SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Dan ada kecukupan dalam menghadapi kehidupan ketika seseorang sampai pada kesadaran bahwa tidak semua hal harus berada dalam kendalinya.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kekayaan yang sejati bukanlah semata-mata banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.

Maka, Ngaji Sugih sesungguhnya sedang mengajak kita mengoreksi definisi tentang kaya.

Kita boleh mengejar kekayaan. Kita boleh bekerja keras. Kita boleh memiliki cita-cita besar. Kita boleh membangun usaha, mengejar jabatan, menempuh pendidikan setinggi-tingginya, bahkan berusaha mencapai prestasi yang mungkin dianggap mustahil oleh orang lain. Tetapi semua itu akan kehilangan makna apabila hati kita tetap miskin.

Miskin syukur.

Miskin ketenangan.

Miskin empati.

Miskin kemampuan memaafkan.

Dan miskin kesadaran bahwa seluruh pencapaian pada akhirnya akan kita tinggalkan.

Karena itu saya menyukai gagasan yang terasa kuat dalam buku ini: kekayaan sejati tidak selalu berbentuk angka atau nominal, tetapi dapat berbentuk ketenteraman hati yang lapang.

IKHTIAR ADALAH BENTUK CINTA KEPADA TAKDIR

Salah satu gagasan yang menurut saya penting dari buku ini adalah cara memandang ikhtiar.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti bergerak. Takdir justru harus dijemput melalui ikhtiar dan doa.

Kita diperintahkan untuk berusaha, tetapi tidak diperintahkan untuk menguasai hasil.

Kalimat ini sederhana, tetapi kedalamannya luar biasa.

Saya bahkan menjadikan kalimat tersebut sebagai teks dalam video TikTok saya, karena saya melihat di dalamnya terdapat semacam jalan tengah yang sehat antara ambisi dan kepasrahan.

Manusia berikhtiar sekuat tenaga, tetapi tidak menjadi Tuhan atas hasilnya.

Manusia merencanakan, tetapi Allah menentukan.

Manusia mengetuk pintu, tetapi Allah yang membukakannya.

Manusia menanam, tetapi Allah yang menumbuhkan.

Dengan demikian, ikhtiar bukanlah perlawanan terhadap takdir. Ikhtiar adalah bentuk cinta manusia kepada takdir yang telah Allah tetapkan.

Dan doa bukan tanda bahwa kita lemah. Doa adalah pengakuan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada kemampuan manusia.

Di titik inilah kegagalan memperoleh makna baru.

KEGAGALAN ADALAH GURU YANG PALING JUJUR

Membaca tulisan demi tulisan Hj. Soraya, saya menemukan banyak bagian yang terasa dekat dengan perjalanan kehidupan saya sendiri. Ada kegagalan, ada cobaan, ada harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada pintu yang tertutup ketika kita merasa sudah mengetuknya dengan segenap kemampuan.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Namun justru dari sanalah manusia belajar.