Catatan Sastra Diskusi Buku ‘Ombak Laut’: PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Oleh: Anwar Nasyaruddin (Apresiator Sastra)

Makassar, NusantaraInsight — Di Rumah puisi ARYA STR, Jalan Kemauan 5 No.17 Makassar, dilakukan diskusi terbatas buku puisi penyair senior Nawir Sultan berjudul ‘Ombak Laut’, pada rabu siang sampai petang, 19 Agustus 2026. Pertemuan ini dihadiri sejumlah pemerhati Sastra Sulawesi Selatan, dan dihiasi dengan pembacaan puisi oleh Andi Marliah dan Anil Hukma.

Ada beberapa catatan diskusi yang dipandu Nasri A Muhammad Abduh ini, yang menarik untuk diapungkan. Diskusi tidak hanya membahas isi buku puisi, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih luas, tentang hakikat puisi, proses kreatif penyair, hubungan puisi dengan zaman, hingga makna simbol dalam karya sastra.

Diskusi terbatas ini berlangsung dalam suasana apresiatif dan reflektif tentang perjalanan kepenyairan Nawir Sultan. Muhammad Amir sebagai tuan rumah, menyampaikan bahwa buku tersebut ditulis dengan tangan oleh pengarangnya ketika diserahkan kepadanya untuk diterbitkan menjadi buku. Alasan Amir Jaya yang juga Ketua IPMI dan Presiden FOSAIT, ini, Nawir Sultan dikenal sebagai penyair senior yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia puisi. Ia berharap kegiatan ini juga menjadi agenda rutin setiap bulan, sekaligus ruang bagi para anggota untuk saling mengapresiasi karya.

Nawir Sultan kemudian menceritakan awal ketertarikannya terhadap puisi. Sejak duduk di bangku SMP, ia gemar membaca puisi di perpustakaan, termasuk karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana. Baginya, hampir semua puisi memiliki keindahan dan ada alasan untuk dihargai. Karena itu, ia mempertanyakan apabila ada sikap yang dengan mudah menyatakan sebuah puisi tidak baik atau bukan puisi tanpa memberikan alasan yang jelas. Bagi Nawir Sultan, menulis puisi bukan sekadar menyelesaikan rangkaian kata, tetapi sebuah proses pencarian sampai ditemukan sesuatu dari apa yang ditulis.

Is Hakim, seorang penggiat seni, yang memulai memberi tanggapan, menyoroti perjalanan Nawir Sultan dalam memilih jalan kepenyairannya. Menurutnya, seorang penyair pada akhirnya akan menemukan aliran dan karakter sendiri melalui proses membaca dan menulis yang panjang. Ia melihat Nawir Sultan semakin produktif sejak 2017, dengan karya-karya yang mengangkat tema yang beragam, termasuk pulau dan simbol kerendahan hati.

Perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan, menurutnya juga menuntut penyair untuk terus memperbarui pemikiran dan memperkaya terminologi seni.
Dalam pandangannya, semua orang memang dapat menulis puisi, tetapi tidak setiap tulisan otomatis dapat disebut sebagai puisi, karena perlu kejelasan batas antara kebebasan berekspresi dan kualitas artistik karya yang dibuat.