Padahal, mungkin empat kalimat itu dapat menyelamatkan banyak hubungan, menyembuhkan banyak luka, dan membuat hati menjadi lebih ringan.
BUKU YANG LAHIR DARI KEHIDUPAN
Salah satu alasan mengapa saya memberikan apresiasi tinggi terhadap Ngaji Sugih adalah karena buku ini tidak terasa sebagai fiksi yang sengaja dibuat indah.
Ia tumbuh dari pengalaman.
Dari perjalanan.
Dari kegagalan.
Dari pergulatan batin.
Dari proses jatuh dan bangun.
Karena itu, ketika membacanya, kita tidak hanya sedang membaca tulisan Hj. Soraya. Kita seperti sedang diajak duduk bersama penulis, mendengarkan kisahnya, lalu perlahan-lahan menemukan bagian dari diri kita sendiri di dalam cerita tersebut.
Inilah kekuatan buku berbasis pengalaman.
Ia tidak menggurui.
Ia berbagi.
Ia tidak berkata, “Beginilah hidup.”
Ia seolah bertanya, “Bagaimana dengan hidupmu?”
Dan pertanyaan semacam itu sering kali jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.
NGAJI SUGIH: DARI MAKASSAR UNTUK DUNIA
Saya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Ngaji Sugih memiliki peluang untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjangkau pembaca yang lebih luas.
Alasannya sederhana.
Pengalaman tentang gagal adalah pengalaman manusia.
Kebutuhan akan ketenangan adalah kebutuhan manusia.
Keinginan untuk dicintai adalah kebutuhan manusia.
Mencari makna adalah kebutuhan manusia.
Dan pertanyaan tentang apa arti “kaya” bukan hanya milik satu bangsa atau satu agama.
Buku ini memang lahir dari pengalaman dan nilai-nilai Islam, tetapi pesan tentang optimisme, perjuangan, syukur, memaafkan, disiplin, berbagi, dan tawakal memiliki daya jangkau kemanusiaan yang luas.
Karena itu, saya melihat Ngaji Sugih bukan hanya sebagai buku untuk dibaca, tetapi sebagai buku untuk direnungkan.
Bukan hanya untuk mereka yang sedang berhasil, tetapi juga untuk mereka yang sedang gagal.
Bukan hanya untuk mereka yang sedang memiliki banyak, tetapi juga untuk mereka yang sedang belajar merasa cukup.
Bukan hanya untuk orang dewasa, tetapi juga penting bagi generasi muda yang sedang mencari arah kehidupannya.
AKHIRNYA, APAKAH KITA SUDAH KAYA?
Setelah membaca buku ini, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi:
“Berapa banyak yang saya miliki?”
Melainkan:
“Seberapa kaya hati saya?”
Apakah kita kaya karena memiliki banyak harta, tetapi miskin ketenangan?
Apakah kita kaya karena memiliki banyak relasi, tetapi miskin ketulusan?
Apakah kita kaya karena memiliki banyak pencapaian, tetapi miskin rasa syukur?
Ataukah kita sedang belajar menjadi manusia yang kaya dalam arti yang lebih hakiki: kaya hati, kaya makna, kaya syukur, kaya kebermanfaatan?






