Tulisannya sering menjadi rujukan kebijakan pemerintah. Pun sebaliknya, tak sedikit kebijakan yang direvisi akibat tulisannya.
Keadaan ini kemudian menghantarnya sebagai wakil rakyat Kota Makassar di era 70-an. Meskipun demikian, politik tak menjadikannya silau terhadap kekuasaan.
Beliau lebih memilih memperbanyak relasi di banyak tingkatan; dari tingkat Istana di ibu kota, sampai gubuk sederhana di lorong kampung dan desa.
Di masa M.Dg. Patompo menjadi Wali Kota Makassar, Basir menjadi mitra dalam penataan Kota Makassar. Beberapa patung dan taman kota yang menghiasi Makassar ketika itu (termasuk ‘Tanggul Patompo’ yang terkenal) adalah hasil kolaborasi Patompo yang ‘gila’ membangun dengan Basir yang ‘bertangan dingin’.
Saat di penghujung jabatannya sebagai panglima, Jenderal M. Jusuf meminta kepada Basir untuk mengajukan permintaan.
’’Apakah ingin sesuatu, rumah? Atau jabatan gubernur? Katakan, Basir..,” desak M.Jusuf.
Didesak sahabatnya, Basir menjawab.
“Saya tidak tertarik. Saya minta yang paling berharga dari itu yang Pak Jusuf miliki,” sahut Basir.
“Apa itu,?” Jusuf yang tersentak bertanya.
“Foto keluarga, Bapak,” jawab Basir tenang.
Hingga kini, foto M.Jusuf bersama istrinya, tetap terpasang di salah satu dinding di rumahnya di Jalan Durian, Makassar.
Kisah ini hampir sama ketika Solihin GP hendak menyelesaikan jabatannya sebagai panglima. Beliau pun bertanya sama kepada Basir.
“Apa yang kau inginkan? Menjadi Gubernur?”
Basir menolaknya dengan alasan bersedia tapi nanti jika Pak Solihin menjadi Menteri Dalam Negeri.
“Saya cuma minta cerutu bapak,” lanjut Basir serius. Wartawan senior ini memang dikenal sebagai perokok berat.
Permintaan sebagai duta besar di Filipina pun ditampiknya. Ia tak ingin surat kabarnya mati lantaran menerima tawaran itu.
Ia begitu menghargai kejujuran, bahkan ketika kejujuran itu mengharuskan ia membuat banyak hati tidak puas, bahkan kecewa. Tapi ini yang membuat Basir tampil sebagai manusia yang paling merdeka. Tak ada yang mampu menunjukinya dengan kata rendah sedikit pun.
Sebagian orang menganggap ini berlebihan. Bahkan tak sedikit yang menganggap beliau bodoh, lantaran tidak memanfaatkan kesempatan. Tapi Basir memang lain. Dengan ‘kebodohannya’ ini, ia lebih wali kota daripada wali kota sebenarnya. Ia lebih gubernur daripada gubernur sesungguhnya.
Sehingga, jangan heran, ketika itu setiap pemilihan bupati, beliau selalu dimintai persetujuannya. Beliau berkuasa di atas para penguasa.
Dan, karena kesederhanannya, beliau berkuasa tanpa sedikit pun menampakkan kesombongan dan keberkuasaannya.
Ia pecinta seni dan budaya yang berkelas.
Goresan gambarnya terabadikan di logo Kodam XIV Hasanuddin ketika itu, dan Kodam VII Wirabuana sekarang. Lusinan buku bertuliskan huruf Lontara pun pernah ia buat, termasuk Pedoman Desa; satu-satunya koran bertuliskan huruf Lontara, khusus disebarkan di desa-desa.
Jauh dari riuh politik, Basir lebih memilih menenggelamkan diri ke dalam cintanya sebagai wartawan dan korannya Pedoman Rakyat. Profesi yang menjelaskan dengan begitu baik tentang siapa sosok seorang Basir; profesi yang membawa dirinya keliling dunia, seperti cita-cita kecilnya dulu.
Diundang dari berbagai belahan negeri untuk melihat langsung dan bertukar pikiran tentang apa saja.
Basir adalah cerita panjang yang tak akan pernah habis diurai di halaman terbatas ini.
Dalam sakitnya yang payah akibat lever yang mendera, beliau masih saja menulis dan mengatur pemberitaan. Dalam catatan tangannya ia menulis: ”Ada dua tugas wartawan: mewartakan berita dan menyingkap kebenaran. Dan kita sebagai insan pers, dimuliakan oleh tugas yang kedua.”












