Dinamai Benteng Pannynyua karena bentuknya unik mirip penyu merangkak ke arah laut. Awalnya benteng ini dibuat dengan bahan tanah liat dan kayu. Berbentuk segi empat, mirip arsitektur benteng Portugis. Berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Gowa yang terletak di pesisir pantai-biringkassi.
Kemudian bangunan benteng diperkuat Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin, dengan menggunakan batu padas, lapisan tanah keras atau batuan sedimen yang memiliki tekstur sangat padat dan menyerupai karang dari Pegunungan Karst Maros. Batu padas ini kaya akan silika dengan kandungan 70-95% dan sering digunakan dalam arsitektur. Itulah pusat “Kota Makassar” lama.
Di sekitar Benteng Ujung Pandang kemudian tumbuh sejumlah pemukiman, pasar, pertokoan dan pelabuhan Makassar. Pedagang asing yang datang berniaga menyebut seluruh kawasan ini; “Makassar”. Jadi Benteng Ujung Pandang boleh dikata jantung Kota Makassar versi Kerajaan Gowa.
Setelah penandatanganan Perjanjian Bongaya ( Bongaaisch Contract ) pada tahun 1667, Benteng Ujungpandang direbut Belanda dan menjadi pusat VOC di Timur Nusantara.
Namanya diubah namanya oleh Cornelis Speelman jadi menjadi Fort Rotterdam,- mengadopsi nama kota kelahiran Cornelis Spelman, Rotterdam. Cornelis Speelman memiliki jenjang karier panjang di VOC, berpuncak sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-14 (1681–1684)
Selanjutnya berkembang kawasan permukiman orang Eropa atau Belanda di Makassar pada masa kolonial yang menjadi cikal bakal kota tua Makassar.
Wilayah itu disebut Stad Vlaardingen adalah kawasan elit yang juga berfungsi sebagai pusat niaga menggantikan kawasan benteng / kota Somba Opu, dan pelabuhan Mangallekana.
Cakupan kawasan wilayah ini ditandai dengan jalan lurus sejajar pantai, dimana ada bangunan rumah batu berkapur/cat putih, butik Eropa, dan rumah-rumah mewah. Lokasinya mencakup area sekitar Jalan Jenderal Ahmad Yani (dulu Hoggepad ) dipagar menggunakan batang kelapa atau bambu. Lalu ada Governours Laan atau jalan Balaikota.
Di sebelah utara Vlaardingen ada Chinese wyck-pecinaan, Kampung Melayu, Kampung Wajo, Pasar Butung dan kampung Arab. Luasnya sekira 25 km2. lLalu kearau timur ke Pattunuang. Ke Selatan ke arah Kampung Beru.
Penduduk Kota Makassar antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlahnya meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000. Data itu juga menyebutkan bahwa lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Lalu berdasarkan data sensus penduduk tahun 1971, jumlah penduduk Kota Makassar (yang saat itu berubah nama menjadi Ujung Pandang) tercatat sebanyak 554.409 jiwa.













