Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu… Syukur dan Sabar?

Oleh ; Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum.
(Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin)

Makassar, NusantaraInsight — Tidak sederhana memberi kata pengantar pada buku berjudul Ngaji Sugih. Sebab itu saya berkali-kali menolak ketika diminta menuliskannya. Sebab utama menurut saya adalah seseorang mesti memiliki chemistry dengan naskah yang dihadapinya, sehingga sanggup memberikan kata pengantar yang sepadan.

Saya sedikit confuse mesti mulai dari mana. Meski telah membolak-balik pengetahuan saya, khususnya pengetahuan filsafat Barat, saya masih bertanya yakni dari mazhab yang mana saya mesti mendekatinya? Tokoh filsafat yang mana yang paling tepat saya jadikan pijakan? Dari konten filsafat, sebenarnya saya bisa saja melakukannya. Tetapi rasanya tidak pas. Begitu pula jika saya memulainya dari aspek suatu mazhab beserta sejarahnya. Rasanya tidak ada yang benar-benar pas.

Begitu pula dari pandangan seorang atau dua orang filsuf yang sengaja saya sortir dan komparasi sebagai pijakan awal untuk membedah buku Ngaji Sugih karya Soraya ini.

Causa primus-nya adalah karena pengetahuan Barat, dalam perkembangan tertentu, sangat kuat bersandar pada pandangan materialisme, kecuali beberapa pemikiran pada Abad Pertengahan dan periode sesudahnya, termasuk tradisi filsafat Jerman, khususnya ketika membicarakan konsep Summum Bonum.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Summum Bonum adalah ungkapan Latin yang berarti kebaikan tertinggi atau puncak kebaikan. Istilah ini merujuk kepada prinsip dasar yang menjadi landasan suatu sistem etika yakni tujuan tertinggi yang apabila dikejar secara konsisten akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang dianggap terbaik.

Dalam sejarah filsafat, konsep ini memperoleh makna yang beragam. Plato, misalnya, berbicara tentang Idea of the Good, Ide tentang Kebaikan, sebagai sesuatu yang menjadi sumber universal bagi segala sesuatu yang indah dan benar. Aristoteles memandang bahwa sasaran aktivitas manusia pastilah kebaikan, dan karena itu manusia pada akhirnya bergerak menuju suatu kebaikan tertinggi.

Mazhab Helenistik, Stoisisme, Epikureanisme, Aristotelianisme, dan Platonisme kemudian memberikan tekanan yang berbeda terhadap pertanyaan yang sama: apa sesungguhnya yang membuat kehidupan manusia menjadi baik?

Pertanyaan itu kelihatannya sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam.

Sebab manusia sepanjang sejarah tidak pernah berhenti mengejar sesuatu yang disebutnya kebahagiaan.

Ada yang mencarinya dalam kesenangan.

Ada yang mencarinya dalam kekuasaan.

Ada yang mencarinya dalam pengetahuan.