Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu… Syukur dan Sabar?

Karena itu, segala bentuk kekayaan yang dimiliki manusia pada akhirnya hanyalah titipan.

Harta adalah titipan.

Ilmu adalah titipan.

Kesehatan adalah titipan.

Keluarga adalah titipan.

Jabatan adalah titipan.

Bahkan usia pun adalah titipan.

Maka persoalan yang paling penting bukan semata-mata berapa banyak yang kita miliki, tetapi kepada siapa kita mengembalikan semua yang kita miliki itu.

Inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan buku Ngaji Sugih.

Buku ini tidak mengajak manusia membenci dunia. Sebaliknya, dunia tetap diterima sebagai ruang ikhtiar. Harta tetap boleh dicari. Kesuksesan tetap boleh dikejar. Karier tetap boleh diperjuangkan. Tetapi semuanya harus ditempatkan sebagai sarana, bukan sebagai Tuhan baru.

Sebab ketika sarana berubah menjadi tujuan akhir, manusia mulai diperbudak oleh apa yang seharusnya ia kuasai.

Pada titik inilah tauhid menjadi sangat penting.

Tauhid bukan hanya pengakuan bahwa Allah itu Esa. Tauhid adalah cara melihat kehidupan. Ia adalah kompas batin yang menentukan kepada siapa hati bersandar ketika segala sesuatu datang dan pergi.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Buku Ngaji Sugih sendiri menempatkan tauhid sebagai fondasi, bahkan menegaskan bahwa kekayaan sejati tidak lahir dari genggaman, melainkan dari hati yang mengetahui kepada siapa ia harus bersandar.

Dalam tradisi filsafat Islam dan tasawuf, perjalanan manusia kepada kebahagiaan tertinggi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Ia bergerak menuju penyempurnaan jiwa.

Al-Farabi, misalnya, berbicara tentang sa’adah-kebahagiaan-sebagai tujuan tertinggi manusia yang tidak cukup dicapai dengan kesenangan material. Ibn Sina juga melihat kebahagiaan manusia dalam hubungan dengan kesempurnaan jiwa dan pengetahuan tentang Yang Haq.

Sementara dalam tradisi tasawuf, Al-Ghazali membawa persoalan ini lebih jauh: manusia harus mengenal dirinya agar mampu mengenal Tuhannya. Jiwa yang terus dikuasai dunia tidak akan pernah merasa cukup, sebab dunia memang tidak pernah diciptakan untuk menjadi tempat berlabuh terakhir.

Maka barangkali masalah manusia modern bukan karena ia terlalu sedikit memiliki.

Bisa jadi justru karena ia terlalu banyak menginginkan.

Ia memiliki rumah, tetapi ingin rumah yang lebih besar.

Ia memiliki kendaraan, tetapi menginginkan kendaraan yang lebih mahal.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Ia memiliki jabatan, tetapi mengejar jabatan berikutnya.

Ia memiliki penghasilan, tetapi selalu merasa kurang.

Ia memiliki banyak teman, tetapi merasa sendirian.

Ia memiliki banyak informasi, tetapi kehilangan kebijaksanaan.

Ia memiliki banyak kesenangan, tetapi kehilangan ketenangan.