Puncak kekalahan saya ketika kami sudah di SMA, tepatnya di SMA Persiapan Lalan Matlean. Rivalku kembali memecahkan rekor sebagai peringkat 1 setiap semester. Kekalahan saya kian sempurna lantaran dia menjabat sebagai sekretaris OSIS.
Kondisinya terbalik dengan keadaan saya, remaja yang hanya dikenal karena kenakalannya. Mabuk, tawuran, dan kenakalan lainnya. Ya mungkin itulah rekor yang saya punya hehehe. Sekolah hanya seru bagi saya ketika ada kegiatan olahraga, dan tawuran.
Pada suatu pagi, rival saya itu kembali datang mengajak saya ke sekolah. Pagi itu kami menggobrol banyak hal. Soal absen saya, katanya, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya memberikan alasan pada ketua kelas, dan para guru yang terus bertanya mengenai saya.
Muak dengan kondisi saya yang begini terus, saya ikut beberapa teman berlibur ke Papua. Kota Fakfak jadi tujuan saya.
Perjalanan ke sana, saya menggunakan kapal laut. Beruntungnya kami tiba di kota Fakfak pada malam hari. Sungguh luar biasa pemandangan kota Fakfak.
Kontur kotanya berbukit-bukit. Hal itu sungguh menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah.
Setelah merasa liburan cukup, saya memutuskan untuk kembali ke kampung. Rival saya yang tahu bahwa saya telah kembali, datang melaporkan tentang situasi sekolah.
Kali ini, dia bercerita cukup serius. Dia mengabarkan, kalau saya akan dikeluarkan dari sekolah. Karena telah melanggar kesepakatan awal, yakni jika alpa lebih dari 3x maka diberi surat teguran, dan saya hampir sebulan tidak masuk sekolah.
Saya bergumam dalam kebingungan. Akh sial, ini semakin rumit saja, apakah saya harus pindah sekolah?
Okey baiklah, saya harus bertanggung jawab atas semua ini. Toh jika dikeluarkan pun saya sudah siap dengan semua konsekuensinya.
Akhirnya saya memutuskan ke sekolah, setelah hampir sebulan tidak menginjakkan kaki di kelas. Saya langsung disuruh menghadap Wakasek.
Dalam hati saya membatin, mungkin saya bakal dikeluarkan tanpa hormat. Kenapa semua jadi berantakan begini?
Begitu saya menghadap, obrolan dibuka dengan satu pertanyaan dari Wakasek, “Haekal, apakah kamu masih ingin bersekolah di sini atau dikeluarkan? saya sudah bingung dengan kamu. Karena setiap surat teguran yang dikirim, tidak pernah mendapatkan respons dari kamu, maupun pihak yang mewakili kamu.”
Beliau kembali tegas bertanya, “Apakah kamu masih mau sekolah atau dikeluarkan?”
Dengan mantap saya menjawab, “Saya ingin pindah sekolah, Pak. Saya tidak mau lagi membuat lebih banyak masalah di sini.”
“Baiklah, saya akan urus surat pindah kamu. Satu Minggu kemudian kamu boleh datang mengambil surat pindahmu. Karena Kepsek sementara tidak berada di tempat,” kata beliau.
“Baiklah, Pak. Terima kasih atas perhatiannya,” ucap saya.
Singkat cerita, saya kembali ke rumah, dan duduk melamun di sana. Tiba-tiba muncul rivalku. Dia menyapa, “Hey bro, bengong aja, lagi mikirin apa?”
Saya dengan sedikit tersenyum membalas, “Saya sudah memutuskan untuk pindah sekolah brow.”
“Ha….” Dia sedikit kaget, “Pindah?”
“Iya, saya pindah bro. Saya sudah kalah jauh sama kamu. Saya malu bro. Kamu terus berkembang dalam pendidikan, dan saya hanya bisa jadi seorang anak remaja yang terus menyusahkan orang lain, termasuk kamu bro.”
“Tapi kan semuanya bisa diperbaiki bro. Saya bisa bantu kamu kalau persoalan tugas bro,” kata dia meyakinkan.
“Ini bukan lagi persoalan nilai sekolah bro, tapi citraku sebagai seorang anak remaja yang telah negatif di mata para warga, dan nama keluarga yang rusak hanya karena perbuatanku. Saya sungguh malu bro,” beber saya.
Kami pun terdiam.












