Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu… Syukur dan Sabar?

Maka barangkali masalah manusia modern bukan karena ia terlalu sedikit memiliki.

Bisa jadi justru karena ia terlalu banyak menginginkan.

Ia memiliki rumah, tetapi ingin rumah yang lebih besar.

Ia memiliki kendaraan, tetapi menginginkan kendaraan yang lebih mahal.

Ia memiliki jabatan, tetapi mengejar jabatan berikutnya.

Ia memiliki penghasilan, tetapi selalu merasa kurang.

Ia memiliki banyak teman, tetapi merasa sendirian.

Ia memiliki banyak informasi, tetapi kehilangan kebijaksanaan.

Ia memiliki banyak kesenangan, tetapi kehilangan ketenangan.

Di sinilah Ngaji Sugih menjadi relevan.

Karena kekayaan sejati dimulai ketika manusia berhenti menjadikan apa yang belum dimilikinya sebagai alasan untuk tidak mensyukuri apa yang sudah dimilikinya. Buku ini bahkan mengajak pembaca bersyukur sebelum hasil terlihat, menikmati proses sebelum pencapaian, dan belajar menerima bahwa tidak semua yang diminta harus hadir dalam bentuk yang kita bayangkan.

Lalu, Apa Itu Bahagia?

Saya kembali kepada pertanyaan awal.

Adakah bahagia tertinggi?

Kalau ada, di manakah letaknya?

Apakah pada kekayaan?

Tidak.

Sebab orang kaya bisa gelisah.

BACA JUGA:  Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

Apakah pada kekuasaan?

Tidak.

Sebab kekuasaan bisa hilang.

Apakah pada pengetahuan?

Belum tentu.

Sebab seseorang dapat mengetahui banyak hal tetapi tetap tidak mengetahui untuk apa ia hidup.

Apakah pada kesenangan?

Jelas bukan.

Sebab kesenangan selalu membutuhkan kesenangan berikutnya.

Mungkin kebahagiaan tertinggi justru terletak pada ketenangan jiwa ketika manusia telah menemukan tempat bersandar yang benar.

Al-Qur’an menyebutnya dengan bahasa yang sangat indah:

“Yā ayyatuhan nafsul muthma’innah.”

Wahai jiwa yang tenang.

Kemudian:

“Irji’ī ilā rabbiki rādhiyatan mardhiyyah.”

Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.

Di sinilah kebahagiaan memperoleh dimensi yang berbeda.

Bukan lagi sebatas having, tetapi being.

Bukan lagi tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang siapa diri kita di hadapan Allah.

Bukan lagi tentang seberapa besar dunia yang berada dalam genggaman, tetapi seberapa dekat hati kepada Pemilik dunia.

Dan barangkali, di sinilah Summum Bonum menemukan bentuk yang lebih transenden dalam perspektif Islam: kebaikan tertinggi bukan sekadar kehidupan yang baik, melainkan kehidupan yang diarahkan kepada Allah dan berakhir pada keridhaan-Nya.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Dengan demikian, kekayaan tidak lagi menjadi ukuran akhir.

Ia hanya menjadi salah satu alat.

Yang menjadi ukuran adalah keberkahan.

Harta boleh banyak, tetapi jangan sampai hati menjadi sempit.

Ilmu boleh tinggi, tetapi jangan sampai melahirkan kesombongan.

Jabatan boleh tinggi, tetapi jangan sampai membuat seseorang lupa bahwa ia tetap seorang hamba.

Rumah boleh besar, tetapi jangan sampai hati kehilangan rumahnya sendiri.

Sebab rumah yang sesungguhnya bagi jiwa adalah ketenangan ketika ia kembali kepada Allah.

Lalu… Syukur dan Sabar

Namun perjalanan menuju kebahagiaan tertinggi tidak selalu berupa jalan yang indah.

Di sinilah Islam memberikan dua kata yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam:

syukur dan sabar.

Ketika nikmat datang, syukur.

Ketika ujian datang, sabar.

Ketika pintu terbuka, syukur.

Ketika pintu tertutup, sabar.

Ketika doa dikabulkan, syukur.

Ketika doa belum terjawab, sabar.

Tetapi semakin saya merenungkannya, semakin saya melihat bahwa syukur dan sabar bukan dua sikap yang berdiri terpisah.

Keduanya adalah dua wajah dari satu kualitas iman: penerimaan terhadap Allah.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Syukur adalah kemampuan melihat kebaikan Allah dalam apa yang kita terima.

Sabar adalah kemampuan tetap percaya kepada Allah ketika apa yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan kita.