“Ajakan, seruan kepada angkatan muda di Nusantara ini untuk meneladani jejak laku Syekh Yusuf, cerdas, berani, tegas, dan suci rohani … tidak harus menjadi seorang sufi, tetapi harus teguh, tegak kokoh mengobarkan pengabdian untuk bangsa menampilkan wajah, semangat, dan karya,” begitu paparan Prof. M. Asfah Rahman, saat membahas puisi Aspar Paturusi.
Penulis lain yang puisinya dibahas adalah Ishakim, berjudul “Impresi Tuanta Salamaka” (Bi-Barakti-l Fatihah).
Prof. M. Asfah Rahman menyebut puisi karya perupa tersebut sebagai puisi narasi sejarah, yang dibagi dua bagian atau fase. Bagian/fase 1 bercerita mulai kelahiran Tuanta Salamaka di Gowa yang tumbuh menjadi pemudayang haus ilmu (agama), bertekad berburu ilmu ke luar tanah kelahirannya, ke Banten, Aceh, Yaman, Madinah, Makkah, yang menjadikannya Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari. Namun, kembali Tuanta harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk melebarkan syiar dan perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan penjajah.
Bagian/fase 2 puisi ini menggambarkan dampak dari syiar dan perlawanan Tuanta Salamaka membuat penjajah/VOC menahannya, mengasingkannya ke Ceylon. Bahkan di Ceylon pun dakwah dan perlawanan Tuanta Salamaka lebih menggelisahkan VOC, sehingga Tuanta Salamaka diasingkan ke Afrika, tempat yang lebih jauh lagi. Bagi Tunta Salamaka, dimana bumi dipijak, disitu diluapkan jihad, ditegakkan tauhid/Suri teladan mekar harum. Keteguhan prinsip ini memberikan “… manusia pembebas … father of Islam,” dan “… panutan dua bangsa …”
“Patut kiranya ilmu-amal-tindak laku Tuanta Salamaka ditanamkan dan ditumbuhkan pada setiap generasi penerus baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal,” imbuh Prof. M. Asfah Rahman mengakhiri pembahasannya. (*)












