Inilah kekuatan buku berbasis pengalaman.
Ia tidak menggurui.
Ia berbagi.
Ia tidak berkata, “Beginilah hidup.”
Ia seolah bertanya, “Bagaimana dengan hidupmu?”
Dan pertanyaan semacam itu sering kali jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.
NGAJI SUGIH: DARI MAKASSAR UNTUK DUNIA
Saya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Ngaji Sugih memiliki peluang untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjangkau pembaca yang lebih luas.
Alasannya sederhana.
Pengalaman tentang gagal adalah pengalaman manusia.
Kebutuhan akan ketenangan adalah kebutuhan manusia.
Keinginan untuk dicintai adalah kebutuhan manusia.
Mencari makna adalah kebutuhan manusia.
Dan pertanyaan tentang apa arti “kaya” bukan hanya milik satu bangsa atau satu agama.
Buku ini memang lahir dari pengalaman dan nilai-nilai Islam, tetapi pesan tentang optimisme, perjuangan, syukur, memaafkan, disiplin, berbagi, dan tawakal memiliki daya jangkau kemanusiaan yang luas.
Karena itu, saya melihat Ngaji Sugih bukan hanya sebagai buku untuk dibaca, tetapi sebagai buku untuk direnungkan.
Bukan hanya untuk mereka yang sedang berhasil, tetapi juga untuk mereka yang sedang gagal.
Bukan hanya untuk mereka yang sedang memiliki banyak, tetapi juga untuk mereka yang sedang belajar merasa cukup.
Bukan hanya untuk orang dewasa, tetapi juga penting bagi generasi muda yang sedang mencari arah kehidupannya.
AKHIRNYA, APAKAH KITA SUDAH KAYA?
Setelah membaca buku ini, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi:
“Berapa banyak yang saya miliki?”
Melainkan:
“Seberapa kaya hati saya?”
Apakah kita kaya karena memiliki banyak harta, tetapi miskin ketenangan?
Apakah kita kaya karena memiliki banyak relasi, tetapi miskin ketulusan?
Apakah kita kaya karena memiliki banyak pencapaian, tetapi miskin rasa syukur?
Ataukah kita sedang belajar menjadi manusia yang kaya dalam arti yang lebih hakiki: kaya hati, kaya makna, kaya syukur, kaya kebermanfaatan?
Di situlah saya menemukan kedalaman Ngaji Sugih.
Buku ini seolah mengingatkan kita bahwa manusia memang diperintahkan untuk mengejar dunia, tetapi jangan sampai kehilangan akhirat.
Kita boleh mencari kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan mencari kita lalu menguasai hati kita.
Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa kepada siapa kita harus bersyukur.
Kita boleh memiliki cita-cita setinggi langit, tetapi tetap harus memiliki hati yang rendah di hadapan Allah.
Sebab pada akhirnya, kaya bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak yang mampu kita syukuri, seberapa banyak yang mampu kita bagikan, dan seberapa dekat hati kita kepada Sang Pemberi.
Maka saya menyambut buku Ngaji Sugih karya Hj. Soraya dengan apresiasi yang tinggi.
Semoga buku ini bukan hanya menjadi bacaan, tetapi menjadi teman perjalanan.
Menemani mereka yang sedang berjuang.
Menguatkan mereka yang sedang gagal.
Menenangkan mereka yang sedang gelisah.
Mengingatkan mereka yang sedang berlimpah.
Dan mengajak kita semua untuk kembali bertanya kepada diri sendiri:
Jika suatu hari semua yang kita miliki harus ditinggalkan, apa yang masih tinggal di dalam diri kita?
Mungkin jawabannya adalah hati.
Dan bila demikian, maka mari kita belajar memperkaya hati.
Sebab boleh jadi, itulah bentuk “sugih” yang paling tinggi.
Selamat membaca.
Selamat mengaji kehidupan.
Selamat menemukan makna.
Dan semoga melalui Ngaji Sugih, kita semua tidak hanya menjadi manusia yang lebih kaya, tetapi juga menjadi manusia yang lebih bersyukur, lebih bermanfaat, lebih lapang, dan lebih dekat kepada Allah SWT.












