NusantaraInsight, Makassar — Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) bukan sekadar wadah alumni, melainkan jembatan antara pesantren dengan masa depan bangsa. Ia adalah ruang pengabdian bagi mereka yang pernah ditempa oleh nilai, disiplin, dan akhlak pesantren untuk kembali memberi makna bagi umat, masyarakat, dan negara.
“Tugas besar yang berada di pundak para pengurus yang baru bukanlah tugas ringan. Dunia sedang bergejolak, bangsa sedang diuji, dan generasi sedang mencari teladan. Dalam situasi seperti inilah IAPIM diharapkan hadir, bukan saja sekadar sebagai organisasi, melainkan sebagai penjaga nilai, penjernih arah, dan penopang moral kebangsaan.” kata Laksamana Muda (Laksda) Purn. Dr. Ir.Abd.Rivai Ras, M.M.,M.S.,M.Si, IPU ASEAN Ing. saat menyampaikan pidato Wawasan Kebangsaan pada Pengukuhan Pusat IAPIM Masa Bakti 2025-2030 di Balai Prajurit M.Jusuf Makassar, Jumat (16/1/2026) malam.
Acara ini dihadiri yang mewakili Gubernur Sulsel, Ketua DPRD Sulsel drg. Andi Rachmatika Dewi, Wakil Ketua DPRD Rahman Pina, S.IP, M.Si. dan Nikmatullah S.E.Ak., Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, S.H., Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, S.E.,M.AP, Ketua DPRD Kota Makassar Supratman, Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, Wakil Bupati Takalar Hengky Yasin, dan sejumlah undangan yang memadati Balai Prajurit M.Jusuf tersebut.
Abd.Rivai Ras yang dilahirkan 24 September 1967 itu mengatakan, Indonesia berdiri di atas fondasi sejarah yang kokoh dan panjang. Ia tidak lahir dari kehampaan, tetapi dari pergulatan nilai, pengorbanan, dan doa lintas generasi. Islam, pesantren, dan kebangsaan Indonesia telah menyatu dalam napas peradaban — saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Saling menyempurnakan, bukan saling menegasikan (menyangkalkan, meniadakan).
“Rawatlah sebagai ‘baituna’ — rumah besar yang aman –, bersih, dan inklusif. Rumah yang dirawat tanahnya, dijaga lautnya, dipelihara hutannya, dan dimuliakan manusianya. Rumah tempat setiap anak bangsa merasa pulang, merasa diterima, dan merasa memiliki masa depan,” ujar putra pasangan R.A.Dg.Sirappi – Hj Azizah tersebut.
Ayah dua anak — istri dr,Hj. Dwi Nindiya Ayu, N,B.,M.Si — Ini menegasan, perjuangkanlah Indonesia sebagai ‘jannatuna’ — surga kita semua — negeri yang adil, makmur, dan bermartabat. Negara yang warganya saling menyapa dengan damai, saling menghormati dalam perbedaan dan saling menjaga dalam kebersamaan.
“Negeri yang kemajuannya tidak merusak, kesejahteraannya tidak timpang, dan kekayaannya tidak dihabiskan, tetapi diwariskan,” ujar lulusan Doktor Ilmu Politik UI (2010) tersebut.
Lulusan Perwira Prajurit Karier (PPK) Angkatan I tahun 1993 dengan jabatan terakhir Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Kedaulatan dan Kemaritiman itu mengharapkan para alumni pesantren IMMIM yang menerima amanah kepengurusan agar jadilah wajah Islam yang meneduhkan. Wajah pesantren yang mencerahkan. Dan, wajah kebangsaan yang mempersatukan.
“Jadilah generasi yang kuat dalam prinsip, lentur dalam pendekatan, dan teguh dalam pengabdian,” kata Ketua Program Studi Keamanan Maritim Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan (Unhas) (2013-2016) tersebut.
Ruang Peradaban
Abdul Rivai Ras yang termasuk salah seorang pelopor pendiri Universitas Pertahanan itu pada bagian lain pidatonya mengemukakan, lebih dari sekadar rumah, Indonesia pun harus kita perjuangkan menjadi ‘jannatuna’ –surga kita bersama.
Dalam khazanah Islam, surga bukan hanya tempat tinggal yang indah, melainkan juga ruang peradaban yang paripurna,












