Setelah penandatanganan Perjanjian Bongaya ( Bongaaisch Contract ) pada tahun 1667, Benteng Ujungpandang direbut Belanda dan menjadi pusat VOC di Timur Nusantara.
Namanya diubah namanya oleh Cornelis Speelman jadi menjadi Fort Rotterdam,- mengadopsi nama kota kelahiran Cornelis Spelman, Rotterdam. Cornelis Speelman memiliki jenjang karier panjang di VOC, berpuncak sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-14 (1681–1684)
Selanjutnya berkembang kawasan permukiman orang Eropa atau Belanda di Makassar pada masa kolonial yang menjadi cikal bakal kota tua Makassar.
Wilayah itu disebut Stad Vlaardingen adalah kawasan elit yang juga berfungsi sebagai pusat niaga menggantikan kawasan benteng / kota Somba Opu, dan pelabuhan Mangallekana.
Cakupan kawasan wilayah ini ditandai dengan jalan lurus sejajar pantai, dimana ada bangunan rumah batu berkapur/cat putih, butik Eropa, dan rumah-rumah mewah. Lokasinya mencakup area sekitar Jalan Jenderal Ahmad Yani (dulu Hoggepad ) dipagar menggunakan batang kelapa atau bambu. Lalu ada Governours Laan atau jalan Balaikota.
Di sebelah utara Vlaardingen ada Chinese wyck-pecinaan, Kampung Melayu, Kampung Wajo, Pasar Butung dan kampung Arab. Luasnya sekira 25 km2. lLalu kearau timur ke Pattunuang. Ke Selatan ke arah Kampung Beru.
Penduduk Kota Makassar antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlahnya meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000. Data itu juga menyebutkan bahwa lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Lalu berdasarkan data sensus penduduk tahun 1971, jumlah penduduk Kota Makassar (yang saat itu berubah nama menjadi Ujung Pandang) tercatat sebanyak 554.409 jiwa.
Angka ini mencerminkan situasi kependudukan setelah perluasan wilayah kota dan perubahan nama yang diatur berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku saat itu.
Nama Makassar pernah diubah menjadi Ujung Pandang berdasarkan PP Nomor 51 Tahun 1971 pada 31 Agustus 1971.
Perubahan ini dilakukan pada masa Orde Baru untuk memperluas wilayah kotamadya dan alasan historis, di mana Ujung Pandang merujuk pada benteng Jumpandang.
Alasan Perubahan: Nama Ujung Pandang dipilih karena berasal dari nama benteng (Benteng Ujung Pandang) yang didirikan tahun 1545 oleh Raja Gowa, Tunipalangga. Pergantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan “Jumpadang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman dirasa ideal.
Nama Ujung Pandang diketahui merupakan nama sebuah kampung dalam wilayah Kota Makassar. Akan tetapi, sejak awal proses perubahan nama Makassar menjadi Ujung Pandang mendapat banyak protes dari kalangan masyarakat.
Berdasarkan perubahan wilayah kota Makassar pada tahun 1971 maka terjadi dengan perluasan wilayah Kota Makassar dari hanya 21 kilometer persegi menjadi 115,87 kilometer persegi.
Semula batas paling selatan Kota Makassar adalah di Pasar Pakbaengbaeng dan batas sebelah timur di kawasan kebun binatang, kini pusat kuliner “Antama“
Sepanjang sejarah Pemerintahan Kota Makassar: dapat disebutkan beberapa nama Wali Kota yang berkinerja baik dalam mengubah wajah dan tata kota. Diantaranya : H.M Daeng Patompo, (1965–1978). Drs. H. Baso Amiruddin Maula SH. M.Si ( 1999 -2004 ); Ir.H. Ilham Arief Siradjuddin,MM., ( 8 Mei 2004 – 8 Juni 2008 ) dan Ir.H Mohammad Ramdhan Pomanto -Danny Pomanto ( 8 Mei 2014 – 2019 dan 2021 -2024 )
Pembangunan dan pengembangan infrastruktur di Makassar maju pesat pada era Wali Kota H. Muhammad Daeng Patompo (1965–1978). Berfokus pada prasarana jalan di wilayah tengah dan selatan kota.












