Syukur membuat manusia tidak sombong ketika memperoleh.
Sabar membuat manusia tidak hancur ketika kehilangan.
Syukur menjaga manusia dari keserakahan.
Sabar menjaga manusia dari keputusasaan.
Karena itu, seorang Muslim yang matang bukanlah orang yang hidup tanpa masalah.
Ia adalah orang yang tidak kehilangan Allah ketika masalah datang.
Dalam buku Ngaji Sugih, gagasan ini sebenarnya sudah sangat kuat. Penulis mengajak pembaca melihat bahwa syukur bukan hanya ucapan atas kesenangan, tetapi cara pandang terhadap kehidupan. Bahkan dalam kesulitan, seseorang masih dapat bersyukur karena meyakini adanya hikmah yang sedang Allah ajarkan.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammā ya’tikum matsalul ladzīna khalaw min qablikum…”
Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana yang dialami orang-orang sebelum kamu?
Cobaan adalah bagian dari perjalanan.
Kesulitan adalah bagian dari pendidikan jiwa.
Kehilangan adalah bagian dari pembelajaran.
Dan kesabaran bukan berarti manusia tidak boleh menangis.
Sabar bukan berarti tidak boleh sedih.
Sabar adalah ketika kesedihan tidak membuat kita berburuk sangka kepada Allah.
Karena itu Allah juga berfirman:
“Wasta’īnū bish-shabri wash-shalāh.”
Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.
Menarik sekali bahwa sabar ditempatkan berdampingan dengan salat.
Sebab sabar tanpa Tuhan bisa berubah menjadi sekadar ketahanan psikologis.
Tetapi sabar yang bersandar kepada Allah berubah menjadi ibadah.
Begitu pula syukur.
Syukur bukan sekadar mengatakan Alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.
Syukur adalah kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, kemudian menggunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak-Nya.
Maka orang yang memiliki harta tetapi tidak tahu untuk apa hartanya, belum tentu kaya.
Orang yang memiliki ilmu tetapi tidak memberi manfaat, belum tentu kaya.
Orang yang memiliki kekuasaan tetapi tidak mampu menundukkan egonya, belum tentu kaya.
Sebaliknya, orang yang sedikit hartanya tetapi luas syukurnya, besar manfaatnya, bersih hatinya, dan dekat kepada Allah, bisa jadi justru jauh lebih kaya.
Allah telah menjanjikan:
“La’in syakartum la-azīdannakum.”
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.
Tetapi tambahan itu tidak selalu berupa angka.
Kadang Allah menambah ketenangan.
Kadang menambah kesehatan.
Kadang menambah ilmu.
Kadang menambah orang-orang baik di sekitar kita.
Kadang menambah kemampuan menerima takdir.
Dan ada kalanya Allah menambah sesuatu yang jauh lebih mahal: kedekatan kepada-Nya.
Kekayaan yang Tidak Mengalami Inflasi
Di tengah zaman yang begitu sibuk mengukur kekayaan melalui angka, Ngaji Sugih menawarkan ukuran yang berbeda.
Kekayaan hati.
Kekayaan iman.
Kekayaan ilmu.
Kekayaan kasih sayang.
Kekayaan manfaat.
Kekayaan syukur.
Dan akhirnya, kekayaan berupa ketenangan.
Buku ini bahkan menegaskan bahwa ketika hati dipenuhi syukur, pikiran dipenuhi ilmu, dan langkah dipenuhi ikhtiar yang halal, kekayaan tidak lagi berhenti pada dompet, tetapi hadir dalam jiwa.
Saya kira di sinilah Ngaji Sugih menemukan relevansinya.
Ia tidak sedang mengajari manusia bagaimana menjadi kaya dalam semalam.
Ia sedang mengajak manusia mengubah definisi kaya.
Dari kaya benda menjadi kaya makna.
Dari kaya genggaman menjadi kaya batin.
Dari mengejar kepemilikan menjadi menemukan keberkahan.
Dari bertanya, “Apa yang belum saya punya?”, menjadi bertanya, “Apa yang sudah Allah berikan dan belum saya syukuri?”
Dan mungkin pertanyaan kedua inilah yang lebih menyelamatkan kehidupan.












