Prof. M. Asfah Rahman: Buku Antologi Puisi Tiga Bahasa Tentang Syekh Yusuf Al-Makassari

 

Prof. M. Asfah Rahman menambahkan, istilah Makassar digunakan untuk menguatkan identitas dan kearifan lokal Makassar; seperti “pappasang turiolo” mengambil ilmu dan ajaran sebagai petuah leluhur Makassar, yang oleh masyarakat Makassar harus dihargai, dipelajari dan ditaati. Petuah leluhur ini adalah “pappilajarang” yang senantiasa didendangkan oleh “pasinrilik” demi kelanggengan dan penyebarannya ke masyarakat.

 

Pengasingan Syekh Yusuf ke Ceylon dan Cape Town tidak menghentikannya berjuang menebar ilmu — “Walau gerak kebebasanmya terpenjara/Tetapi ilmumu berpendar terangi semesta”.

 

Prof. M. Asfah Rahman selanjutnya membedah puisi Kembong Daeng, berjudul “Accarammengki ri Tuanta Salamaka”.

 

“Puisi ini termasuk religius deskriptif, dengan struktur Kelong Makassar klasik yang umumnya diakhiri dengan ajakan dan doa,” terangnya.

 

Bait 1 mengungkap rasa syukur atas lahirnya tokoh besar Syekh Yusuf di Makassar. Bait 2, 3 dan 4 menggambarkan sifat karakter Syekh Yusuf sebagai ulama sufi, berani, jujur, dan keluasan ilmu agamanya. Bait 5 adalah ajakan untuk bercermin meneladani agar selamat dunia akhirat atas ridho Allah.

BACA JUGA:  Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

 

Prof. M. Asfah Rahman menilai puisi ini menggunakan gaya bahasa repetisi. Misalnya, kata Tuanta Salamaka diulang di setiap bait sebagai pengikat. Berikutnya gaya bahasa paralelisme, seperti “Ammenteng ri … Ammempo ri … (Berdiri di … Duduk di …), “Toddopuli … Tantang ..” (Teguh … Tegak …).

 

Ajakan langsung kepada pembaca “E .. tau Mangkasaraka…”. Majas budaya digunakan seperti “Malabbiritta’ (orang terpuji), “Tubarani” (orang berani), “Manngasseng” (orang berilmu/cerdas).

 

Selanjutnya, puisi karya Asia Ramli Prapanca, berjudul “Munajat Abadi di Tepi Khalwat” dibahas.

 

Ini puisi sufi, dialogis, bukan tentang Syekh Yusuf, menggunakan ‘engkau’ dan “kau” menandakan kedekatan antara mereka … “Kau datang tanpa pedang/Tapi pengasingan itu sendiri runtuh di hadapanmu”.

 

Prof. M. Asfah Rahman yang mengaku bukan kritikus sastra itu mengulas bahwa paradoks yang amat kuat ini dilanjut dengan “… tanpa membawa kitab tebal/Namun satu napasmu saja cukup menjadi tafsir”. Praktik sufi tarekat Khalwatiyah mengikis keraguan dan kelelahan penyair dan melapangkan tafakurnya “Ruang tafakurku ini sempit/Sempit oleh ragu dan lelah/Tapi ketika kau hadir, ia meluas …”

BACA JUGA:  Berbincang dengan Kades Kalebentang: SDM RENDAH TAPI SWADAYA MASYARAKAT TINGGI

 

Bisikan sang sufi “… Diamlah Asia. Tapi jangan padam” merupakan inti ajaran Khalwatiyah, diam tidak berarti padam, hilang, mati. Diam tetapi jaga cahaya nurani tetapi menyala; tetaplah diam dalam tafakur, tetapi tidak membiarkan semangat mati.

 

Karya Aspar Paturusi berjudul “Rajawali dari Timur” juga diulas oleh Prof. M. Asfah Rahman.

 

Metafora Rajawali, katanya, melambangkan ‘terbang tinggi — ilmunya tinggi, mata tajam — bashirah sufi, dan dari Timur — Makassar, bukan dari Barat.

 

Puisi narasi biografi ini mulai dengan fase 1 Penuntut Ilmu, merantau ke tempat-tempat gudang ilmu, Aceh, Madinah, Makkah, Yaman. Fase 2, hasil perburuan ilmunya telah menyusikan pikiran dan batinnya, sufi, “… menyucikan batin/ … Menjernihkan pikiran” dan mendalami ajaran Khalwatiyah. Fase 3 adalah Pejuang, manifestasi ilmu dan amal dalam bentuk tindak “Bergelora semangat juang/Menegakkan Keadilan/Terjun ke garis depan”.

 

Perjuangan dan dakwah tetap berlangsung meskipun dibuang jauh dari tanah kelahiran — “Pantang menyerah/Sekalipun dipisahkan … Dibuang ke Sri Lanka/Lalu ke ujung selatan Afrika.” Bahkan di pengasingan inilah Tuanta Salamaka menjadi pemantik inspirasi seorang Nelson Mandela dalam menghayati makna kemerdekaan, kehormatan, dan kebebasan manusia.