M.Basir, Perempuan Ambon-Belanda Gagalkan Dieksekusi

M.basir
M.Basir (kanan) saat menghadiri peluncuran Satelit Palapa II di Cape Canaveral Florida, AS 9 Maret 1977. (Foto: Buku M.Basir: Lebih Berkuasa dari Para Penguasa, 2023).

Ternyata, dari tadi pagi, beliau sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengirim wartawan ke Mamuju. Saya juga tidak tahu, apakah memang beliau sudah tunggu-tunggu untuk memberi penugasan itu atau tidak. Namun yang jelas, Pak Basir selalu memilih wartawan yang dia anggap mampu untuk melaksanakan tugas yang tidak ringan.

Dalam banyak pengalaman, saya selalu menjadi langganan untuk ditugasi mewawancarai sosok yang memerlukan wawancara mendalam. Kemampuan “nose for news” (pensiuman berita/informasi) beliau luar biasa. Sebagai pemimpin redaksi‚ tugas beliaulah yang selalu menugaskan wartawan untuk meliput sesuatu yang khas, terutama yang luput dari perhatian para anggota redaksi lainnya. Biasanya, beliau memberi tahu latar belakang seseorang yang kelak akan diwawancarai, sehingga wartawan yang ditugaskan memperoleh gambaran awal masalah yang hendak digali.

Selama hidup beliau, hanya sekali saya merasa khawatir Pak Basir merasa tak enak. Ceritanya, suatu hari saya meliput kisah pertukaran dua anak di salah satu rumah sakit Sungguminasa. Kedua anak itu dipertemukan dengan ibu kandungnya masing-masing setelah berusia 12 tahun. “Features” mengenai kisah ini saya sudah kemas manis.

BACA JUGA:  Petualangan Spiritual Tak Berujung Syahriar Tato

Usai disusun, naskah diserahkan ke Wakil Pemimpin Redaksi, Henny Katili. Almarhum Pak Henny tak segera memuatnya sebelum dilihat oleh Pak Basir. Apalagi menyangkut kisah yang memiliki daya tarik tersendiri (human interest). Setelah seminggu, naskah itu tak dimuat-muat juga. Pada suatu malam, selagi piket, saya iseng-iseng membongkar tumpukan tulisan di atas meja Pak Basir. Saya hanya ingin memastikan bahwa tulisan itu sudah tiba di meja beliau dan membacanya.

Ternyata, benar ada. Tulisan itu bergabung dengan beberapa tulisan dan artikel lainnya. Tidak ada coretan apa-apa. Juga tidak ada catatan yang memberi tanda bahwa tulisan itu akan dimuat atau tidak. Saya bertanya dalam hati, mengapa tulisan semenarik ini tidak dimuat?

Sekembali ke rumah, saya membongkar kembali arsip (tindasan atau lampiran) tulisan tersebut. Keesokan hari, naskah itu dikirim ke Harian Suara Karya Jakarta melalui pos, karena kebetulan waktu itu, saya juga tercatat sebagai koresponden di Sulawesi Selatan.

Hanya berselang tiga hari setelah dikirim, tulisan tersebut dimuat di halaman satu Suara Karya. Saya sempat membaca dan sangat gusar. Saya yakin, Pak Basir akan mengetahuinya. Pasalnya, Pak Henny berlangganan suratkabar itu di kantor.

BACA JUGA:  S.ecip, Tanamkan ‘Modal’ Bagi Perkembangan ‘Fajar’

Dalam rapat bulanan tiap tanggal 25, salah satu agenda penting yang dibahas adalah kisah tulisan yang dimuat Suara Karya itu. Saya merasa seolah-olah duduk di kursi pesakitan. Dalam kesempatan itu, L.E.Manunua yang memimpin rapat langsung menyemprot saya.

’’Secara moral, seorang wartawan Pedoman Rakyat tidak boleh dan tidak dibenarkan mengirim tulisan ke media lain,’’ dengan mantap almarhum menandaskan.

Saya hanya diam seribu basa. Pak Basir kemudian menjelaskan bahwa kisah anak tertukar seperti itu sudah biasa terjadi di luar negeri, sehingga tidak dimuat di Pedoman Rakyat.
Ketika ada jedah sedikit, Saya mohon izin untuk sejenak berbicara.

’’Terus terang, saya meliput peristiwa dan menuliskannya untuk Pedoman Rakyat. Namun, setelah menunggu beberapa hari, ternyata tidak dimuat tanpa dijelaskan apa yang kurang dari tulisan itu. Saya pun mengirimnya ke Jakarta dan dimuat di halaman satu,’’ saya memaparkan.

Mendengar penjelasan saya, Pak Manuhua kembali berbicara.
’’Mungkin pihak redaksi perlu lebih jeli lagi melihat kadar suatu tulisan. Mengapa koran lain memuatnya di halaman satu, tentu tulisan itu menarik, sementara kita yang berada di depan mata peristiwa itu justru tidak memuatnya’’.