MAKASSAR, UNIK DAN RUMIT

Pengantar diskusi konteks kewilayahan Kota Makassar dan sekitarnya

UNIK

NusantaraInsight, Makassar — Satu hari, Raja Tallo, I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, berada di tepi pantai Tallo. Nun, tiba-tiba datang seorang lelaki bercahaya, menjabat tangannya. Kemudian di telapak tangan sang raja, lelaki itu menuliskan sesuatu: “Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai.”

Lelaki misterius itu tiba-tiba gaib. Raja kaget, dikiranya mimpi. Tapi ternyata tulisan di telapak tangannya jelas masih kelihatan.

Raja buru-buru melihat ke arah pantai. Benar saja, ada perahu baru saja merapat. Dari perahu turun seorang ulama yang kemudian diketahui dari Minangkabau bernama Abdul Ma’mur Khatib Tunggal, selanjutnya dikenal sebagai Dato’ ri Bandang. Kepadanya Raja menceritakan kejadian aneh yang baru saja dialaminya, sambil menunjukkan tulisan di tangannya.

Dato’ ri Bandang bilang: “Berbahagialah Tuan. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat.” Beliau lanjut: yang menulis syahadat itu adalah Nabi Muhammad SAW. Artinya Nabi telah menampakkan diri di negeri Tallo.

BACA JUGA:  Anak Hilang, Pulang Nak!

Nah, dari peristiwa mistis itulah muncul frasa “Akkasaraki Nabbiya” = Nabi menampakkan diri. Ketika ditambah “ri Tallo”, di Tallo. Jadi lengkapnya: “Nabi menampakkan diri di Tallo”.

Jika mengacu pada Lontaraq bilang na Gowa-Tallo, Karaeng Matoaya Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo I Malingkaang Daeng Nyonri tercatat telah terlebih dahulu memeluk Agama Islam, dan mendapat gelar kesultanan, Sultan Abdullah Awalul Islam yang memeluk Islam pada  9 Jumadil-Awal 1014 H atau 22 September 1605 Masehi.

Dato’ Ri Bandang mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Alauddin (1593-1639), dan Mangkubumi I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka.

Kedua raja inilah pemeluk awal Agama Islam di Kerajaan Gowa, kemudian diikuti seluruh rakyatnya.  Lalu pada 9 November 1607, digelar salat Jumat pertama di Tallo. Tanggal tersebut kini dijadikan acuan peringatan Hari Jadi Kota Makassar, berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2000.

Tapi ada juga yang mengacu pada pendapat lain bahwa Hari Jadi Kota Makassar, justru sejak statusnya ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda, sebagai Stadsgemente atau Kotapraja, Staatsblad  (Lembaran Negara) Nomor 176 Tahun 1906, mulai berlaku pada tanggal 1 April 1906.
Lalu dimana Kawasan cikal bakal “Kota Makassar”?

BACA JUGA:  Mengenal Hj Juhrah, Srikandi PGRI Sulsel

Kota Makassar semula adalah wilayah kawasan Benteng Ujung Pandang ( Benteng Pannynyua). Benteng yang dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa IX, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna.

Dinamai Benteng Pannynyua karena bentuknya unik mirip penyu merangkak ke arah laut. Awalnya benteng ini dibuat dengan bahan tanah liat dan kayu. Berbentuk segi empat, mirip arsitektur benteng Portugis. Berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Gowa yang terletak di pesisir pantai-biringkassi.
Kemudian bangunan benteng diperkuat Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin, dengan menggunakan batu padas, lapisan tanah keras atau batuan sedimen yang memiliki tekstur sangat padat dan menyerupai karang dari Pegunungan Karst Maros. Batu padas ini kaya akan silika dengan kandungan 70-95% dan sering digunakan dalam arsitektur. Itulah pusat “Kota Makassar” lama.

Di sekitar Benteng Ujung Pandang kemudian tumbuh sejumlah pemukiman, pasar, pertokoan dan pelabuhan Makassar. Pedagang asing yang datang berniaga menyebut seluruh kawasan ini; “Makassar”. Jadi Benteng Ujung Pandang boleh dikata jantung Kota Makassar versi Kerajaan Gowa.