Laksda (Purn.) Dr.Ir.Abd.Rivai Ras, M.M.,M.S.,M.Si, IPU ASEAN Ing. IAPIM, Jembatan antara Pesantren dan Masa Depan Bangsa

Rivai Ras
Laksamana Muda (Laksda) Purn. Dr. Ir.Abd.Rivai Ras, M.M.,M.S.,M.Si, IPU ASEAN Ing (foto mda)

“Di sana tidak ada kebencian. Tidak ada dendam. Tidak ada rasa takut. Orang-orangnya saling menyapa. Saling bersalaman. Saling bersilaturahim,” ungkap Staf Khusus KSAL (2024-sekarang) dalam pidatonya bertajuk “Menerima kepribadian dan watak kebangsaan dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai ‘Baituna’ dan ‘Jannatuna’ bagi setiap anak bangsa”.

Alquran menggambarkan para penghuni surga hidup dalam kedamaian batin, dan bahkan Allah swt sendiri menyampaikan salam kepada mereka. “Salamun qawlan min rabbir Rahim’ (QS Yasin: 58). Surga adalah tempat, saat relasi manusia terbangun di atas kasih sayang, bukan kecurigaan. Ketika perbedaan tidak melahirkan permusuhan. Saat setiap jiwa merasa aman, dihormati, dan dimuliakan.

“Dan surga juga digambarkan sebagai ruang ekologis yang indah dan seimbang. Ia dialiri sungai-sungai yang jernih. Dipenuhi buah-buahan yang baik dan menyehatkan. Alamnya subur, tertata, dan memberi kehidupan. Tidak ada kerusakan. Tidak ada pencemaran. Tidak ada keserakahan,” ujar lulusan S-1 Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Unhas (1992) tersebut.

Lulusan S-2 Manajemen Strategik Universitas Pembangunan Nasional Veteran (2000), S-2 Kajian Strategik Pertahanan Keamanan UI (2001), dan S-2 Ilmu Politik Hubungan Internasional UI (2003) ini mengatakan, Indonesia sebagai ‘jannatuna’ bukan berarti negeri tanpa masalah.

BACA JUGA:  Peran Gen Z dalam Pemilu 2024

Surga di sini bukan ketiadaan ujian, melainkan keadilan yang menang atas konflik. Kehidupan yang layak, adil, dan bermartabat. Kesejahteraan yang dirasakan bersama, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Ruang sosial, tempat rakyat bisa hidup rukun, saling menghormati, dan saling menjaga.

“Indonesia akan mendekati makna ‘jannatuna’ jika warganya tidak saing memusuhi karena perbedaan. Jika ruang publik dipenuhi etika, bukan cacian. Jika persaudaraan lebih kuat daripada provokasi. Jika negara hadir melindungi yang lemah, bukan membiarkan mereka terpinggirkan. Di sinilah pesantren berperan yang sangat besar,” kunci jenderal purnawirawan bintang dua itu disambut tepuk tangan yang hadir. (mda).