LAKEKOMAE MELACAK ARSIP AJOEBA DI MAKASSAR (2)

Arsip koran lokal dari koleksi Luhukay—seperti Suara Parindra, Pemandangan, Suara Umum, Berita Baru, serta Pemberita Makassar, Pelita Rakjat, dan koran pro-Republik Soeara Merdeka, Pikiran Rakjat, dan harian nasionalis lainnya—membantu sejarawan melihat sudut pandang masyarakat luar Jawa selama periode Revolusi Fisik (1945–1949). Sejarah tidak lagi dilihat dari kacamata Jakarta atau Yogyakarta saja, melainkan dari dinamika internal Makassar. Luhukay membongkar Historiografi Sentralistik alias Jawa-Sentris.

Koleksi bundel koran dan naskah kuno pada awalnya tetap dijaga oleh pihak keluarga di rumah Jalan Singa untuk mempertahankan fungsi perpustakaan alternatif bagi para mahasiswa dan peneliti sejarah.

Mengingat sifat kertas koran peninggalan era 1940-an yang sangat rentan lapuk, sebagian koleksi penting dari rumah Jalan Singa nomor 34  telah melalui proses kurasi, mikrofilm, dan digitalisasi oleh institusi kearsipan nasional serta lembaga pusat studi sejarah di Sulawesi Selatan guna menyelamatkan salinan datanya agar tidak hilang dimakan usia.

Selama bertahun-tahun Luhukay hidup sebagai akademisi yang sederhana dan tidak memiliki kendaraan pribadi, karenanya beliau memanfaatkan ruang garasi kosong di rumahnya sebagai tempat penyimpanan utama. Rumah beliau yang terletak di Makassar pun menjadi “surga” bagi para periset karena pintu rumahnya selalu terbuka, gratis, bagi para mahasiswa, dosen, wartawan, hingga sejarawan asing dari Australia, Amerika, dan Jerman yang ingin membaca dokumen langka miliknya.
Di garasi rumah nomor 34 di masa dulu beliau mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menata, merawat, dan mengarsipkan ribuan bundel surat kabar kuno serta dokumen bersejarah penting lainnya secara mandiri.

BACA JUGA:  Prediksi Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Filipina

Ada juga informasi tentang sebagian arsip milik Hanoch Luhukay disimpan di rumahnya di Kompleks Perumahan Dosen UNHAS jalan Andi Mappanyukki 64, Makassar. (Kompas, 1982. wwwPepusnas.go)

Tak ada lagi kabar beritanya bagaimana keberadaan kertas koran buram, peninggalan era 1940-an itu. Apakah masih utuh. Dokumentasi langka itu sangat rentan terhadap kelembaban tropis. Karena Hanoch Luhukay menyimpan bundel-bundel ini di rak-rak kayu yang sirkulasi udaranya mesti terjaga dengan baik guna menghindari serangan jamur, atau foxing, bercak kecokelatan atau kegelapan yang umum muncul pada halaman buku lama, dokumen, prangko, atau karya seni kertas lainnya. Tak kalah mengkhawatirkan tetes air hujan jika atap rumahnya bocor.

Lakekomae saat melacak arsip Ajoeba Wartabone di Makassar.