banner 728x90

MIWF 2024: Keseruan Bersama Teman Bus, Berbagi Nostalgia, Bernyanyi Menikmati Makassar

  • Bagikan
Riding With Stories di teman bus
Peserta Riding With Stories di dalam Teman Bus

NusantaraInsight, Makassar — Saya buru-buru keluar dari Gedung E-1 Fort Rotterdam, tempat diskusi publik “Maju Ko Gondrong: Suara dari Jalanan Makassar” diadakan. Meski dipapar panas matahari, langkah kaki saya ringan, begitu peserta diskusi mengenai isu mobilitas dipersilakan menuju ke halte di depan POPSA, tempat Teman Bus menunggu.

Rasa-rasanya saya tak sabar berada dalam bus Transmamminasata itu, sembari berbagi nostalgia tentang angkutan umum di Makassar. Maklum, perjalanan dengan Teman Bus ini, bukan sekadar perjalanan biasa. Namun berkaitan dengan peluncuran buku “Kiri Depan, Daeng”.

Perjalanan semakin istimewa karena ini kali pertama saya naik Teman Bus. Makanya, saya ajak istri saya, Gita Nurul Ramadhani, menikmati Teman Bus sambil berkeliling Kota Daeng. Apalagi event ini merupakan bagian dari Makassar International Writers Festival (MIWF) 2024, yang kali ini mengusung tema m/othering. Sebagai pecinta buku, tentu saja kami tak melewatkan event tahunan yang digelar Rumata’ ArtSpace ini.

Sejak awal kami sudah disampaikan oleh Luna Vidya bahwa konsep peluncuran bukunya agak laen. Katanya, perayaan launching buku dilakukan dengan mendengar cerita dan gagasan yang disampaikan kontributor, sambil naik Teman Bus. Akan ada 3 Teman Bus yang disediakan. Kapasitas tempat duduknya terbatas. Karena itu, perlu registrasi. Rutenya, mulai dari Fort Rotterdam-Mal Panakkukang (MP), mengikuti koridor MP-Galesong.

BACA JUGA:  Boikot Produk, Boikot Ideologi Zionis

Menariknya lagi, di setiap bus akan ada penyanyi. Jadi mirip seperti angkutan Damri era jadul yang ada pengamennya. “Pengamennya” pun bukan kaleng-kaleng. Ada Sese Lawing, Yuka Tamada, dan Elmatu.

“Siapa mereka, cari saja di YouTube ya.” Tulis Luna Vidya di WAG Mobilitas Berkelanjutan.

Begitu berada di luar halaman Fort Rotterdam, sudah ada panitia yang mengarahkan kami ke Teman Bus. Ini kali pertama saya dan istri menempelkan kartu e-money yang tadi dibagikan oleh panitia pada alat pemindai dari moda transportasi milik BUMN tersebut.

Saya perhatikan, beberapa orang salah menempelkan kartunya. Ada yang malah terbalik menempelkan kartu itu. Beruntung driver-nya tanggap. Driver memberitahu agar kartu ditempelkan pada bagian atas hingga lampunya berubah warna hijau lalu muncul tanda centang.

Ketika sudah berada di dalam Teman Bus, mata saya mencari-cari wajah teman yang ikut sebagai kontributor. Rupanya, tak ada yang saya kenali, selain istri saya hehehe. Teman Bus berjalan meninggalkan halte, berbelok ke Jalan Riburane. Saya melihat ke relawan fotografer, lalu ke relawan MIWF yang satunya lagi.

  • Bagikan