Catatan Sastra Diskusi Buku ‘Ngaji Sugih’ : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Oleh: Anwar Nasyaruddin (Apresiator Sastra)

Makassar, NusantaraInsight — Selepas salat Dhuhur, 22 Agustus 2026, di sebuah ruang pertemuan, Hotel Aryaduta, Buku Ngaji Sugih diluncurkan, dirangkaikan diskusi yang dikemas dalam gaya semi talkshow. Acara dipandu Arwan D. Awing. Di barisan depan tampak penyelaras bahasa Rahman Rumaday, penulis buku Hj. Soraya, serta tiga pembahas: Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum., Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., dan Drs. Muhammad Amir Jaya.

Kemudian di beberapa meja lain, duduk undangan dari berbagai kalangan. Sebagian dari mereka adalah keluarga dan teman penulis yang datang langsung dari Samarinda. Sebagian lainnya yang hadir dari kalangan literasi, pendidik, seniman dan wartawan. Di bagian lain, ada protokol dan teknisi slide. Saya ikut sebagai peserta dari kelompok seniman.

Bagi saya buku Ngaji Sugih sebenarnya adalah sebuah memoar. Saya melihat kaver buku Ngaji Sugih menarik. Selain warna juga tipografi judul. Kalau dibaca judulnya ada keinginan untuk merenungkan maknanya, ibarat seorang gadis, cantik dan menawan. Buku ini setebal 346 halaman. Di dalam buku, penulisnya menjelaskan makna Ngaji Sugih secara umum sebagai memahami sunnatullah atau hukum hukum alam baik secara tersurat maupun tersirat.

BACA JUGA:  DPW PKS Sulsel Adakan TfT Pengamanan Suara Rakyat

Ketika diskusi dimulai, saya melihat dan mendengar Rahman Rumaday membuka kisah dari sesuatu yang sederhana, tentang naskah tulisan tangan. Saat naskah Ngaji Sugih sampai kepadanya, pekerjaan pertama bukan sekadar mengetik, tetapi membaca hati yang tersembunyi di balik setiap baris. Naskah itu kemudian diketik, diedit, dan disempurnakan melalui komunikasi yang terus berlangsung dengan penulis. Ada proses panjang sebelum menjadi buku, kata-kata yang ditulis tangan itu harus melewati lorong waktu, dari tangan penulis, ke tangan penyelaras, lalu sampai kepada pembaca.

Hj. Soraya, penulis buku Ngaji Sugih, saat memberi pengantar memulai dengan membuka pintu utama buku itu. Baginya, buku Ngaji Sugih adalah catatan hati, sebuah upaya memahami bagaimana hati menjadi kaya selama 25 tahun. Setiap buku yang lahir, katanya, memiliki takdirnya sendiri. Mencari kekayaan materi perlu diletakkan dalam sudut pandang Allah SWT. Apa pun yang hadir dalam kehidupan patut disyukuri, sebab kehidupan itu sendiri sudah merupakan kekayaan. Kata ‘Sugih’ bergerak dari makna lahir menuju makna batin.

BACA JUGA:  Arsiparis Cinta, Akhirnya Terbit Juga

Prof. Dr. Mardi Adi Armin sebagai pembahas pertama, melihat isi buku Ngaji Sugih begitu mendalam dan lanskap. Untuk itu berusaha membawa diskusi memasuki wilayah filosofis, sampai – sampai ia mengutip gagasan Blaise Pascal tentang kehidupan yang seakan berada di antara pilihan baik dan buruk. Dalam pandangan keagamaan, ia harus pula membandingkan dengan sejarah orang pilihan dalam Alquran. Pertarungan baik dan buruk itu dapat dibaca melalui istilah hizbullah atau golongan Allah dan hizbusy-syaithan atau golongan setan. Dalam perjalanan sejarah manusia, Allah menghadirkan figur-figur penerang untuk menghadapi kegelapan, ada Maryam, Nabi Musa, Nabi Sulaiman hingga Nabi Muhammad SAW.