Maka saya ingin menutup kata pengantar ini dengan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak perlu segera dijawab:
Jika suatu hari kita telah memiliki semua yang selama ini kita inginkan, lalu apa yang masih kita cari?
Jika rumah telah dimiliki…
Jika harta telah terkumpul…
Jika jabatan telah tercapai…
Jika nama telah dikenal…
Jika semua impian telah menjadi kenyataan…
Apakah hati otomatis menjadi tenang?
Belum tentu.
Sebab mungkin yang selama ini kita cari bukanlah dunia.
Mungkin yang kita cari adalah makna.
Mungkin yang kita cari bukanlah kekayaan.
Mungkin yang kita cari adalah rasa cukup.
Mungkin yang kita cari bukanlah sebanyak-banyaknya memiliki.
Mungkin yang kita cari adalah seseorang yang membuat hati kita merasa aman untuk bersandar.
Dan bagi seorang Muslim, sandaran itu pada akhirnya hanya satu :
Allah.
Karena itu, bahagia tertinggi mungkin bukan ketika semua yang kita inginkan datang kepada kita.
Bahagia tertinggi adalah ketika hati telah sampai pada keadaan di mana ia tetap menemukan Allah dalam apa pun yang datang kepadanya.
Ketika nikmat datang, ia berkata yaitu
Alhamdulillah.
Ketika ujian datang, ia berkata yaitu
Allah bersama saya.
Ketika kehilangan datang, ia berkata:
Allah tetap ada.
Ketika doa belum dikabulkan, ia berkata yaitu
Allah lebih tahu.
Ketika mendapatkan apa yang diinginkan, ia berkata:
Ini karunia Allah.
Dan ketika sesuatu yang sangat dicintainya harus pergi, ia tetap mampu berkata:
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.
Kita milik Allah.
Dan kepada-Nya kita kembali.
Mungkin di situlah Ngaji Sugih menemukan puncak maknanya.
Bahwa manusia tidak sedang berjalan menuju sebanyak-banyaknya harta.
Ia sedang berjalan menuju kaya hati.
Tidak sedang mengejar sebanyak-banyaknya kenikmatan.
Ia sedang mencari ketenangan.
Tidak sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya kepemilikan.
Ia sedang belajar melepaskan.
Dan tidak sedang mencari Tuhan di tempat yang jauh.
Ia sedang belajar menyadari bahwa sejak awal, Allah tidak pernah jauh.
Maka barangkali pertanyaan terakhir bukan lagi yakni
“Adakah bahagia tertinggi?”
Melainkan:
“Sudahkah hati kita menemukan tempat untuk pulang?”
Jika sudah, maka syukur bukan lagi sekadar ucapan.
Ia menjadi cara hidup.
Sabar bukan lagi sekadar menahan diri.
Ia menjadi bentuk kepercayaan.
Tawakal bukan lagi menyerah.
Ia menjadi keberanian untuk terus berjalan.
Dan kekayaan bukan lagi tentang berapa banyak yang kita miliki.
Melainkan tentang seberapa sedikit hati kita bergantung kepada selain Allah.
Selamat menikmati karya fundamental ini.
Semoga buku Ngaji Sugih tidak hanya membuat pembaca berpikir tentang arti kaya, tetapi juga membuat kita bertanya lebih dalam tentang arti hidup, arti bahagia, arti syukur, arti sabar, dan akhirnya arti menjadi seorang hamba.








