Sebab buku ini sebenarnya sedang mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi melalui bahasa yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Apa yang sebenarnya sedang kita cari ketika kita mengatakan ingin kaya?
Apakah kita sedang mencari harta?
Ataukah sesungguhnya kita sedang mencari ketenangan?
Apakah kita sedang mengejar kelimpahan?
Ataukah kita sedang mencari rasa cukup?
Apakah yang kita inginkan sebenarnya uang?
Ataukah kita ingin merasakan bahwa hidup kita bermakna?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa semakin penting karena buku Ngaji Sugih karya Soraya ini sejak awal tidak menempatkan kekayaan sebagai persoalan isi rekening semata. Buku ini justru mengajak pembaca melihat kekayaan sebagai keadaan batin: hati yang lapang, pikiran yang jernih, jiwa yang dekat kepada Allah, serta kemampuan merasakan rezeki sebagai karunia.
Di sinilah saya menemukan bahwa filsafat Barat, betapapun jauhnya dari pengalaman keberagamaan kita, sebenarnya pernah berjalan menuju pertanyaan yang serupa yakni apakah ada kebaikan tertinggi yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia?
Lalu saya bertanya:
Bagaimana dengan Islam?
Islam dan Kebahagiaan Tertinggi
Islam tidak asing dengan persoalan kebahagiaan tertinggi.
Namun Islam memberikan orientasi yang berbeda dan sekaligus lebih radikal.
Kebahagiaan tertinggi bukanlah ketika manusia berhasil menguasai dunia, melainkan ketika manusia menemukan kembali kedudukannya sebagai hamba di hadapan Allah.
Dalam perspektif tauhid, manusia tidak pernah menjadi pusat dari segala sesuatu. Manusia adalah makhluk. Allah adalah Khalik.
Karena itu, segala bentuk kekayaan yang dimiliki manusia pada akhirnya hanyalah titipan.
Harta adalah titipan.
Ilmu adalah titipan.
Kesehatan adalah titipan.
Keluarga adalah titipan.
Jabatan adalah titipan.
Bahkan usia pun adalah titipan.
Maka persoalan yang paling penting bukan semata-mata berapa banyak yang kita miliki, tetapi kepada siapa kita mengembalikan semua yang kita miliki itu.
Inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan buku Ngaji Sugih.
Buku ini tidak mengajak manusia membenci dunia. Sebaliknya, dunia tetap diterima sebagai ruang ikhtiar. Harta tetap boleh dicari. Kesuksesan tetap boleh dikejar. Karier tetap boleh diperjuangkan. Tetapi semuanya harus ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai Tuhan baru.
Sebab ketika sarana berubah menjadi tujuan akhir, manusia mulai diperbudak oleh apa yang seharusnya ia kuasai.
Pada titik inilah tauhid menjadi sangat penting.
Tauhid bukan hanya pengakuan bahwa Allah itu Esa. Tauhid adalah cara melihat kehidupan. Ia adalah kompas batin yang menentukan kepada siapa hati bersandar ketika segala sesuatu datang dan pergi.
Buku Ngaji Sugih sendiri menempatkan tauhid sebagai fondasi, bahkan menegaskan bahwa kekayaan sejati tidak lahir dari genggaman, melainkan dari hati yang mengetahui kepada siapa ia harus bersandar.
Dalam tradisi filsafat Islam dan tasawuf, perjalanan manusia kepada kebahagiaan tertinggi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Ia bergerak menuju penyempurnaan jiwa.
Al-Farabi, misalnya, berbicara tentang sa’adah-kebahagiaan-sebagai tujuan tertinggi manusia yang tidak cukup dicapai dengan kesenangan material. Ibn Sina juga melihat kebahagiaan manusia dalam hubungan dengan kesempurnaan jiwa dan pengetahuan tentang Yang Haq.
Sementara dalam tradisi tasawuf, Al-Ghazali membawa persoalan ini lebih jauh: manusia harus mengenal dirinya agar mampu mengenal Tuhannya. Jiwa yang terus dikuasai dunia tidak akan pernah merasa cukup, sebab dunia memang tidak pernah diciptakan untuk menjadi tempat berlabuh terakhir.












