Catatan Sastra Diskusi Buku ‘Ngaji Sugih’ : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Pembahasannya kemudian mengarah pada hakikat harta. Nabi Sulaiman menjadi gambaran kekayaan yang berada dalam kekuasaan seorang hamba, sementara Qarun menjadi peringatan bahwa kekayaan materi tidak selalu identik dengan kemuliaan. Dari sana muncul pemikiran, bahwa kaya tanpa sekadar memiliki kekayaan, karena harta yang paling bernilai adalah harta yang membawa manusia semakin dekat kepada AllahAllah SWT.

Olehnya, Menurut Prof Dr. Mardi Adi Armin, kehadiran buku Ngaji Sugih dapat dilihat bukan sekadar kebetulan. Buku tersebut seperti menemukan jalannya sendiri melalui pertemuan antara penulis dan penyelaras bahasa, ada frekuensi yang mempertemukan orang yang menulis dengan orang yang mengedit. Keduanya seperti berbicara dalam bahasa batin yang sama. Buku itu ditulis dengan hati dan diselaraskan oleh hati pula.

Giliran Prof. Dr. Sukardi Weda membahas, menyebut Ngaji Sugih sebagai buku yang luar biasa, menarik, mendalam, dan unik. Ia melihat pesan penting buku itu pada gagasan bahwa jika seseorang ingin kaya, maka ia perlu mengaji melalui ibadah. Rezeki bukan semata hasil perhitungan manusia, tetapi juga berada dalam keluasan kehendak Allah SWT. Kekayaan sejati, menurutnya, bersemayam dalam jiwa. Ia hadir sebagai ketenangan dan kelapangan dalam menjalani kehidupan. Karena itu, membaca Ngaji Sugih bukan hanya membaca buku, melainkan membaca kemungkinan untuk memperbaiki kualitas hidup.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Prof. Dr. Sukardi Weda juga mengangkat persoalan takdir dengan cara yang menarik. Takdir perlu dikejar, bukan dilawan. Ia mengajak siapa saja untuk tidak pasif menerima kehidupan, tetapi tetap berikhtiar sambil menyadari adanya kehendak yang lebih besar. Kekayaan tidak lagi berdiri sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai proses memahami bagaimana manusia menjalani kehidupan, bekerja, beribadah, bersyukur, dan menerima apa yang datang dengan hati yang lapang.

Muhammad Amir Jaya melihat penulis buku Ngaji Sugih sebagai seseorang yang melahirkan karya peradaban. Isi Ngaji Sugih merupakan penggalangan kata-kata bijak yang menyimpan banyak hakikat. Kekayaan bukan sebatas harta, tetapi hati yang jernih dan kedekatan dengan Allah. Ia mengajak pembaca memahami keberkahan, keridaan, dan puncak kasih sayang Allah SWT. Pemikirannya kemudian bertemu dengan ayat tentang jiwa yang tenang, jiwa yang dipanggil kembali kepada Tuhannya dalam keadaan rida dan diridai.

Lebih menarik, Muhammad Amir Jaya merasakan Ngaji Sugih seperti membaca sebuah karya sastra. Bukan karena buku itu bermain dengan keindahan bahasa, tetapi karena di dalamnya terdapat lapisan makna yang mengajak pembaca menafsirkan kehidupan. Kata Sugih menjadi simbol yang melampaui harta, dapat berarti kaya pengalaman, kaya rasa syukur, kaya ketenangan, kaya cinta, dan kaya kedekatan spiritual. Buku itu mengajak pembaca menengok ke dalam diri setelah sibuk menghitung apa yang berada di luar diri.