Pelebaran Jalan Pahlawan yang kini dikenal sebagai Jalan Veteran di Makassar Kala pembangunannya merupakan bagian paling krusial dari upaya modernisasi kota yang dikerjakan oleh tentara dari Batalyon Zipur.
Pembangunan ini mencakup pembukaan jalur lingkar, ringroad, pertama di Makassar dari rentang jalan sekira 5 meter menjadi 14 meter dengan mengakuisisi sisi jalan. Dimaksudkan untuk mendukung kapasitas infrastruktur kota metropolitan dan meningkatkan kelancaran arus lalu lintas utama.
Jalan Veteran terbagi menjadi segmen Utara dan Selatan panjangnya sekira 3 hingga 4 kilometer yang membentang cukup panjang membelah kota, sementara Jalan Andalas sepanjang 1 kilometer merupakan jalur utama yang menghubungkan area pemukiman padat di pusat kota, ke wilayah pinggiran kota Makassar. Dari kawasan wilayah pasar Pakbaeng-baeng hingga Jalan Ujung dekat kawasan Pasar Cidu.
Lebih ke utara lagi ada kawasan Udjungpandang plan. Patompo berhasrat menciptakan atau membangun sebuah kota jang berkebudajaan yang dapat mencerminkan dan memancarkan sinar kepribadian bangsa Indonesia. Itulah dasar pemikiran pemerintah Kotamadya Makassar untuk merampungkan sebuah rencana pembangunan kota jang diberi nama „Udjung Pandang Plan” pada tahun 1970-an.
Pembangunan wilayah pemukiman kota tersebut dimulai dengan membangun sejumlah perumahan rakyat. Bahkan diwilayah ini ada kawasan khusus untuk para wartawan.
Sasaran utama pembangunan kawasan Udjungpandang plan adalah perluasan dan peremajaan kota, karena dengan itu maka memungkinkan penyebaran penduduk dapat dilakukan secara teratur dan terencana yang tadinya bermukim memadati pada wilayah tertentu dan telah menimbulkan berbagai dampak negatif pindah ke kawasan baru. Selain itu dimaksudkan untuk menciptakan keindahan dan kebersihan yang dengan mudah dapat dilaksanakan dan dipelihara terus menerus.
Pelaksanaan program ini dengan sendirinja menjadi penataan terhadap wilayah per-kampungan yang tidak teratur dan bersifat liar, tidak bisa dıhındarkan. Namun dengan demikian terobosan itu kemudian membuka jaian bagi penduduk yang bersangkutan untuk menyusun kehidupannja jang lebih baik. Memenuhi faktor yang terpenting dari kehidupan sebagai manusia yang berbudaya, sehingga pada diri mereka tidak timbul perasaan seakan-akan mereka dipinggirkan diasingkan di kapung halamannya sendiri.
Peremajaan Kotamadya Makassar Ketika itu belum menyentuh wilayah urban yang kumuh dan daerah tetangga, anglomerasinya.
Dalam Udjung Pandang Plan dijumpai pula rencana pembangunan jalan Makassar by pass”. Jalan yang langsung menghubungkan daerah pelabuhan dengan jalan menuju keluar kota. Dasar pemikiran utama dalam perencanaan ini ialah adanya kenjataan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Sulawesi Selatan setiap saat bertambah.
Tiga Program besar Patompo lainnya di UjungPandang yaitu mengawali Reklamasi Pantai Losari 1970-an. Sebelum Patompo, Pantai Losari masih pantai alami dengan kampung nelayan kumuh. Patompo mulai proyek reklamasi besar-besaran untuk bikin anjungan dan jalan tepi pantai. Ini cikal bakal Anjungan Pantai Losari yang dikenal sekarang. Tujuannya agar Makassar punya “waterfront city” kayak kota modern
Penataan Benteng Ujung Pandang/Fort Rotterdam di era Patompo mulai dibersihkan dari pemukiman liar. Dirintis jadi wilayah cagar budaya. Jalan di depan benteng ditata, dinamai Jalan. Ujung Pandang. Konsepnya juga menjadikan benteng Pannyua sebagai “titik nol” Kota Makassar.
Masterplan Pusat Kota Patompo bikin Rencana Induk Kota Makassar pertama Kawasan Ujung Pandang ditetapkan jadi pusat pemerintahan, wisata dan bisnis. Bangun Kantor Gubernur di Jalan. Ahmad Yani, Kantor Wali Kota Jalan Balaikota. Itu sebabnya maka sampai sekarang kantor-kantor penting numpuk di Kecamatan Ujung Pandang.












