Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu… Syukur dan Sabar?

Ketika pintu terbuka, syukur.

Ketika pintu tertutup, sabar.

Ketika doa dikabulkan, syukur.

Ketika doa belum terjawab, sabar.

Tetapi semakin saya merenungkannya, semakin saya melihat bahwa syukur dan sabar bukan dua sikap yang berdiri terpisah.

Keduanya adalah dua wajah dari satu kualitas iman: penerimaan terhadap Allah.

Syukur adalah kemampuan melihat kebaikan Allah dalam apa yang kita terima.

Sabar adalah kemampuan tetap percaya kepada Allah ketika apa yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan kita.

Syukur membuat manusia tidak sombong ketika memperoleh.

Sabar membuat manusia tidak hancur ketika kehilangan.

Syukur menjaga manusia dari keserakahan.

Sabar menjaga manusia dari keputusasaan.

Karena itu, seorang Muslim yang matang bukanlah orang yang hidup tanpa masalah.

Ia adalah orang yang tidak kehilangan Allah ketika masalah datang.

Dalam buku Ngaji Sugih, gagasan ini sebenarnya sudah sangat kuat. Penulis mengajak pembaca melihat bahwa syukur bukan hanya ucapan atas kesenangan, tetapi cara pandang terhadap kehidupan. Bahkan dalam kesulitan, seseorang masih dapat bersyukur karena meyakini adanya hikmah yang sedang Allah ajarkan.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Al-Qur’an mengingatkan:

“Am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammā ya’tikum matsalul ladzīna khalaw min qablikum…”

Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana yang dialami orang-orang sebelum kamu?

Cobaan adalah bagian dari perjalanan.

Kesulitan adalah bagian dari pendidikan jiwa.

Kehilangan adalah bagian dari pembelajaran.

Dan kesabaran bukan berarti manusia tidak boleh menangis.

Sabar bukan berarti tidak boleh sedih.

Sabar adalah ketika kesedihan tidak membuat kita berburuk sangka kepada Allah.

Karena itu Allah juga berfirman:

“Wasta’īnū bish-shabri wash-shalāh.”

Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.

Menarik sekali bahwa sabar ditempatkan berdampingan dengan salat.

Sebab sabar tanpa Tuhan bisa berubah menjadi sekadar ketahanan psikologis.

Tetapi sabar yang bersandar kepada Allah berubah menjadi ibadah.

Begitu pula syukur.

Syukur bukan sekadar mengatakan Alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.

Syukur adalah kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, kemudian menggunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Maka orang yang memiliki harta tetapi tidak tahu untuk apa hartanya, belum tentu kaya.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Orang yang memiliki ilmu tetapi tidak memberi manfaat, belum tentu kaya.

Orang yang memiliki kekuasaan tetapi tidak mampu menundukkan egonya, belum tentu kaya.

Sebaliknya, orang yang sedikit hartanya tetapi luas syukurnya, besar manfaatnya, bersih hatinya, dan dekat kepada Allah, bisa jadi justru jauh lebih kaya.