Bait 4 menggambarkan Syekh Yusuf sebagai ulama sekaligus pejuang. Ciri khas Tuanta Salamaka, kitab di dada, badik di pinggang, disimbolkan dengan “… pen and weapon …” Simbol religius “… faced the Ka’bah…” menunjukkan sikap istiqomah penyerahan diri walaupun hati hancur (kalah) “… shattered heart”.
Pada bait 5 disampaikan pesan filosofis yang diperjuangkan “Freedom belonged to everyone …/Al-Makassari paid a high cost for his longging/…for the people of Makassar and the Nusantara”, Kebebasan itu milik semua, dan Syech Yusuf membayar mahal atas perjuangan ini berupa kerinduan pada tanah Makassar dan Nusantara.
Puisi karya Muhammad Hamzah Zaidin, berjudul “Sheykh Yusuf al-Makassari in Ceylon” termasuk yang dibahas. Prof. M. Asfah Rahman menyebut puisi ini termasuk balada, naratif heroik, dan bentuk kuatren.
Dijelaskan bahwa pada bait pertama puisi dibuka dengan gaya bahasa deskriptif yang melukiskan perpisahan dan penegasan kehebatan Syech Yusuf dengan 3 (tiga) gelar–“a scholar, saint, and fearless guide”.
Bait kedua mengandung metafora — “his light” (ilmu dan pengaruh Syech Yusuf), kontras sekaligus antitesis–“The colonizers thought his light would fade / Yet brighter grew its sacred flame”, dan personifikasi — “God’s eternal hand” (tangan Tuhan yang abadi).
Pada bait ketiga menggunakan metafora ‘cahaya’ — “His words became a lamp of hope (Ajarannya menjadi pelita harapan) dan hiperbola “Shining beyond the darkest ocean” (Cahayanya sampai ke seberang samudera). Ungkapan ini bermakna bahwa meskipun diasingkan, dakwah dan ilmu yang diajarkan tetap sampai.
Sedangkan pada pait keempat dibuka dengan kutipan religius — “La ilaaha illa-llah echoed still” zikir tahlil langsung, sehingga puisi menjadi sakral, diikuti dengan aliterasi –“A timeless call to every soul”.
Selanjutnya, bait kelima berisi hiperbola yang tertera dalam sejarah –“His pen outlived the might of empires” (Penanya lebih bertahan lama daripada kerajaan VOC.) Faktanya, VOC bubar tetapi buku-bukunya masih ada dan dibaca). Bait ini juga mengandung metafora “His wisdom crossed both sea and sky” gambaran tentang luasnya jangkauan dakwahnya.
“Puisi karya Muhammad Hamzah Zaidin ditutup dengan gaya bahasa simbolik –“A beacon for all humankind” (mercusuar, simbol petunjuk). Juga diberikan julukan “Tuanta Salamaka” sehingga identitas Makassar tetap hidup,” kata Prof. M. Asfah Rahman.
Puisi karya Rusdin Tompo berjudul “Ilmu-Amal Satu dalam Laku” juga dikupas.
“Judul puisi ini menggambarkan ajaran utama tarekat Khalwatiyah Syech Yusuf, yakni ilmu dan amal tidak terpisah dan harus direalisasi dalam perbuatan dan tindakan. Puisi ini puisi bebas tidak terikat rima, dengan tekanan sufi-filosofis Makassar,” kata Prof. M. Asfah Rahman.
Inti puisi yang dominan metafora cahaya ini dapat diekstrak sebagai cermin ajaran Khalwatiyah.
baris 1: Ilmu adalah cahaya dan amal adalah buktinya.
baris 6: … cahaya ilmu mesti terurai.
baris 22: … ilmumu berpendar terangi semesta …
baris 23: Jadi suluh penuntun langkah … yang mengungkap bahwa ilmu bukan hiasan, tetapi lampu; bukan teori, tinggi, jauh — “menara tak tergapai” tetapi — dekat, praktis, dan hidup —“denyut nadi yang dapat diraba”.
Ilmu yang diajarkan benar-benar dapat dipraktikkan, dirasakan dan/atau disaksikan sehari-hari. Bahkan, ilmu harus menjadi “taman amal … rimbun oleh pancarona kebajikan”, taman yang hidup, bukan hafalan mati.












