FIKSI MINI (9) : Kisah Cinta: Bermula dari Masker Berwarna Krem

Hidup bersama bertahun-tahun. Menumbuhkan kasih dan cinta. Berjejak dalam suka dan duka. Status keduanya tak jelas: suami-istrikah? Kumpul kebokah! Mungkin bagi keduanya semua itu tak penting: mereka lupa etika dan moralitas seorang dosen yang terpelajar. Juga lupa status sebagai polisi yang wajib menjunjung tinggi nilai etika, moralitas, dan tentu saja: hukum kepolisian sebagai pengayom masyarakat. Semua telah dilanggar secara terang benderang.

***

Hari malapetaka itu telah tiba. Di sebuah kamar hotel yang dingin: perempuan cantik itu tiba-tiba tak bernafas lagi. Meninggal. Mati wajarkah? Mati tak wajarkah? Saat ditemukan: hanya sang polisi yang ada di samping mayat. Mayat itu telanjang. Tanpa sehelai pakaian.

“Dia meninggal karena sakit.” Jawaban sang polisi tak dipercaya. Bagaimana mau dipercaya: selama ini sang polisi telah melakukan tingkah tak wajar dengan melawan norma dan aturan di lembaga kepolisian. Sehidup serumah bertahun-tahun: tanpa ikatan pernikahan. Sang polisi harus bertanggung jawab: begitu suara desakan. Maka sang polisi pun kini dalam sel tahanan.

BACA JUGA:  FIKSI MINI (2): Tukiyem, Mbah Pencopet

Di saat tudingan menuding-nuding akan keterlibatan meninggalnya perempuan cantik dalam pangkuannya: sang polisi sibuk membela diri tanpa air mata dan kesedihan. *****