Allah telah menjanjikan:
“La’in syakartum la-azīdannakum.”
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.
Tetapi tambahan itu tidak selalu berupa angka.
Kadang Allah menambah ketenangan.
Kadang menambah kesehatan.
Kadang menambah ilmu.
Kadang menambah orang-orang baik di sekitar kita.
Kadang menambah kemampuan menerima takdir.
Dan ada kalanya Allah menambah sesuatu yang jauh lebih mahal: kedekatan kepada-Nya.
Kekayaan yang Tidak Mengalami Inflasi
Di tengah zaman yang begitu sibuk mengukur kekayaan melalui angka, Ngaji Sugih menawarkan ukuran yang berbeda.
Kekayaan hati.
Kekayaan iman.
Kekayaan ilmu.
Kekayaan kasih sayang.
Kekayaan manfaat.
Kekayaan syukur.
Dan akhirnya, kekayaan berupa ketenangan.
Buku ini bahkan menegaskan bahwa ketika hati dipenuhi syukur, pikiran dipenuhi ilmu, dan langkah dipenuhi ikhtiar yang halal, kekayaan tidak lagi berhenti pada dompet, tetapi hadir dalam jiwa.
Saya kira di sinilah Ngaji Sugih menemukan relevansinya.
Ia tidak sedang mengajari manusia bagaimana menjadi kaya dalam semalam.
Ia sedang mengajak manusia mengubah definisi kaya.
Dari kaya benda menjadi kaya makna.
Dari kaya genggaman menjadi kaya batin.
Dari mengejar kepemilikan menjadi menemukan keberkahan.
Dari bertanya, “Apa yang belum saya punya?”, menjadi bertanya, “Apa yang sudah Allah berikan dan belum saya syukuri?”
Dan mungkin pertanyaan kedua inilah yang lebih menyelamatkan kehidupan.
Sebab manusia bisa menjadi miskin meskipun hartanya banyak, jika ia kehilangan rasa cukup.
Sebaliknya, manusia bisa menjadi kaya meskipun hartanya sederhana, jika ia mampu melihat kehidupan sebagai karunia.
Pada Akhirnya, Pulang
Pada akhirnya saya memahami mengapa saya sempat kesulitan menemukan pintu masuk filsafat Barat untuk buku ini.
Sebab Ngaji Sugih bukan semata-mata buku tentang teori kekayaan.
Ia adalah buku tentang perjalanan manusia.
Perjalanan dari keinginan menuju kesadaran.
Dari pencarian dunia menuju pencarian makna.
Dari kegelisahan menuju ketenangan.
Dari merasa memiliki menuju menyadari bahwa semuanya adalah titipan.
Dan dari merasa menjadi pusat kehidupan menuju kesadaran bahwa kita hanyalah hamba.
Dalam tradisi Islam, perjalanan itu sesungguhnya adalah perjalanan pulang.
Pulang kepada fitrah.
Pulang kepada tauhid.
Pulang kepada Allah.
Karena itu saya tertarik dengan ungkapan yang menjadi semacam ruh buku ini: dunia bukan tujuan akhir, melainkan ruang belajar. Manusia adalah musafir. Setiap perjalanan semestinya membuat kita semakin dekat kepada ilmu, hikmah, dan akhirnya kepada Allah.








