Catatan Sastra Diskusi Buku ‘Ombak Laut’: PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Pandangan tentang perkembangan seni juga disampaikan Nurwan Muhiddin. Menurutnya, seni tidak dapat dilepaskan dari perubahan zaman, termasuk pengaruh industrialisasi. Karena itu, seorang seniman perlu memahami perkembangan dunia seni dan membangun profesionalitas.

Sementara Pak Andi Ruhban mengaitkan isi buku dengan pengalaman sehari-hari, termasuk permainan domino dan ada kata penyesalan. Ia melihat perjalanan dalam buku Ombak Laut bergerak dari pengalaman lokal menuju sesuatu yang lebih luas dan mendunia. Menulis pun dapat menjadi cara untuk menyehatkan diri secara batin.

Anil Hukma memberikan perspektif tentang kematangan pengalaman Nawir Sultan. Menurutnya, usia yang semakin bertambah dapat melahirkan beragam kematangan dalam memandang kehidupan. Satu peristiwa dapat dimaknai dengan cara yang berbeda oleh seseorang pada waktu yang berbeda. Ia juga berbicara tentang kreativitas, waktu linear, dan waktu yang mampu memadatkan serta mengawetkan pengalaman. Puisi, dalam pandangannya ini, menjadi semacam guratan pengalaman sekaligus fotografer peristiwa yang merekam kehidupan melalui bahasa, sehingga puisi puisi yang ditulis Nawir Sultan dalam buku ini, sebagai cerminan perjalanan, karakter dan sikap hidupnya.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Rahman Rumaday menambahkan bahwa penentuan judul sebuah buku sebelum diterbitkan membutuhkan pertimbangan dan riset. Judul bukan sekadar nama yang ditempelkan pada sebuah buku atau puisi, tetapi pintu pertama yang mengantarkan pembaca memasuki dunia karya.

Sementara Syahrir Rani Daeng Nassa, melihat pentingnya memperkuat makna tanpa harus terjebak pada pilihan diksi yang terlalu baku. Ia memandang Ombak Laut sebagai simbol perjalanan hidup dan menemukan adanya penghayatan puitik dalam karya Nawir Sultan. Ia juga memberikan apresiasi khusus terhadap puisi yang menggunakan bahasa Mangkasara.

Menjelang akhir diskusi, Rusli Daeng Awing menyodorkan satu gagasan dan penting bagi seorang penulis. Apa itu? Perlunya setiap penulis memiliki hak hukum yang melindungi hasil karya atau ide yang memiliki nilai. Dalam dunia sastra, berkaitan dengan karya berupa puisi, cerpen, novel, buku, artikel, atau karya seni lainnya. Ia memberi contoh, Rahman Rumaday, salah seorang peserta baru saja pulang dari menerima sertifikat HAKI atas karyanya berjudul “Pedang dan Kain Kafan”.

Diskusi diakhiri menjelang petang, dengan pemahaman bahwa pertama, buku Ombak Laut bukan hanya kumpulan puisi, tetapi juga rekaman perjalanan seorang penyair dalam membaca kehidupan. Ombak menjadi metafora yang tepat bagi pengalaman manusia terus bergerak, kadang tenang, kadang bergelora, tetapi selalu menuju suatu pantai. Kedua, puisi masih memiliki ruang penting di tengah perubahan zaman sebagai jalan memahami diri, membaca peristiwa, menggugat kenyataan, dan menyimpan pengalaman agar tidak hilang ditelan waktu. Ketiga, pertemuan ini sebagai penegasan pentingnya tradisi apresiasi yang berkelanjutan, agar setiap karya yang lahir dari komunitas dapat dibaca, dipertanyakan, dan diperkaya bersama. (Anwar Nasyaruddin).