“Saya mau jelaskan tentang Syekh Yusuf, semoga bisa menambah informasi untuk penerbitan bukunya nanti. Kisah ini punya muatan sejarah dan budaya, serta riwayat hidup Syekh Yusuf dan keturunannya,” kata Daeng Temba memulai ceritanya.
Syekh Yusuf merupakan putra tunggal dari Manurunga ri Kokbang dengan istrinya Sitti Fatima Tubiyani Daeng Pajja—ada juga menyebutnya Sitti Aminah—yang merupakan anak dari Gallarrang Moncongloe. Namanya ketika masih kecil adalah Muhammad Yusuf. Sejak kanak-kanak, ia sudah belajar ilmu agama, di Bontoala, lalu ke Cikoang, sebagai pusat pendidikan agama Islam yang maju di masanya.
Daeng Temba juga menceritakan hubungan antara Syekh Yusuf dengan Sitti Zainab Basya, putri Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14, yang sempat terkendala karena terkait syarat yang mesti dipenuhi, dan perbedaan status sosial. Syarat yang dimaksud, yakni kaya, pemberani, dan panrita (berilmu tinggi). Namun Muhammad Yusuf punya dua dari tiga syarat, yakni pemberani dan berilmu tinggi. Terasa ada nuansa drakor dalam ceritanya, karena Putri Raja Gowa, yang kemudian dibawa menyusul Syekh Yusuf ke bandar niaga Somba Opu, lantaran Muhammad Yusuf telah bersiap pergi meninggalkan Butta Gowa.
Mendengar cerita Daeng Temba, kita seperti diajak menyusuri lorong waktu ke berbagai tempat di Gowa, Makassar, dan daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan. Ada lanskap alam, tokoh-tokoh historis, pusat-pusat pendidikan agama Islam, serta sejarah dan asal-usul nama tempat (toponimi). Kokmara, Dampang Kokmara, Lokmo ri Antang, Dato ri Panggentungang, Sinassara, kisah asal mula Maudu Lompoa di Cikoang, Gunung Bawakaraeng, Gunung Latimojong, dan Gunung Bulusaraung, semua ada dalam ceritanya. Kami bagai disuguhkan menu prasmanan dengan cita rasa komplit.
Sayang, ceritanya terpotong karena waktu sholat Dhuhur telah masuk. Kumandang azan dari Masjid Al-Amin, tidak memungkin Daeng Temba meneruskan cerita menarik tentang Syekh Yusuf. Kepada beliau, saya sarankan, sebaiknya nanti hikayat Syekh Yusuf direkam lalu dikemas per episode, dibuat lebih menarik, dengan iringan kesok-kesok dan alat musik tradisional Makassar lainnya.
Saya juga sempat mengomentari cerita Prof. Aminuddin Salle, tentang arsip Syekh Yusuf, yang begitu dijaga oleh keturunannya. Bahkan arsip yang punya nilai sejarah tersebut, tidak mau didokumentasikan, meski itu dilakukan oleh Perpusnas RI.
“Tabe Prof., dengan begitu naskah tersebut hanya jadi pusaka bukan pustaka. Kalau pusaka, cenderung hanya disimpan buat diri sendiri dan keluarga. Sementara kalau dijadikan pustaka, ada proses literasi dan pembelajaran, yang akan sangat bermanfaat bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Apalagi di dalamnya terkandung aspek sejarah, budaya, dan agama.”

br
br






br





