Orang itu kemudian lari ternbirit-birit ke atas becak, yang girnya sudah dol. Sekuat tenaga dia mencoba mengayuh becak yang lagi diparkir itu. Apesnya, becak itu tidak bisa jalan. Begitulah, kata dia, risikonya orang yang mau menonton tapi tidak punya uang.
“Nah itulah anekdot-anekdot seputar tukang catut dan penonton bioskop di masa lalu. Pada tahun-tahun itu, aturan masuk bioskop memang tegas. Orang mau nonton, dilihat baik-baik fisiknya, apakah sudah cukup umur atau belum. Kadang diperiksa kartu pelajar,” lanjut Iwan Azis.
Kalau perempuan, katanya, tidak boleh mengenakan rok mini dan memakai selop tinggi. Supaya ciri fisiknya jelas terlihat. Meski begitu, penonton tak kurang akal agar tetap bisa masuk bioskop.
Sebagai pertanda bahwa betapa semangatnya orang-orang di masa itu ke bioskop untuk mendapatkan hiburan. Bahkan menonton film di bioskop jadi hiburan utama.
Pernah, kisah Iwan Azis, akan diputar film untuk usia 17 tahun ke atas. Beberapa remaja lolos, dikasi masuk, walau tak cukup umur. Setelah film ekstra diputar, lampu dinyalakan. Ruangan bioskop menjadi terang.
Razia penonton yang belum cukup umur pun dilakukan. Mereka yang masih kategori remaja ini lalu dikeluarkan. Namun, sebentar mereka masuk lagi. Itu karena petugas yang tadi melakukan razia, sudah pergi meninggalkan bioskop.
Beliau lalu menyebut beberapa nama penjaga pintu bioskop di masa itu. Ada yang dipanggil Pakleo di Bioskop Sampurna. Orangnya berkulit hitam, tapi disebut Pakleo, yang dalam bahasa Makassar berarti kapur putih. Ada juga Mak Lompo di Makassar Theatre, yang berbadan besar, dengan ciri kebaya.
Penjaga pintu bioskop dengan penonton, kata Iwan Azis, kebanyakan sudah saling kenal. Sudah baku tau mi. Kadang penontonnya cuma pasepe (menyelipkan uang), yang sudah pasti di bawah harga karcis yang tertera.
Jadi boleh dikata, orang itu menyogok ke penjaga pintu. Nah. celakanya kalau ternyata karcis habis terjual. Artinya kursi full, pasti penonton ilegal itu dikeluarkan. Apalagi kalau didapat oleh petugas yang lakukan sidak. Ini terutama kalau filmnya merupakan film bagus dan lagi booming.
Disampaikan, dahulu ada kelas-kelas bioskop. Kalau bioskop yang banyak kutu busuk (saleang, dalam bahasa Makassar) itu di bioskop kelas 3.
Kalau nonton di bioskop kelas 3 ini, paha penonton kemungkinan akan bentol-bentol begitu selesai film diputar, lantaran digigit kutu busuk. Kursi kelas 3 ini, terbuat dari rotan, yang tak jarang kursinya sudah sobek hingga bolong.
Bioskop-bioskop di masa itu, ada yang punya balkon, kelas 1, kelas 2, dan diperuntukkan bagi kelas 3. Masing-masing punya pintu tersendiri. Beda dengan sekarang, masuk bioskop hanya melewati satu pintu.
Hampir semua jenis film ditonton pada masa itu, termasuk film-filmya Charlie Chaplin, seperti “The Kid”, “Modern Times”, “City Lights”, dan “The Great Dictator”. Film Charlie Chaplin ini antara lain diputar di Bioskop Empress dan Bioskop Gembira.
Film hitam putih dan masih berupa film bisu (tidak bersuara) itu banyak ditonton orang. Masyarakat menyebutnya film pepe (bisu). Tentu saja, mereka sebagai penonton yang akan menafsirkan dan mengimajinasikan sendiri adegan-adegan dalam film tersebut. Menurutnya, setiap film punya segmen dan selalu memberikan pembelajaran yang bisa dipetik.
Termasuk film-film India, juga punya pasarnya tersendiri. Salah satunya, film Bhakwan, yang bernuansa komedi.
Orang menyukai film Bollywood karena ada unsur humornya. Lagu-lagunya, penari-penarinya, menjadi sarana hiburan, yang menakjubkan bagi kalangan penonton yang menggemari genre film seperti ini.












