SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Karena itu, saya melihat gaya penulisannya memiliki karakter yang menarik: puitis, filosofis, akademis, sekaligus komunikatif.

Ada keberanian berpikir yang cukup dalam, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk menyentuh pembaca awam.

Ia juga memperkaya tulisannya dengan kutipan dari berbagai tokoh: filsuf, agamawan, sufi, motivator, sastrawan, peneliti, psikiater, tokoh politik, sahabat Nabi, hingga berbagai pemikir dunia.

Kutipan-kutipan tersebut tidak sekadar menjadi ornamen. Ia digunakan untuk memperkuat percakapan antara pengalaman pribadi penulis dengan pengalaman kemanusiaan yang lebih luas.

Di situlah saya melihat Hj. Soraya sebagai seorang pembaca yang tekun sekaligus pembelajar yang terus bergerak.

Seorang penulis yang baik tidak hanya pandai menyusun kata. Ia terlebih dahulu belajar mendengarkan kehidupan.

Dan saya kira, itulah yang dilakukan Hj. Soraya.

EMPAT JEJAK DALAM NGAJI SUGIH

Buku ini membawa pembaca menyusuri beberapa ruang refleksi: Jejak Makna, Ritual Kehidupan, Ketika Hati Belajar Pulang, dan Jiwa Penjelajah.

Keempat bagian tersebut bagi saya seperti empat tahapan perjalanan manusia.

Kita mencari makna.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Kita menjalani ritual kehidupan.

Kita kemudian belajar pulang kepada hati.

Dan setelah itu kita menyadari bahwa kehidupan adalah perjalanan yang tidak pernah selesai.

Ada sesuatu yang menarik dari kata “pulang”.

Sebab manusia pada hakikatnya bukan hanya sedang pergi menuju masa depan. Ia juga sedang mencari jalan pulang kepada dirinya sendiri.

Pulang dari kesibukan.

Pulang dari ambisi.

Pulang dari luka.

Pulang dari kesombongan.

Dan pada akhirnya, pulang kepada Allah.

Maka judul Ketika Hati Belajar Pulang menjadi sangat relevan dengan keseluruhan ruh buku ini.

Sebab mungkin selama ini yang kita cari bukan kekayaan, melainkan rasa cukup.

Bukan banyaknya sesuatu, melainkan kedalaman makna.

Bukan tepuk tangan manusia, melainkan ketenteraman ketika berhadapan dengan Tuhan.

KAYA YANG PALING TINGGI ADALAH MAMPU BERSYUKUR

Ada satu gagasan yang menurut saya sangat penting untuk direnungkan:

“Kekayaan sejati bukanlah ketika kita memiliki segalanya, melainkan ketika kita mampu mensyukuri apa yang Allah berikan sambil terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.”

BACA JUGA:  Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu... Syukur dan Sabar?

Di sinilah Ngaji Sugih menjadi lebih dari sekadar pembahasan tentang kekayaan.

Ia berbicara tentang syukur.

Dan syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah.

Syukur adalah kemampuan mengubah pemberian menjadi kebermanfaatan.

Mendapat ilmu, lalu berbagi ilmu.

Mendapat rezeki, lalu berbagi rezeki.

Mendapat kesempatan, lalu membuka kesempatan bagi orang lain.

Mendapat maaf, lalu belajar memaafkan.

Mendapat cinta, lalu belajar mencintai.

Karena itu, berbagi sekecil apa pun sesungguhnya merupakan bentuk lain dari kekayaan.

Saya juga tertarik pada empat kalimat sederhana yang dibicarakan dalam buku ini:

“Maafkan saya.”
“Saya menyesal.”
“Saya mengasihimu.”
“Terima kasih.”

Empat kalimat sederhana, tetapi sering kali justru paling sulit diucapkan oleh manusia.

Padahal, mungkin empat kalimat itu dapat menyelamatkan banyak hubungan, menyembuhkan banyak luka, dan membuat hati menjadi lebih ringan.

BUKU YANG LAHIR DARI KEHIDUPAN

Salah satu alasan mengapa saya memberikan apresiasi tinggi terhadap Ngaji Sugih adalah karena buku ini tidak terasa sebagai fiksi yang sengaja dibuat indah.

Ia tumbuh dari pengalaman.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Dari perjalanan.

Dari kegagalan.

Dari pergulatan batin.

Dari proses jatuh dan bangun.

Karena itu, ketika membacanya, kita tidak hanya sedang membaca tulisan Hj. Soraya. Kita seperti sedang diajak duduk bersama penulis, mendengarkan kisahnya, lalu perlahan-lahan menemukan bagian dari diri kita sendiri di dalam cerita tersebut.