Ada yang mencarinya dalam kebajikan.
Ada pula yang mencarinya dalam kekayaan.
Tetapi pertanyaan berikutnya selalu kembali menghantui manusia:
Setelah semuanya diperoleh, lalu apa?
Plato membawa manusia menuju Ide tentang Kebaikan. Aristoteles berbicara tentang kehidupan yang baik dan kebajikan. Kaum Stoa mengajarkan ketenangan melalui kemampuan hidup selaras dengan tatanan alam dan akal. Epikureanisme berbicara tentang kesenangan yang terbebas dari kegelisahan. Agustinus kemudian mengarahkan Summum Bonum kepada Tuhan sebagai Kebaikan Tertinggi. Aquinas mempertemukan filsafat Aristotelian dengan teologi Kristen dan menempatkan Tuhan sebagai tujuan akhir.
Immanuel Kant kemudian memberikan tekanan yang berbeda. Kebaikan tertinggi tidak semata-mata identik dengan kebahagiaan, melainkan berkaitan dengan kehendak baik dan kehidupan moral. Bahkan, bagi Kant, manusia membutuhkan gagasan tentang Tuhan dan keabadian untuk menjembatani ketegangan antara kewajiban moral dan kebahagiaan.
Dari sini saya mulai menemukan pintu masuk untuk memahami Ngaji Sugih.
Sebab buku ini sebenarnya sedang mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi melalui bahasa yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari:
Apa yang sebenarnya sedang kita cari ketika kita mengatakan ingin kaya?
Apakah kita sedang mencari harta?
Ataukah sesungguhnya kita sedang mencari ketenangan?
Apakah kita sedang mengejar kelimpahan?
Ataukah kita sedang mencari rasa cukup?
Apakah yang kita inginkan sebenarnya uang?
Ataukah kita ingin merasakan bahwa hidup kita bermakna?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa semakin penting karena buku Ngaji Sugih karya Soraya ini sejak awal tidak menempatkan kekayaan sebagai persoalan isi rekening semata. Buku ini justru mengajak pembaca melihat kekayaan sebagai keadaan batin: hati yang lapang, pikiran yang jernih, jiwa yang dekat kepada Allah, serta kemampuan merasakan rezeki sebagai karunia.
Di sinilah saya menemukan bahwa filsafat Barat, betapapun jauhnya dari pengalaman keberagamaan kita, sebenarnya pernah berjalan menuju pertanyaan yang serupa yakni apakah ada kebaikan tertinggi yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia?
Lalu saya bertanya:
Bagaimana dengan Islam?
Islam dan Kebahagiaan Tertinggi
Islam tidak asing dengan persoalan kebahagiaan tertinggi.
Namun Islam memberikan orientasi yang berbeda dan sekaligus lebih radikal.
Kebahagiaan tertinggi bukanlah ketika manusia berhasil menguasai dunia, melainkan ketika manusia menemukan kembali kedudukannya sebagai hamba di hadapan Allah.
Dalam perspektif tauhid, manusia tidak pernah menjadi pusat dari segala sesuatu. Manusia adalah makhluk. Allah adalah Khalik.








