Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu… Syukur dan Sabar?

Sebab manusia bisa menjadi miskin meskipun hartanya banyak, jika ia kehilangan rasa cukup.

Sebaliknya, manusia bisa menjadi kaya meskipun hartanya sederhana, jika ia mampu melihat kehidupan sebagai karunia.

Pada Akhirnya, Pulang

Pada akhirnya saya memahami mengapa saya sempat kesulitan menemukan pintu masuk filsafat Barat untuk buku ini.

Sebab Ngaji Sugih bukan semata-mata buku tentang teori kekayaan.

Ia adalah buku tentang perjalanan manusia.

Perjalanan dari keinginan menuju kesadaran.

Dari pencarian dunia menuju pencarian makna.

Dari kegelisahan menuju ketenangan.

Dari merasa memiliki menuju menyadari bahwa semuanya adalah titipan.

Dan dari merasa menjadi pusat kehidupan menuju kesadaran bahwa kita hanyalah hamba.

Dalam tradisi Islam, perjalanan itu sesungguhnya adalah perjalanan pulang.

Pulang kepada fitrah.

Pulang kepada tauhid.

Pulang kepada Allah.

Karena itu saya tertarik dengan ungkapan yang menjadi semacam ruh buku ini: dunia bukan tujuan akhir, melainkan ruang belajar. Manusia adalah musafir. Setiap perjalanan semestinya membuat kita semakin dekat kepada ilmu, hikmah, dan akhirnya kepada Allah.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Maka saya ingin menutup kata pengantar ini dengan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak perlu segera dijawab:

Jika suatu hari kita telah memiliki semua yang selama ini kita inginkan, lalu apa yang masih kita cari?

Jika rumah telah dimiliki…

Jika harta telah terkumpul…

Jika jabatan telah tercapai…

Jika nama telah dikenal…

Jika semua impian telah menjadi kenyataan…

Apakah hati otomatis menjadi tenang?

Belum tentu.

Sebab mungkin yang selama ini kita cari bukanlah dunia.

Mungkin yang kita cari adalah makna.

Mungkin yang kita cari bukanlah kekayaan.

Mungkin yang kita cari adalah rasa cukup.

Mungkin yang kita cari bukanlah sebanyak-banyaknya memiliki.

Mungkin yang kita cari adalah seseorang yang membuat hati kita merasa aman untuk bersandar.

Dan bagi seorang Muslim, sandaran itu pada akhirnya hanya satu :

Allah.

Karena itu, bahagia tertinggi mungkin bukan ketika semua yang kita inginkan datang kepada kita.

Bahagia tertinggi adalah ketika hati telah sampai pada keadaan di mana ia tetap menemukan Allah dalam apa pun yang datang kepadanya.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Ketika nikmat datang, ia berkata yaitu

Alhamdulillah.

Ketika ujian datang, ia berkata yaitu

Allah bersama saya.

Ketika kehilangan datang, ia berkata:

Allah tetap ada.

Ketika doa belum dikabulkan, ia berkata yaitu

Allah lebih tahu.

Ketika mendapatkan apa yang diinginkan, ia berkata:

Ini karunia Allah.

Dan ketika sesuatu yang sangat dicintainya harus pergi, ia tetap mampu berkata:

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

Kita milik Allah.

Dan kepada-Nya kita kembali.

Mungkin di situlah Ngaji Sugih menemukan puncak maknanya.

Bahwa manusia tidak sedang berjalan menuju sebanyak-banyaknya harta.

Ia sedang berjalan menuju kaya hati.

Tidak sedang mengejar sebanyak-banyaknya kenikmatan.

Ia sedang mencari ketenangan.

Tidak sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya kepemilikan.

Ia sedang belajar melepaskan.

Dan tidak sedang mencari Tuhan di tempat yang jauh.

Ia sedang belajar menyadari bahwa sejak awal, Allah tidak pernah jauh.

Maka barangkali pertanyaan terakhir bukan lagi yakni

“Adakah bahagia tertinggi?”

Melainkan:

“Sudahkah hati kita menemukan tempat untuk pulang?”

Jika sudah, maka syukur bukan lagi sekadar ucapan.

BACA JUGA:  Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

Ia menjadi cara hidup.

Sabar bukan lagi sekadar menahan diri.

Ia menjadi bentuk kepercayaan.

Tawakal bukan lagi menyerah.

Ia menjadi keberanian untuk terus berjalan.

Dan kekayaan bukan lagi tentang berapa banyak yang kita miliki.

Melainkan tentang seberapa sedikit hati kita bergantung kepada selain Allah.