Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong
Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong

Situs Tungku Katoknokang

Galesong Selatan punya situs bersejarah dan cagar budaya yang menyimpan banyak cerita. Salah satunya Tungku Katoknokang atau pappalluang. Situs ini disebut-sebut sebagai bukti sejarah maritim dan simbol diplomasi budaya antara Nusantara, khususnya Galesong, dengan dunia internasional, terutama Marege (Aborigin) di benua Australia. Letak situs yang berusia ratusan tahun itu berada di Desa Bontokanang, berjarak sekira 6 km dari BBrG.

br

“Saya lahir di sekitar daerah itu, mungkin hanya 300-an meter dari situs tungku itu. Anehnya, yang memperkenalkan saya ke tempat itu justru orang Amerika. Saat ada kegiatan Balai Pelestarian Kebudayaan, saya diundang sebagai narasumber,” ungkap Prof. Aminuddin Salle, yang membuat kami tersenyum.

Orang Amerika Serikat yang dimaksud Karaeng Patoto, adalah Wayne A. Bougas Daeng Rate. Foto pria bule jangkung itu bisa dilihat di akun Instagram Balla Barakka. Wayne datang ke BBrG, pada 2 Oktober 2019, untuk berbagi cerita dan bernostalgia 47 tahun bersama keluarga Galesong.

Prof. Aminuddin Salle dan Abdul Jalil lalu bercerita tentang tungku tersebut. Sekarang, katanya, sudah jadi situs nasional. Dahulu, sungai di situ bagus sekali. Kapal-kapal bisa masuk membawa teripang dari Australia ke Katiknokang (lalu berubah namanya menjadi Katoknokang). Bila ada teripang dari Australia, maka akan direbus atau diolah di situ, setelah matang baru diekspor ke China. Sayangnya, setelah jadi desa, dikasi nama Desa Bontokanang. Tentu saja, pergantian nama ini dipertanyakan.

BACA JUGA:  Zakat: Dari Konsumtif ke Produktif, Menuju Mustahik yang Mandiri

“Saya bilang, siapa yang ganti namanya? Biar Katiknokang saja, karena itu ada historisnya, yang menggambarkan hubungan Makassar, khususnya Galesong dengan Australia. Ini merupakan hubungan antar-negara, kala itu,” ujar Prof. Aminuddin Salle dengan nada heran.

Prof. Aminuddin Salle, juga menceritakan kebiasaan nelayan Galesong tempo doeloe, yang menaikkan bendera di ujung perahu sebagai bentuk kegembiraan memperoleh banyak ikan. Beliau kagum pada tradisi nelayan Galesong menaikkan bendera sebagai pertanda banyak mendapat ikan, sekaligus mengajak orang-orang datang untuk dibagikan ikan. Orang-orang tua sejak dahulu, punya semangat berbagi. Mereka sama sekali tidak pelit, tidak gikgili (kikir).

Itulah mengapa, kata beliau, Prof. Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), kala itu, bilang bahwa Pancasila di Galesong, masih ada. Prof. Mahfud kemudian memberi kata pengantar pada buku yang ditulis Prof. Aminuddin Salle, berjudul “Galesong Desa Pancasila dan Konstitusi”. Prof. Aminuddin Salle bahkan beberapa kali diundang ke Jakarta untuk berceramah di hadapan para yang mulia, hakim konstitusi.

br
br