Menyusul ketegangan politik pasca-pidato tersebut, otoritas militer Belanda di Makassar memperketat sensor media. Surat kabar lokal yang mencoba mempublikasikan teks pidato Ajoeba Wartabone atau menyuarakan dukungan kepada Yogyakarta langsung diancam penutupan dan jurnalisnya diinterogasi. Itulah cara represif, pemberangusan Pers Pro-Republik:
Meski Hanock Luhukay bukan seorang wartawan, melainkan seorang akademisi, Dosen UNHAS, peneliti, dan kolektor arsip sejarah. Analisis Luhukay merupakan literatur akademis, dinamika perdebatan parlemen NIT yang ia bahas memang didasarkan pada laporan-laporan dari surat kabar lokal sezaman yang terbit di Makassar pada tahun 1947–1949, seperti koran pro-Belanda Pelita Rakjat dan koran pro-Republik Soeara Merdeka.
Kedua surat kabar tersebut secara detail merekam perdebatan sengit dalam sidang parlemen, termasuk teks lengkap pidato politik Ajoeba Wartabone ketika mencetuskan slogan “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja” pada 29 April 1947. Dengan versi sudut pandang masing-masing
Koleksi Hanoch juga mencakup catatan aktivitas pergerakan politik fraksi progresif, para tokoh nasionalis Unitaris (pro-Republik) juga fraksi federalis di parlemen Negara Indonesia Timur (NIT). Dokumen-dokumen ini mencatat bagaimana Ajoeba Wartabone bersama tokoh-tokoh pro-republik lainnya merancang strategi untuk menumbangkan kabinet boneka bentukan Belanda dari dalam sistem.
Dinamika demokrasi di dalam Parlemen NIT, amatlah menarik, karena menjelma menjadi arena konfrontasi antara “kaum federalis”, pendukung NIT dan NIS ( Belanda) disatu piha dan kaum “unitaris/republikein”, pendukung Proklamasi 17 Agustus 1945 di lain pihak.
Dalam mengemukakan pendapat mereka menggunakan bahasa intelektual yang dianggap mudah dicerna oleh forum. Bahwa ada juga anggota yang memperkenalkan diri sebagai”orang yang netral” tidaklah mengherankan sebab yang demikian terdapat dimana-mana. Mereka dijuluki “bunglon” atau dicap sebagai “plin-plan”. (LE Manuhua 1999. 41)
Dokumen dan kliping pers mengenai NIT disimpan Hanoch di Jalan Singa 34. Dengan harapan di kemudian hari dapat menjadi basis data penting yang dimanfaatkan oleh para peneliti untuk menyusun penulisan sejarah daerah dan biografi perjuangan tokoh-tokoh Indonesia Timur.
Sebagai seorang kolektor mandiri di era abad ke-20 dengan keterbatasan alat modern, Hanock Luhukay, dengan tekun merawat ribuan eksemplar pers kolonial dan dokumen pasca-kemerdekaan dengan metode manual yang sangat telaten
Hanoch Luhukay dosen di Universitas Hasanuddin, bukanlah sebagai penulis berita dalam konteks wartawan, melainkan sebagai penelaah kritis, penulis dan penyelamat fisik lembaran-lembaran koran dan dokumentasi pers bersejarah. Keberadaannya sangat dihormati di kalangan peneliti karena kontribusinya dalam dunia kearsipan dan sejarah lokal.
Koleksi dokumentasi yang dikumpulkan oleh Hanock Luhukay selama berpuluh-puluh tahun dapat menjadi salah satu sumber primer, gold standard, paling berharga untuk merekonstruksi sejarah lokal Sulawesi Selatan. Sejumlah sejarawan dan peneliti telah menggunakannya untuk menemukan jawaban berupa data dan informasi beberapa hal krusial atau kontroversial.













