News  

Gema Kemerdekaan ala Bung Hatta

BugisPos, Makassar — Program rutin bulanan “Membaca Kembali Bung Hatta” seri ke-23 digelar lagi oleh Ma’REFAT INSTITUTE bekerja sama dengan Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH), Book Club Alumni SPBH-1 dan Kooperasi Indonesia Daulat Rakyat (KIDARA) Sulawesi Selatan, yang kali ini mengangkat topik “Gema Revolusi Kemerdekaan”.

Diskusi yang berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026, menghadirkan dua pemantik sekaligus pembaca buku, yakni: Muadz Ardin, S.P., M.P., selaku Direktur LINGKAR Sulawesi (Lembaga Inisiasi Lingkungan dan Masyarakat), serta Wahyudiawansyah, S.P., selaku Agricultural Sales Executive Sulawesi Selatan.

 

Perbincangan dibuka tepat pukul 14.00 WITA dan dipandu oleh Hasan selaku moderator. Pada penyampaian awalnya, Muadz memaparkan bahwa penjajahan bukan sekadar penguasaan wilayah, melainkan ada pula monopoli perdagangan, eksploitasi kekayaan, dan politik pecah belah untuk melemahkan perlawanan. Selain itu, “Belanda juga berupaya agar tingkat buta huruf di Indonesia tetap tinggi. Pada saat itu, angka buta huruf mencapai lebih dari 90% dari jumlah penduduk yang ada,” Semua itu dilakukan agar lebih mudah mengendalikan dan menjalankan penjajahannya, ujar Muadz.

BACA JUGA:  Ketum AAI Sulsel Sampaikan Pentingnya Tertib Arsip Pengelolaan Dana Bos di Sidrap

 

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan rakyat Indonesia. Sebelum kemerdekaan, dibentuk panitia persiapan proses kemerdekaan Indonesia. Soekarno memanggil perwakilan dari seluruh daerah di Indonesia, untuk mempersiapkan kemerdekaan. Seluruh perwakilan sepakat untuk meraih kemerdekaan, sehingga segala perbedaan dikesampingkan terlebih dahulu. Kemerdekaan harus diwujudkan melalui kedaulatan rakyat, demokrasi, kesejahteraan sosial, gotong royong, dan kerja sama internasional yang setara.

 

“Bung Hatta juga menegaskan peran pemuda, bukan sekadar siap mati, melainkan harus meneruskan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pemudalah yang nantinya akan melanjutkan pembangunan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

 

Sementara itu, Wahyu, menjelaskan bahwa pasca-Perang Dunia I, Bung Hatta mengikuti Kongres Demokrasi Internasional di Bierville pada tahun 1926. Ini merupakan pertama kalinya Bung Hatta memperkenalkan nama Indonesia, sekaligus menggalang dukungan melalui jalur diplomasi. “Pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, banyak rintangan yang dihadapi Indonesia sehingga perjuangan tidak begitu mudah. Belum adanya pengakuan dari luar negeri, membuat banyak negara terlibat menghalangi kemerdekaan Indonesia,” ucap Wahyu.

BACA JUGA:  Peringatan Setahun Wafatnya Virendy, Lagu Bento dan Bongkar Menggema

 

“Ada tiga upaya yang dilakukan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Pertama, legitimasi internasional (diplomasi) untuk membuktikan kepada dunia, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi sipil, bukan boneka fasis Jepang. Kedua, profesionalisme militer, yakni memperkuat ketahanan negara dengan membentuk Tentara Nasional berdisiplin baja. Ketiga, kesatuan sipil sebagai upaya menjaga rakyat agar tidak terprovokasi secara internal dan tidak terpecah oleh negara boneka bentukan Belanda,” sambungnya.

 

Lebih lanjut, Wahyu memaparkan bahwa pada awal Kemerdekaan Indonesia, laskar-laskar pejuang belum disatukan dalam sebuah lembaga. Hal ini dipikirkan oleh Bung Hatta, sehingga dipandang penting untuk membentuk lembaga militer (tentara) demi mempersatukan para pejuang agar terhindar dari provokasi dan perpecahan. “Untuk menjaga kedaulatan, dibutuhkan ketahanan serta penyatuan laskar-laskar, hingga terbentuknya tentara. Walaupun terkendala peralatan dan jumlah, yang terpenting adalah kemurnian jiwa dan tekad perlawanannya. Tentara harus tetap mengikuti komando, menjaga persatuan, serta membangun kedisiplinan. Sebagai tentara, mereka harus mempunyai jiwa kesatria—orang yang suci dalam segala tujuan dan sikap hidupnya. Tentara hendaklah bebas dari hidup kemewahan dan kesombongan,” sambungnya.