Diskusi buku puisi di Figor Cafe, Cabang BTP Tamalanrea ini, diadakan oleh KoPi Makassar, dan Satupena Sulawesi Selatan.
Merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2022, KoPi Makassar dan Satupena Sulawesi Selatan, mengadakan Sastra Sabtu Sore di Roemah Lamdoek, Jalan Lamadukelleng, Sabtu, 30 Juli 2022.
HPI diperingati setiap tanggal 26 Juli, merujuk pada hari kelahiran penyair Chairil Anwar. Tahun 2022, merupakan pelaksanaan HPI yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun pelopor Angkatan ’45 tersebut.
Hari itu, tema spesialnya berupa pembacaan puisi-puisi cinta: Pulang ke Cinta. Cinta merupakan tema universal, lintas generasi, dan tetap aktual.
Pada kesempatan itu, saya sampaikan impian yang berkali-kali saya lontarkan. Bahwa saya menginginkan aktivitas pembacaan karya sastra, khususnya puisi, laiknya live music atau berkaraoke, sebagai sarana edukasi agar karya sastra semakin dekat dan tak berjarak dengan masyarakat pembacanya.
Sore hingga menjelang malam, para pembaca puisi tampil bergantian diiringi petikan gitar Romy–guru musik yang biasa memberi les privat.
Pembaca puisi antara lain, Putri Kumalasari (Duta GenRe Sulawesi Selatan), Indah (novelis), Lisana (mahasiswa), dan Mutmainnah yang datang membaca puisi ditemani anak kecilnya. Juga ada pasangan suami istri Yudhistira Sukatanya dan Dewi Ritayana, Rosita Desriani, Handayani Hasan, Maysir Yulanwar, Agus K Saputra, Rahmat Soni, dan Wawan dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ).
Dalam Rangka Hari Ayah Nasional, kami merayakannya dengan mengadakan peluncuran dan diskusi buku Kumpulan Puisi dan Musikalisasi Mencari Rumah Sembunyi karya Agus K. Saputra, yang merekam dan mendokumentasikan pengalaman penulisnya saat dibekap Covid-19.
Selain Agus K. Saputra (penulis), pembincang buku ini adalah Anil Hukma (akademisi & penyair), dan Maysir Yulanwar (penyair).
Acara yang dipandu Rosita Desriani ini, diadakan di Roemah Masagena, Jalan Pengayoman No. 34 Makassar, pada Sabtu, 12 November 2022.
Acara dibuka oleh Icha, murid SD Negeri Borong, yang membawakan lagu “Harta Berharga” ciptaan Arswendo Atmowiloto dan Harry Tjahyono.
Selain itu, ada pula kolaborasi pembacaan puisi dan musikalisasi oleh Dzafran, murid SD Negeri Borong, dan Kang Soni Hendrawan, yang dilakukan secara daring. Dzafran berada di lokasi acara, sedangkan Kang Soni berada di Sukabumi.
Maysir Yulanwar membuat catatan terhadap buku Agus K Saputra. Menurutnya, karena puisi lebih bersifat semiotik, maka puisi mempersila penyairnya melakukan upaya “Pergeseran Makna (Displecing). “Perusakan makna” (Distorsing), dan “Penciptaan Makna (Creating). Puisi adalah karya sastra yang unik. Saking uniknya, puisi nyaris tak lagi punya definisi.












