Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Setelah ngobrol dengan Hasan Sijaya, dan teman-teman pustakawan, saya pamit pulang.

Tak lama setelah tiba di rumah, Nasrul mengirim draft flyer dari teks yang saya berikan. Saya meminta dia menambahkan ornamen berupa bendera-bendera merah putih kecil–sebagaimana biasa warga memasang rangkaian bendera merah putih di lorong/gang pada saat menyambut tujuh belasan.

Begitu perbaikan desainnya dikirim ulang, dan saya anggap sudah bagus, saya bagikan flyer tersebut di grup WhatsApp Festival Aksara Lontaraq. Grup ini dibentuk, sebagai medium untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dalam rangka pelaksanaan Festival Aksara Lontaraq, yang diinisiasi Upi Asmaradhana, founder Kabar Makassar.

“Tappa’ ma.” Itu stiker berbahasa Makassar, yang diberikan Hasan Sijaya, sebagai respons atas flyer yang saya bagikan.

*Puisi Merdeka, Merdeka Berpuisi*

Pada awal pelaksanaan kegiatan pembacaan puisi, belum diberi nama Sastra Sabtu Sore. Di flyer tertulis pembacaan “Puisi Merdeka, Merdeka Berpuisi”, digelar dalam rangka memperingati 75 Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Ada tiga logo lembaga dalam flyer, yakni Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan, Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. LAPAKKSS dimasukkan karena Yudhistira Sukatanya dan saya, saat itu, merupakan pengurus lembaga seni budaya yang dimotori oleh Dr. Ajiep Padindang, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

BACA JUGA:  Rapat Panitia Festival Sastra Kepulauan IX Tetapkan Jadwal Ketat dan Konsep Kolaboratif

Acara diadakan pada Selasa malam, tanggal 18 Agustus 2020, bertempat di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah, Jl. Sultan Alauddin Km 7 Makassar. Staf DPK Provinsi Sulawesi Selatan, menyuguhkan kopi susu, sarabba, pisang goreng dan ubi goreng pada tamu-tamunya yang hadir.

Meski di masa pandemi Covid-19, saya melihat antusiasme mereka yang hadir dari kalangan penyair, sastrawan, seniman, mahasiswa, dan budayawan. Ada semacam kerinduan orang bertemu dalam sebuah event pembacaan karya-karya sastra, meski diberlakukan pembatasan sosial, berupa social distancing dan physical distancing untuk mencegah penularan virus corona (Coronavirus) tersebut.

Malam itu, acara dipandu oleh Andhika Mappasomba, penggiat literasi asal Bulukumba. Panggung berukuran 7×5 meter terlihat hidup ketika tampil anak-anak binaan Dewan Kesenian Gowa. Mereka memadukan puisi dan gerak tari, diiringi kesok-kesok oleh Ancu Batara. Basri B Sila (Daeng Bas), juga menampilkan pertunjukan musik dan sastra liris bersama anak-anak.

Hasan Sijaya menyampaikan, ia memang mengimpikan sebuah tempat berkumpul dan berkreasi, yang jadi ruang ekspresi bagi mereka yang suka berpuisi, bernyanyi, menari, melukis atau lainjya. DPK Provinsi Sulawesi Selatan, katanya, siap memfasilitasi dengan menyediakan Taman Baca sebagai panggung pertunjukan.