Itu sebagian isi percakapan kami. Saya memang menyumbang 4 tulisan dalam buku yang menghimpun arsip pengetahuan mobilitas warga Kota Makassar tersebut. Tulisan itu berkisah terkait demonstrasi anti-helm, becak, Damri, dan pengalaman berlangganan pete-pete kampus Unhas.
Namun, sebelum memulai cerita, saya iseng-iseng bertanya kepada mereka, apakah sebelumnya pernah naik Teman Bus? Rupanya, kami semua baru pertama kali menikmati kenyamanan naik Teman Bus. Ada 12 orang peserta Riding With Stories, ditambah penumpang umum.
Saya memberi spoiler tulisan saya dalam buku “Kiri Depan, Daeng”. Ada empat tulisan saya, masing-masing tentang helm, becak, Damri, dan pete-pete. Saya sampaikan, Teman Bus ini jauh lebih nyaman dibanding Damri era jadul. Dahulu, pintu Damri terdapat di depan dan belakang.
Saya bercerita, kalau naik Damri, saya suka duduk di belakang karena bisa langsung turun. Namun, sebelum turun, tiang pemegangnya diketuk dengan uang logam. Makanya tiang-tiang yang biasa dipakai sebagai pegangan, penuh dengan tanda goresan uang logam. Pengamennya juga biasa duduk di belakang.
Setelah lama bercerita, saya persilakan Elmatu bernyanyi. Dengan agak sotta, saya perkenalkan Elmatu. Bahwa dia merupakan alumni X Factor Indonesia, musim pertama, tahun 2013. Dia seangkatan dengan Fatin Shidqia. Elmatu, yang punya nama lengkap Ariel Matulessy, tergabung dalam grup Nu Dimension. Prestasinya pada ajang ini, bersama Nu Dimension, sebagai pemenang ketiga.
Layaknya sedang ngamen di bus, Elmatu memetik gitarnya sambil bersandar di pintu yang berada di tengah. Lagu-lagu dari Slank, Iwan Fals, Utha Likumahua, dibawakan dengan sangat merdu. Sesekali kami ikut bernyanyi, dan bertepuk tangan di akhir lagu. Dia juga membawakan lagu daerah Ambon, yang membawa kenangan saya pada kota kelahiran saya itu.
Dari balik jendela Teman Bus, ada suasana berbeda yang saya rasakan. Makassar terlihat rimbun, hijau. Mungkin karena rute yang dilewati bukan jalur yang biasa kami lalui.
Keseruan masih berlanjut di dalam Teman Bus. Saya bercerita pengalaman berlangganan pete-pete angkutan kampus Unhas. Saya dimintai tolong mencari mahasiswa yang mau berlangganan pete-pete oleh seorang sopir yang biasa kami sapa Pak Aji.
Teman-teman tentu saja senang. Artinya mereka tak harus berlama-lama menunggu pete-pete di pinggir. Bahkan diantar-jemput sampai depan rumahnya. Ketika saya sampaikan bahwa selama 3 tahun saya dapat tumpangan gratis, dengan spontan mereka bertepuk tangan.
Mendengar cerita saya, ada yang bertanya, berapa ongkos pete-pete kala itu. Saya bilang, masih Rp200. Lalu ada yang bertanya lagi, apakah pernah tarif pete-pete dinaikkan? Saya jawab, pernah. Naik dari Rp200 menjadi Rp250, yang mengakibatkan munculnya aksi protes dan demonstrasi. Peristiwa Amarah (April Makassar Berdarah) berawal dari aksi menolak kenaikan ongkos pete-pete tersebut.
Yang lain kemudian bertanya, mana yang lebih murah, ongkos Damri atau pete-pete saat itu. Saya tak langsung menjawab, tapi saya bercerita, saat Damri masuk kampus Unhas, terjadi aksi demo oleh sopir pete-pete kampus. Sebagian mahasiswa lebih memilih berlangganan Damri karena kalau beli kupon sebulan, mereka mendapat potongan. Tentu saja itu lebih hemat dan menguntungkan.
Begitu tiba di MP, kami turun dari Teman Bus semula, lalu naik Teman Bus lainnya, rute MP-Barombong. Di dalam bus sudah ada penumpang umum, terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak mereka.
Salah satu dari ibu itu menyampaikan bahwa masih ada bus berikutnya. Itu setelah dia melihat ada rombongan kami, peserta Riding With Stories, yang tidak kebagian tempat duduk. Saya, lagi-lagi sotta, menyampaikan program MIWF yang unik ini tapi dengan gaya bercanda. Saya sampaikan, kami ini fans, yang tidak mau berpisah dengan penyanyi andalan: Elmatu.












