Kutipan-kutipan tersebut tidak sekadar menjadi ornamen. Ia digunakan untuk memperkuat percakapan antara pengalaman pribadi penulis dengan pengalaman kemanusiaan yang lebih luas.
Di situlah saya melihat Hj. Soraya sebagai seorang pembaca yang tekun sekaligus pembelajar yang terus bergerak.
Seorang penulis yang baik tidak hanya pandai menyusun kata. Ia terlebih dahulu belajar mendengarkan kehidupan.
Dan saya kira, itulah yang dilakukan Hj. Soraya.
EMPAT JEJAK DALAM NGAJI SUGIH
Buku ini membawa pembaca menyusuri beberapa ruang refleksi: Jejak Makna, Ritual Kehidupan, Ketika Hati Belajar Pulang, dan Jiwa Penjelajah.
Keempat bagian tersebut bagi saya seperti empat tahapan perjalanan manusia.
Kita mencari makna.
Kita menjalani ritual kehidupan.
Kita kemudian belajar pulang kepada hati.
Dan setelah itu kita menyadari bahwa kehidupan adalah perjalanan yang tidak pernah selesai.
Ada sesuatu yang menarik dari kata “pulang”.
Sebab manusia pada hakikatnya bukan hanya sedang pergi menuju masa depan. Ia juga sedang mencari jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Pulang dari kesibukan.
Pulang dari ambisi.
Pulang dari luka.
Pulang dari kesombongan.
Dan pada akhirnya, pulang kepada Allah.
Maka judul Ketika Hati Belajar Pulang menjadi sangat relevan dengan keseluruhan ruh buku ini.
Sebab mungkin selama ini yang kita cari bukan kekayaan, melainkan rasa cukup.
Bukan banyaknya sesuatu, melainkan kedalaman makna.
Bukan tepuk tangan manusia, melainkan ketenteraman ketika berhadapan dengan Tuhan.
KAYA YANG PALING TINGGI ADALAH MAMPU BERSYUKUR
Ada satu gagasan yang menurut saya sangat penting untuk direnungkan:
“Kekayaan sejati bukanlah ketika kita memiliki segalanya, melainkan ketika kita mampu mensyukuri apa yang Allah berikan sambil terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.”
Di sinilah Ngaji Sugih menjadi lebih dari sekadar pembahasan tentang kekayaan.
Ia berbicara tentang syukur.
Dan syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah.
Syukur adalah kemampuan mengubah pemberian menjadi kebermanfaatan.
Mendapat ilmu, lalu berbagi ilmu.
Mendapat rezeki, lalu berbagi rezeki.
Mendapat kesempatan, lalu membuka kesempatan bagi orang lain.
Mendapat maaf, lalu belajar memaafkan.
Mendapat cinta, lalu belajar mencintai.
Karena itu, berbagi sekecil apa pun sesungguhnya merupakan bentuk lain dari kekayaan.
Saya juga tertarik pada empat kalimat sederhana yang dibicarakan dalam buku ini:
“Maafkan saya.”
“Saya menyesal.”
“Saya mengasihimu.”
“Terima kasih.”
Empat kalimat sederhana, tetapi sering kali justru paling sulit diucapkan oleh manusia.






