Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong
Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong

Guru Besar Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali itu, menuturkan bahwa beliau punya teman yang pernah mengkaji dan menerjemahkan hikayat Syekh Yusuf di Desa Sanrobone. Bukunya sudah diterbitkan oleh Perpusnas RI, 2 atau 3 tahun lalu. Beliau juga punya teman, Syekh Dr. H. Syahrir Nuhun, yang rutin melakukan pengkajian kitab Tuanta Salamaka, Sirrur Asrar, di Maros, pada setiap hari Rabu, ba’da Subuh. Sirrur al-asrar, artinya rahasia dari segala rahasia.

“Jadi, saya punya satu-dua teman yang memiliki kemampuan membaca naskah-naskah terkait Syekh Yusuf dalam bahasa Arab. Ada juga teman yang mahir menulis puisi, para penyair dan satrawan. Mereka ini peduli, dan terampil menulis, apapun temanya.

br

Beliau mengaku begitu gembira setelah mendengar kabar bahwa bertepatan dengan UNESCO Anniversary 2026, badan PBB tersebut telah menetapkan tahun ini sebagai peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf, yang punya nama kecil Muhammad Yusuf, lahir tanggal 3 Juli 1626.

Muncul di pikiran Prof. Hamdar, bagaimana kalau beliau mengajak teman-temannya memperingati 400 tahun Syekh Yusuf melalui tulisan? Katanya, kenapa kita tidak mengekspresikan cinta, kepedulian, dan sedikit pengetahuan tentang Syekh Yusuf dalam bentuk puisi dan esai. Alhamdulillah, rupanya gayung bersambut.

BACA JUGA:  HM Daeng Patompo dan Angka-Angka Tahun yang Tidak Selaras

Disampaikan bahwa ada belasan orang yang diajak menulis dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Makassar. Beliau berharap, salah satu puisi dalam buku antologi tersebut, ditulis dengan menggunakan aksara Lontarak Mangkassarak, supaya teman-teman di Afrika Selatan tahu bahasa dan aksara dari daerah kelahiran Syekh Yusuf.

Menurut pria asal Soppeng yang fasih berbahasa Arab dan Inggris itu, Syekh Yusuf sangat dihormati di Afrika Selatan. Beliau memberi contoh, di sana pada saat long weekend libur Paskah, masyarakat setempat mengadakan kegiatan di area makam Syekh Yusuf, di bukit Zandvliet/Zemplit, kampung Macassar, Faure, sekira 40 km dari jantung kota Cape Town.

Mereka berkemah, mengadakan pertunjukan, dan mendengar ceramah tentang Indonesia, supaya dapat mengenal budaya dan asal-usul Syekh Yusuf. Ini sebagai upaya membina kerukunan antar bangsa dan umat manusia. Spirit ini serupa yang dilakukan di Gowa. Bedanya, kalau di Katangka, Kabupaten Gowa, biasanya digelar haul untuk memperingati wafatnya Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari, sebagaimana haul akbar yang diselenggarakan tahun 2023 dan 2024.

BACA JUGA:  SURAT BUAT WAKIL RAKYAT

Setelah Prof. Hamdar Arraiyyah berbagi cerita tentang pengalamannya mengunjungi makam Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. Tiba giliran Muh. Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf, berkisah tentang ulama besar tersebut. Kisah ini bersumber dari arsip kuno keluarga yang kondisinya sudah lapuk.

br
br