabu 14 Mei 1947, dengan pernyataan”Eens Naar Djokja altijd naar Djokja”  dibulan yang sama Ajoeba menegaskan bahwa ia mewakili aspirasi rakyat Gorontalo yang” seratus persen berdiri di belakang Soetan Sjahrir” (Basri Amin 2025. 6)
Menurut Manuhua, masa ini adalah periode kedua 1945-1949 peranan pers nasional. Karena itu maka pers memikul tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan 17 Agustus 1945. Karena ini masa revolusi maka pers nasional tidak lepas dari tanggung jawab tersebut jadilah “Pers Revolusi” Tokohnya antaralain Rosihan Anwar, BM Diah, dan Adam Malik
Sebelumnya, pada periode pertama dikenal istilah pers varian pers pergerakan yang fokus pada paham kebangsaan. Itu cikal jurnalisme berkebangsaan serta humanisme kebangsaan. Dipelopori dan dipopulerkan oleh tokoh-tokoh pers pejuang kemerdekaan diantaranya Tirto Adhi Soerjo ( Medan Prijaji 19807 di Bandung) dan Dr Abdul Rivai (Majalah Bintang Hindia) yang memelopori kemajuan bangsa yang menyuarakan konsep kaum muda agar mengejar pendidikan moder,  serta dikembangkan oleh media massa nasional terkemuka di Indonesia.
Ajoeba Wartabone, tokoh pers dan pejuang kemerdekaan dari Gorontalo, secara historis dikenal sebagai salah satu pelopor utama yang mengusung jurnalisme kebangsaan di masa-masa revolusi. Ia menggunakan tulisan-tulisannya untuk menumbuhkan nasionalisme, membangun kesadaran kritis anti-kolonialisme, dan menyuarakan persatuan Indonesia.
Peranan koran/media massa dalam mendukung perjuangan RI di daerah ini tidakkah kecil. Bahkan sejumlah surat kabar kerap menyuarakan aspirasi kaum republikein unitaris, meskipun periode terbit terbanyak mingguan. Itupun terbit dalam bentuk stensilan, sebab percetakan dengan kemampuan cetak koran, hanya dikuasai oleh Belanda/Pemerintah NIT. Percetakan tidak boleh mencetak koran republikein/unitaris. Khusus hanya mencetak koran mereka. (L.E Manuhua, 1995.)
Koran kalangan Belanda adalah harian “Indonesia Timur” dan harian “Makassar Courant” yang kemudian berubah nama menjadi “Celebes Bode” (bahasa Belanda). Meskipun berbeda kualitas teknis dan grafisnya, tetapi koran-koran republikein/ unitaris lebih mendapat perhatian masyarakat.
Sepanjang tahun-tahun 1947 dan 1948 itu cukup banyak koran-koran republikein, antara lain tengah bulanan “Pedoman” kemudian meningkat menjadi Mingguan. Selain itu terbit juga hariannya dengan nama “Pedoman Harian”, surat kabar “Proletariat”, Mingguan “Nusantara”, Mingguan “Dinamika”, Mingguan “Wirawan”, “Nusantara”, Mingguan “Wanita” dan beberapa lainnya.
Selain itu ada Majalah “Pertimbangan“, dimana  Ajoeba Wartabone pernah bekerja tahun 1932-1933. Ia duduk dalam jajaran redaksi bersama Mr Soenarjo (perwakilan Makassar); GR Pantow dan A.Durand. Dunia pers pra-kemerdekaan inilah yang menempa basis intelektual dan kesadaran kritis Ajoeba sejak usia muda. Selain di majalah “Pertimbangan“, ia juga tercatat aktif menulis untuk salah satu surat kabar tertua di luar Jawa, yaitu “Tjahaja Siang.“
Diantara koran itu yang paling populer adalah “Pedoman Harian”. Bukan saja di kalangan masyarakat melainkan juga di kalangan Pemerintah NIT serta anggota-anggota parlemen.
Pemerintah NIT di bawah Perdana Menteri (PM) Nadjamoedin Daeng Malewa mengeluarkan surat keputusan yang isinya “mengusir Soegardo dari wilayah Indonesia Timur. la terpaksa hijrah ke Jakarta Oktober 1947. Maksudnya membredel “Pedoman Harian”.
Tetapi ’‘Pedoman” tidak mati. Dilanjutkan eksistensinya Di tahun berikutnya pemerintah NIT tetap merasa terganggu oleh itu. Agar supaya mereka “menjadi takut”, tiga pemimpin redaksi itu gencarnya kritik-kritik yang dilancarkan koran-koran republikein di waktu bersamaan dibawa ke Pengadilan Negeri dan dijatuhi hukuman. Ada yang 3 bulan dan ada pula yang 4 bulan penjara.
Mereka adalah Henk Rondonuwu (Mingguan Pedoman), A.N. Hadjarati (Mingguan Nusantara) dan Berty Korompis (Mingguan Wirawan), tindakan itu tidak ada pengaruhnya sama sekali. Ketiga koran itu terus terbit lalu badan penerbitnya bergabung menjadi satu, lalu melanjutkan penerbitan tetapi dengan nama “Pedoman Nusantara” dan “Pedoman Wirawan”, disamping Pedoman Harian yang kemudian menjadi “Pedoman Rakyat”. (L.E Manuhua, 1995. Hal 72)
Demikianlah, suara para “wakil rakyat” di dalam Parlemen NIT, aspirasi masyarakat ramai melalui ormas-ormas sosial-politik, gerakan-gerakan pemuda dan akhirnya media massa, semuanya dengan tegas mendukung perjuangan RI, menolak NIT dan NIS/RIS.
Pidato berani Ajoeba Wartabone pada 29 April 1947 itu memicu guncangan politik yang hebat di Makassar. Otoritas Belanda, dipimpin oleh Regeerings Commissaris voor Bestuursaangelegenheden (Komisaris Pemerintah untuk Urusan Pemerintahan) Dr. P.J. Koets dan didukung oleh militer KNIL, merespons tindakan tersebut dengan sangat keras.

BACA JUGA:  Prof.Dr.Nurhayati Rahman, M.S. Lagaligo, “Kitab Suci” Orang Bugis