SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Kegagalan terkadang merupakan guru yang paling jujur. Ia tidak memuji kita. Ia tidak menyenangkan kita. Ia bahkan sering kali membuat kita malu dan kecewa. Tetapi justru karena itulah ia memaksa kita melihat diri sendiri dengan lebih jernih.

Dalam pengalaman saya, kegagalan justru sering membawa saya kembali kepada sajadah dengan ketulusan yang berbeda.

Ketika semua jalan terasa terbuka, manusia mudah lupa kepada siapa ia harus berterima kasih.

Tetapi ketika jalan tiba-tiba tertutup, kita mulai mengetuk pintu langit.

Di situlah kegagalan bisa berubah menjadi keberuntungan spiritual.

Sebab dalam setiap ikhtiar ada doa. Dalam setiap doa ada pengharapan. Dalam setiap pengharapan ada penghambaan. Dan dalam penghambaan ada pahala yang tidak selalu harus kita petik di dunia.

Maka, gagal pun tidak selalu berarti rugi.

Bukankah setiap usaha yang diniatkan karena Allah adalah ibadah?

Pengalaman saya ketika pernah berproses sebagai calon Rektor Universitas Hasanuddin juga mengajarkan satu hal penting: manusia boleh memiliki tujuan, tetapi tidak boleh menggantungkan seluruh makna hidupnya pada tercapai atau tidak tercapainya tujuan tersebut.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Kita berusaha.

Kita berdoa.

Kita memperbaiki diri.

Lalu kita menerima keputusan Allah dengan lapang dada.

Karena barangkali yang kita sebut kegagalan hanyalah cara Allah memindahkan kita menuju pelajaran yang belum kita pahami.

Buya Hamka pernah menggambarkan penderitaan sebagai sekolah yang tidak pernah diminati siapa pun, tetapi justru banyak melahirkan manusia besar. Sejarah kehidupan banyak tokoh menunjukkan hal itu. Ada manusia yang menjadi besar bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena ia belajar berdiri setelah berkali-kali jatuh.

Maka, jangan terlalu cepat mengutuk kegagalan.

Bisa jadi, di balik kegagalan itu Allah sedang menyembunyikan versi terbaik dari diri kita.

SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Salah satu kekuatan buku Ngaji Sugih terletak pada cara Hj. Soraya menulis.

Ia tidak sekadar bercerita. Ia mengajak pembaca berpikir.

Pengalaman hidup dipertemukan dengan refleksi. Pengalaman batin dipertemukan dengan pemikiran. Kisah personal dipertautkan dengan nilai agama, filsafat, motivasi, dan kehidupan sosial.

Karena itu, saya melihat gaya penulisannya memiliki karakter yang menarik: puitis, filosofis, akademis, sekaligus komunikatif.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Ada keberanian berpikir yang cukup dalam, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk menyentuh pembaca awam.

Ia juga memperkaya tulisannya dengan kutipan dari berbagai tokoh: filsuf, agamawan, sufi, motivator, sastrawan, peneliti, psikiater, tokoh politik, sahabat Nabi, hingga berbagai pemikir dunia.