Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Ada tiga logo lembaga dalam flyer, yakni Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan, Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. LAPAKKSS dimasukkan karena Yudhistira Sukatanya dan saya, saat itu, merupakan pengurus lembaga seni budaya yang dimotori oleh Dr. Ajiep Padindang, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Acara diadakan pada Selasa malam, tanggal 18 Agustus 2020, bertempat di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah, Jl. Sultan Alauddin Km 7 Makassar. Staf DPK Provinsi Sulawesi Selatan, menyuguhkan kopi susu, sarabba, pisang goreng dan ubi goreng pada tamu-tamunya yang hadir.

Meski di masa pandemi Covid-19, saya melihat antusiasme mereka yang hadir dari kalangan penyair, sastrawan, seniman, mahasiswa, dan budayawan. Ada semacam kerinduan orang bertemu dalam sebuah event pembacaan karya-karya sastra, meski diberlakukan pembatasan sosial, berupa social distancing dan physical distancing untuk mencegah penularan virus corona (Coronavirus) tersebut.

Malam itu, acara dipandu oleh Andhika Mappasomba, penggiat literasi asal Bulukumba. Panggung berukuran 7×5 meter terlihat hidup ketika tampil anak-anak binaan Dewan Kesenian Gowa. Mereka memadukan puisi dan gerak tari, diiringi kesok-kesok oleh Ancu Batara. Basri B Sila (Daeng Bas), juga menampilkan pertunjukan musik dan sastra liris bersama anak-anak.

BACA JUGA:  Jangan Pulang Sebelum Nonton Pertunjukan Seni Sastra di Festival Sastra Kepulauan IX 2026

Hasan Sijaya menyampaikan, ia memang mengimpikan sebuah tempat berkumpul dan berkreasi, yang jadi ruang ekspresi bagi mereka yang suka berpuisi, bernyanyi, menari, melukis atau lainjya. DPK Provinsi Sulawesi Selatan, katanya, siap memfasilitasi dengan menyediakan Taman Baca sebagai panggung pertunjukan.

“Mimpi saya, taman baca ini akan jadi tempat nongki-nongki kita,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dengan rendah hati diakui, taman baca yang berada di area kantornya itu, relatif agak sempit. Namun, dia yakin, bila hati kita luas dan terbuka menerima setiap orang yang datang, maka panggung itu akan terasa melebihi luasnya lapangan Karebosi.

Sebagian cerita tentang Sastra Sabtu Sore ini, bisa dibaca dalam buku Hasan Sijaya: Manusia Biasa, Karya Luar Biasa, yang ditulis Idwar Anwar, Yudhistira Sukatanya, dan Upi Asmaradhana. Memoar Hasan Sijaya ini, diterbitkan Pustaka Sawerigading, tahun 2022.

Hasan Sijaya dalam berbagai kesempatan, memang selalu menekankan bahwa perpustakaan merupakan rumah bagi para penggiat literasi, penulis, sastrawan, seniman, dan budayawan. Birokrat yang hobi menyanyi ini, disebut “tena ruanna”, lantaran ia sosok yang inovatif, awesome, dan sombere.

BACA JUGA:  Kritik Sastra: Puisi "Kami Senang Mendaki Bukit-Bukit Rohani" Pulo Lasman Simanjuntak, Layak Diapresiasi Sebagai Karya Sastra Kontemporer Indonesia Berkualitas

Usai acara, kami masih ngobrol. Muncul keinginan agar acara ini berkelanjutan, sehingga perlu nama sebagai branding acara.

Saya mengusulkan nama Sajak Sabtu Sore, diadakan akhir pekan, sebagaimana pernah saya lontarkan kepada Hasan Sijaya, ketika mencetuskan acara ini.

Yudhistira Sukatanya bilang, sebaiknya bukan sajak atau puisi saja, tetapi karya sastra pada umumnya. Maka disepakati namanya menjadi Sastra Sabtu Sore.

Sempat muncul seloroh, S5, kepanjangan dari Sastra Sabtu Sore ditemani sarabba dan kopi susu hehehe.

Acara dengan nama Sastra Sabtu Sore, pertama kali diadakan pada Sabtu, 5 September 2020, menghadirkan Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum dan Yudhistira Sukatanya sebagai narasumber.

Di flyer yang kami sebar, juga mencantumkan Pasara (Pasar Sastra), sebagai wacana menghadirkan buku-buku sastra karya penerbit lokal.

Pada edisi perdana, dibahas puisi-puisi karya Kembong Daeng (saat itu belum Guru Besar), yang terhimpun dalam buku Antologi Puisi “Perempuan Makassar”.