SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Di situlah saya menemukan kedalaman Ngaji Sugih.

Buku ini seolah mengingatkan kita bahwa manusia memang diperintahkan untuk mengejar dunia, tetapi jangan sampai kehilangan akhirat.

Kita boleh mencari kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan mencari kita lalu menguasai hati kita.

Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa kepada siapa kita harus bersyukur.

Kita boleh memiliki cita-cita setinggi langit, tetapi tetap harus memiliki hati yang rendah di hadapan Allah.

Sebab pada akhirnya, kaya bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak yang mampu kita syukuri, seberapa banyak yang mampu kita bagikan, dan seberapa dekat hati kita kepada Sang Pemberi.

Maka saya menyambut buku Ngaji Sugih karya Hj. Soraya dengan apresiasi yang tinggi.

Semoga buku ini bukan hanya menjadi bacaan, tetapi menjadi teman perjalanan.

Menemani mereka yang sedang berjuang.

Menguatkan mereka yang sedang gagal.

Menenangkan mereka yang sedang gelisah.

Mengingatkan mereka yang sedang berlimpah.

Dan mengajak kita semua untuk kembali bertanya kepada diri sendiri:

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Jika suatu hari semua yang kita miliki harus ditinggalkan, apa yang masih tinggal di dalam diri kita?

Mungkin jawabannya adalah hati.

Dan bila demikian, maka mari kita belajar memperkaya hati.

Sebab boleh jadi, itulah bentuk “sugih” yang paling tinggi.

Selamat membaca.

Selamat mengaji kehidupan.

Selamat menemukan makna.

Dan semoga melalui Ngaji Sugih, kita semua tidak hanya menjadi manusia yang lebih kaya, tetapi juga menjadi manusia yang lebih bersyukur, lebih bermanfaat, lebih lapang, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Makassar, 22/8/2026