Mendengarkan 

Oleh: Syamril (Direktur Sekolah Islam Athirah)

Makassar, NusantaraInsight — Keterampilan mendengarkan merupakan salah satu keterampilan yang penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Namun ternyata tidak semua pemimpin memilikinya. Mengapa? Biasanya seseorang diangkat menjadi pemimpin karena prestasi atau punya kelebihan dan kehebatan tertentu.

Akibatnya kadang muncul dalam diri merasa lebih hebat, lebih berpengalaman, lebih pintar dan lain sebagainya. Hal itu membuatnya tidak mau atau sulit menerima masukan dan pendapat dari orang lain, apalagi dari bawahan. Hati-hati jika timbul kondisi seperti itu. Mengapa? Itu adalah ciri orang yang sombong yaitu merendahkan orang lain dan menolak kebenaran (H.R. Muslim).

Terkait kemampuan mendengarkan, modifikasi dari Steven R. Covey, terdapat empat level dari paling buruk hingga paling baik. Level pertama yaitu tidak mau mendengarkan masukan (ignoring) seperti tulisan pengantar di atas. Gambaran dalam Al Qur’an: “mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali” (Q.S.2:18). Bukan telinga, mulut dan matanya yang rusak. Tapi mata hatinya yang rusak sehingga tidak dapat menerima masukan.

BACA JUGA:  OPINI WTP SULSEL, DALAM BINGKAI KESADARAN KEARSIPAN DAN KESADARAN PANCASILA

Lebih parah lagi jika orang yang memberi masukan direndahkan, diejek dan dihina. Difitnah dan dituduh hal-hal yang tidak benar. Dikatakan orang yang kecewa, iri hati, dengki dan punya niat jahat untuk menjatuhkannya. Atau bersekongkol dengan pihak lain untuk membuat kekacauan di organisasi. Padahal tidak demikian. Pemberi masukan punya niat baik untuk mengingatkan.

Level kedua yaitu mau mendengarkan tapi masukannya diabaikan (pretend listening). Sekadar lip service, pencitraan dan ingin dianggap sebagai pemimpin yang terbuka. Bisa disebut sebagai pemberi harapan palsu. Awalnya ada respek dan harapan dari pemberi masukan. Tapi setelah sekian lama tidak ada yang diperhatikan secara serius. Kadang-kadang juga mendengarkan. Tapi selektif (selective listening), sesuai keinginan. Juga tujuannya untuk mendebat dan mencari-cari kelemahan dan pembenaran.

Level ketiga yaitu mendengarkan dengan perhatian (attentive listening) untuk mencari solusi, kompromi atau jalan tengah. Kategori ini lebih baik. Kondisi lapangan biasanya tidak hitam putih, perlu penyesuaian dan kompromi. Ada hal yang ditimbang pro dan kontra. Dampak positif dan negatif, juga kekuatan politik yang ada. Hal itu bisa dimaklumi dan juga disyukuri. Prinsipnya “jika tidak bisa menerima semuanya, jangan tinggalkan seluruhnya”.

BACA JUGA:  BUDAYA MEMBACA, MEMBACA BUDAYA: MENGEJA ZAMAN?

Level kempat yaitu mau mendengarkan secara empatik (empathetic listening) untuk mencari yang terbaik dan menangkap suasana hati orang lain. Ada kerendahan hati dan ketulusan untuk musyawarah. Inilah prinsip dalam Pancasila sila keempat. Juga ajaran agama: “mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik” (Q.S. Az-Zumar:18). Lawan berpendapat adalah teman berpikir. Terjadi dialektika dan adu argumentasi dengan kepala dingin. Saling uji pemikiran untuk menemukan yang terbaik.