“Na bilang Prof, Mahfud, kalau mau lihat miniatur pelaksanaan Pancasila, datanglah ke Galesong,” cerita Karaeng Patoto bangga.
Abdul Jalil menyampaikan, dia tengah mengajukan suatu konsep program terkait artefak Tungku Katoknokang itu. Walau diakui bahwa dia bukan orang asli sana, tetapi dia punya perhatian dan kepedulian. Disampaikan pula bahwa di situ, terdapat kuburan tua, yang tidak terawat. Kabarnya, makam tersebut adalah sepasang suami-istri, salah satunya merupakan keturunan Syekh.
“Orang itulah yang katanya menyebarkan agama Islam di wilayah situ, dan konon dialah yang memperkenalkan cara memasak teripang bagi warga setempat, di masa itu,” terang Abdul Jalil, yang juga seorang pendidik.
Yudhistira Sukatanya, yang dikenal sebagai sastrawan dan budayawan, menekankan pentingnya peranan warga dalam mencatat dan menceritakan sejarah di tempat tinggal atau desanya. Warga perlu dimotivasi agar menulis pengalaman, ingatan, dan pengetahuannya, apalagi yang punya nilai sejarah dan kultural. Penulis novel Noni Societeit de Harmonie dan kumpulan cerpen Panglima Balla Parang itu lantas menyebut nama saya, yang getol mempraktikkan jurnalisme warga. Bahkan menularkan semangat pewarta warga itu melalui workshop dan pelatihan penulisan kreatif di berbagai kelompok dan komunitas.
Saya mengiyakan apa yang disampaikan, sutradara teater dan pendiri Sanggar Merah Putih tersebut. Workshop serupa tampaknya perlu pula dilakukan di BBrG dengan melibatkan kalangan milenial dan Gen Z, bisa merupakan warga sekitar, kelompok pemuda, pelajar, atau komunitas literasi dan penggiat seni budaya.
Pusaka Syekh Yusuf
Obrolan di BBrG agak serius ketika kami membahas tentang Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari. Pernah, kata Prof. Aminuddin Salle, ada tim dari Perpusnas RI mau mendokumentasikan naskah kuno milik salah seorang keluarganya, yang merupakan keturunan Syekh Yusuf. Namun, mereka tidak mau perlihatkan karena dianggap sakral, dan dikeramatkan. Padahal tim tersebut tidak bermaksud mengambil arsip kunonya secara fisik, hanya mau mendokumentasikannya saja.
Perpusnas RI memang punya program, namanya IKON, akronim dari Ingatan Kolektif Nasional. Program IKON ini bertujuan untuk mencatat, melindungi, dan mengarusutamakan naskah kuno atau dokumen yang punya nilai penting bagi peradaban Indonesia. Setelah ditetapkan sebagai IKON, suatu naskah akan diproyeksikan untuk diusulkan menjadi Memory of the World (MoW) UNESCO.
Prof. Hamdar Arraiyyah, penggagas buku kumpulan esai dan puisi tentang Syekh Yusuf, mengaku senang mendengar berbagai program yang dilakukan Prof. Aminuddin Salle di BBrG, terutama digitalisasi pesan-pesan filosofis dan nilai-nila kearifan lokal dalam aksara Lontarak Makassar. Dengan begitu, katanya, mudah dibagikan (share) ke berbagai kalangan dan bisa diakses dari mana saja. Ini juga perlu dilakukan terhadap karya-karya Syekh Yusuf.

br
br






br





