Pertemuan dan Perpisahan saya dan ust. Hizbullah di tahun 2009 itu adalah perjalanan panjang yang penuh makna, sepanjang perjalanan waktu yang melibatkan ilmu dan rindu yang membentang diatas saja cinta dan ukhuwah karena Allah. pertemuan saya dan ust. Hizbullah adalah kilas balik kebijaksanaan dalam kebersamaan kami yang menyatu dalam satu rasa, satu asa, satu dahaga. Namun, perpisahan saya dan ust. Hizbullah juga menggambarkan bagian dari perjalanan hidup yang harus berhadapan dengan satu keberanian, satu tekad bahwa akan kembali bertemu dalam satu ikatan ukhuwa karena kami adalah saudara “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, ……” ~Al Hujurat ayat 10.
Pada pertemuan dan perpisahan saya dan ust. Hizbullah membentang jarak seiring waktu, mengungkap keindahan kisah saya dan ust. Hizbullah yang tak dapat terukir dengan kata-kata. Karena kami sadar bahwa setiap pertemuan adalah membuka lembaran kehidupan yang diwarnai oleh cahaya ilmu, seolah membuka tirai rahasia yang menyimpan hikmah-hikmah kehidupan yang pernah kami jalani bersama. Saat rindu membentang seperti perjalanan yang tak terhingga, cinta dan ukhuwah kami menyatu dalam ikatan yang disucikan oleh Allah.
Dan perpisahan kami, seperti dedaunan yang berpisah dengan pohonnya, ada getaran yang mengingatkan akan keterbatasan dunia ini. Namun, di atas segala kerinduan dan perpisahan, terbanglah sebuah kasih yang terbangun di atas cinta kepada Sang Pencipta, menyatukan hati dalam ukhuwah yang tak pernah pudar, bahkan ketika jarak berpisah.
Dari perpisahan itu saya kehilangan kontak dengan ust. Hizbullah, 1 tahun kemudian saya mendapat kabar dari seorang sahabat yang kebutulan sama-sama tinggal di ruko talasalapang melalui media sosial (Facebook) dan menanyakan padanya apakah ia tahu dimana sekarang keberadaannya Akhuna Hizbullah, kemudian teman itu menjawab akhuna Hizbullah sedang berada di Republik Islam Pakistan (Islam Jumhuriyah-yi Pakistan (Urdu) Islamic Republic of Pakistan (Inggris) Negeri dengan semboyan : ایمان، اتحاد، نظم (Imin, Ittiḥad, Naẓm) (“Iman, Persatuan, Disiplin”). Melanjutkan pendidikan disana. Lalu, saya menanyakan kembali apakah ia tahu nomor kontaknya akhuna Hizbullah? Teman itu menjawab iya tahu, dan teman itu mengusulkan pada saya untuk buat grup alumni Talasalapang biar bisa silaturrahmi digrup tersebut. Ba’da obrolan saya dengan teman tersebut di Facebook saya langsung berinisiatif buat grup WA dengan nama grup “Alumni Talasalapang”
Alumni Talasalapang merupakan kami sekumpulang mahasiswa yang pernah tinggal sama-sama disebuah ruko yang beralamat di Jln. Talasalapang sebagaimana saya jelaskan sebelumnya diatas. di balik dinding-dinding ruko yang menjadi saksi bisu kebersamaan kami, terdapat kisah unik dari kami yang menamakan ukhuwa kami dengan nama “ALUMNI TALASALAPANG” sebuah grup WhatsApp saya buat dengan tujuan untuk menyatukan hati kami dalam cinta dan ukhuwa. Dalam perjalanan kebersamaan kami terdapat salah satu kisah paling menggelitik yang sampai hari ini secara pribadi tidak akan dapat terhapus dalam sejarah kehidupan saya bersama teman-teman saat itu. kisah tersebut terjadi saat perjalanan kami pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat Dhuhur. Jarak tempu yang menghubungkan masjid dengan ruko tempat kami tinggal dan bermarkas sebenarnya tidak terlalu jauh, kurang lebih 500 meter, namun kebiasaan kami adalah hampir tidak pernah berjalan sendiri-sendiri hal ini menciptakan momen-momen kebersamaan yang tidak terlupakan.
Pada suatu hari, di tengah perjalanan pulang, kami melewati jalanan yang terdapat rawa-rawa yang dipenuhi oleh kangkung, sayuran yang tumbuh liar di sekitar rawa. Seakan terpancing oleh kelezatan kangkung yang segar, seorang teman dari kami dengan penuh semangat masuk ke dalam rawa-rawa untuk memetik sayuran tersebut. Niatnya adalah untuk dijadikan bahan makan siang kami di ruko.












