Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

“Mimpi saya, taman baca ini akan jadi tempat nongki-nongki kita,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dengan rendah hati diakui, taman baca yang berada di area kantornya itu, relatif agak sempit. Namun, dia yakin, bila hati kita luas dan terbuka menerima setiap orang yang datang, maka panggung itu akan terasa melebihi luasnya lapangan Karebosi.

Sebagian cerita tentang Sastra Sabtu Sore ini, bisa dibaca dalam buku Hasan Sijaya: Manusia Biasa, Karya Luar Biasa, yang ditulis Idwar Anwar, Yudhistira Sukatanya, dan Upi Asmaradhana. Memoar Hasan Sijaya ini, diterbitkan Pustaka Sawerigading, tahun 2022.

Hasan Sijaya dalam berbagai kesempatan, memang selalu menekankan bahwa perpustakaan merupakan rumah bagi para penggiat literasi, penulis, sastrawan, seniman, dan budayawan. Birokrat yang hobi menyanyi ini, disebut “tena ruanna”, lantaran ia sosok yang inovatif, awesome, dan sombere.

Usai acara, kami masih ngobrol. Muncul keinginan agar acara ini berkelanjutan, sehingga perlu nama sebagai branding acara.

Saya mengusulkan nama Sajak Sabtu Sore, diadakan akhir pekan, sebagaimana pernah saya lontarkan kepada Hasan Sijaya, ketika mencetuskan acara ini.

BACA JUGA:  Perang Timur Tengah "Dibidik' Prof Wahyu Wibowo dan Komponis Ananda Sukarlan Lewat Karya Puisi Pulo Lasman Simanjuntak

Yudhistira Sukatanya bilang, sebaiknya bukan sajak atau puisi saja, tetapi karya sastra pada umumnya. Maka disepakati namanya menjadi Sastra Sabtu Sore.

Sempat muncul seloroh, S5, kepanjangan dari Sastra Sabtu Sore ditemani sarabba dan kopi susu hehehe.

Acara dengan nama Sastra Sabtu Sore, pertama kali diadakan pada Sabtu, 5 September 2020, menghadirkan Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum dan Yudhistira Sukatanya sebagai narasumber.

Di flyer yang kami sebar, juga mencantumkan Pasara (Pasar Sastra), sebagai wacana menghadirkan buku-buku sastra karya penerbit lokal.

Pada edisi perdana, dibahas puisi-puisi karya Kembong Daeng (saat itu belum Guru Besar), yang terhimpun dalam buku Antologi Puisi “Perempuan Makassar”.

Kembong Daeng, saat itu, merupakan Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNM. Beliau dikenal sebagai sosok yang tekun menulis buku ajar Basa Mangkasarak.

Buku-buku yang sudah dihasilkan, baik individu atau tim, antara lain: “Gaya Bahasa Makassar”, “Sintaksis Bahasa Makassar”, “Pappilajarang Basa Mangkasarak untuk SD kelas I-VI (Sipakainga)”, “Pappilajarang Basa Mangkasarak untuk SMP kelas VII-IX”, “Kosakata Tiga Bahasa
(Indonesia-Makassar-Bugis), dan “Kelong-kelongna Tau Mangkasaraka”.

BACA JUGA:  Asa Dalam Anatomi Keretakan

Poin yang disampaikan Kembong Daeng, adalah pentingnya keikhlasan dalam berkarya. Ia juga mendesak agar pembelajaran bahasa daerah lebih diintensifkan.