Pertanyaan Ihsan Tayeb senada dengan Asnawin Aminuddin, mengenai alasan pemilihan judul buku Ombak Laut, membuka pemahaman lain terhadap isi buku tersebut. Nawir Sultan menjelaskan, sebenarnya tidak terdapat puisi yang secara khusus berjudul atau membahas tentang ombak secara dominan. Ombak laut justru dipilih sebagai judul karena seluruh puisi di dalam buku dipandang memiliki sifat seperti ombak, bergerak, datang dan pergi, bergelombang, serta membawa pengalaman dan makna yang terus berubah. “Dengan demikian, ombak menjadi simbol yang menaungi keseluruhan perjalanan puitik saya”, jelas Nawir Sultan pelan.
Yudistira Sukatanya kemudian mengajukan pertanyaan renungan, “Masih perlukah kita ini menulis puisi sekarang?” Pertanyaan ini keluar salah satu alasannya adanya kecerdasan buatan, yang memudahkan orang membuat puisi. Namun di sisi lain ia tetap menghargai puisi, karena puisi dianggap tetap memiliki tempat, dapat membantu manusia menemukan jalan keluar, memahami sesuatu, bahkan menggugat keadaan. Puisi menjadi ruang untuk mempertanyakan berbagai hal dalam kehidupan, terutama ketika manusia berhadapan dengan zaman yang terus berubah dan kebenaran yang kadang dipandang secara relatif. Dengan demikian, puisi tidak sekadar menjadi karya estetis, tetapi juga dapat menjadi sarana perenungan dan kritik.
Pandangan tentang perkembangan seni juga disampaikan Nurwan Muhiddin. Menurutnya, seni tidak dapat dilepaskan dari perubahan zaman, termasuk pengaruh industrialisasi. Karena itu, seorang seniman perlu memahami perkembangan dunia seni dan membangun profesionalitas.
Sementara Pak Andi Ruhban mengaitkan isi buku dengan pengalaman sehari-hari, termasuk permainan domino dan ada kata penyesalan. Ia melihat perjalanan dalam buku Ombak Laut bergerak dari pengalaman lokal menuju sesuatu yang lebih luas dan mendunia. Menulis pun dapat menjadi cara untuk menyehatkan diri secara batin.
Anil Hukma memberikan perspektif tentang kematangan pengalaman Nawir Sultan. Menurutnya, usia yang semakin bertambah dapat melahirkan beragam kematangan dalam memandang kehidupan. Satu peristiwa dapat dimaknai dengan cara yang berbeda oleh seseorang pada waktu yang berbeda. Ia juga berbicara tentang kreativitas, waktu linear, dan waktu yang mampu memadatkan serta mengawetkan pengalaman. Puisi, dalam pandangannya ini, menjadi semacam guratan pengalaman sekaligus fotografer peristiwa yang merekam kehidupan melalui bahasa, sehingga puisi puisi yang ditulis Nawir Sultan dalam buku ini, sebagai cerminan perjalanan, karakter dan sikap hidupnya.
