Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti bergerak. Takdir justru harus dijemput melalui ikhtiar dan doa.
Kita diperintahkan untuk berusaha, tetapi tidak diperintahkan untuk menguasai hasil.
Kalimat ini sederhana, tetapi kedalamannya luar biasa.
Saya bahkan menjadikan kalimat tersebut sebagai teks dalam video TikTok saya, karena saya melihat di dalamnya terdapat semacam jalan tengah yang sehat antara ambisi dan kepasrahan.
Manusia berikhtiar sekuat tenaga, tetapi tidak menjadi Tuhan atas hasilnya.
Manusia merencanakan, tetapi Allah menentukan.
Manusia mengetuk pintu, tetapi Allah yang membukakannya.
Manusia menanam, tetapi Allah yang menumbuhkan.
Dengan demikian, ikhtiar bukanlah perlawanan terhadap takdir. Ikhtiar adalah bentuk cinta manusia kepada takdir yang telah Allah tetapkan.
Dan doa bukan tanda bahwa kita lemah. Doa adalah pengakuan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada kemampuan manusia.
Di titik inilah kegagalan memperoleh makna baru.
KEGAGALAN ADALAH GURU YANG PALING JUJUR
Membaca tulisan demi tulisan Hj. Soraya, saya menemukan banyak bagian yang terasa dekat dengan perjalanan kehidupan saya sendiri. Ada kegagalan, ada cobaan, ada harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada pintu yang tertutup ketika kita merasa sudah mengetuknya dengan segenap kemampuan.
Namun justru dari sanalah manusia belajar.
Kegagalan terkadang merupakan guru yang paling jujur. Ia tidak memuji kita. Ia tidak menyenangkan kita. Ia bahkan sering kali membuat kita malu dan kecewa. Tetapi justru karena itulah ia memaksa kita melihat diri sendiri dengan lebih jernih.
Dalam pengalaman saya, kegagalan justru sering membawa saya kembali kepada sajadah dengan ketulusan yang berbeda.
Ketika semua jalan terasa terbuka, manusia mudah lupa kepada siapa ia harus berterima kasih.
Tetapi ketika jalan tiba-tiba tertutup, kita mulai mengetuk pintu langit.
Di situlah kegagalan bisa berubah menjadi keberuntungan spiritual.
Sebab dalam setiap ikhtiar ada doa. Dalam setiap doa ada pengharapan. Dalam setiap pengharapan ada penghambaan. Dan dalam penghambaan ada pahala yang tidak selalu harus kita petik di dunia.
Maka, gagal pun tidak selalu berarti rugi.
Bukankah setiap usaha yang diniatkan karena Allah adalah ibadah?
Pengalaman saya ketika pernah berproses sebagai calon Rektor Universitas Hasanuddin juga mengajarkan satu hal penting: manusia boleh memiliki tujuan, tetapi tidak boleh menggantungkan seluruh makna hidupnya pada tercapai atau tidak tercapainya tujuan tersebut.
Kita berusaha.
Kita berdoa.
Kita memperbaiki diri.
Lalu kita menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
Karena barangkali yang kita sebut kegagalan hanyalah cara Allah memindahkan kita menuju pelajaran yang belum kita pahami.
Buya Hamka pernah menggambarkan penderitaan sebagai sekolah yang tidak pernah diminati siapa pun, tetapi justru banyak melahirkan manusia besar. Sejarah kehidupan banyak tokoh menunjukkan hal itu. Ada manusia yang menjadi besar bukan karena hidupnya selalu mudah, tetapi karena ia belajar berdiri setelah berkali-kali jatuh.
Maka, jangan terlalu cepat mengutuk kegagalan.
Bisa jadi, di balik kegagalan itu Allah sedang menyembunyikan versi terbaik dari diri kita.
SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN
Salah satu kekuatan buku Ngaji Sugih terletak pada cara Hj. Soraya menulis.
Ia tidak sekadar bercerita. Ia mengajak pembaca berpikir.
Pengalaman hidup dipertemukan dengan refleksi. Pengalaman batin dipertemukan dengan pemikiran. Kisah personal dipertautkan dengan nilai agama, filsafat, motivasi, dan kehidupan sosial.












