Multifungsi warkop tergambarkan pada orang-orang yang datang ke sana. Ada yang datang sendiri mengambil posisi nyaman di salah satu sudut dengan segelas kopi dan roti bakar keju, saat pagi. Ada yang datang berdua, duduk ngobrol romantis, bersama kekasih hati, di kala senja. Ada yang menemui mitranya untuk negosiasi urusan bisnis, dan ngopi sebagai medium diplomasi.
Ada pula yang menjadikan tempat itu sebagai ruang belajar untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, mengadakan diskusi politik dengan tema-tema aktual sebagai strategi advokasi, atau menggelar live musik akustik untuk hiburan dan apresiasi. Juga ada yang menjadikannya sebagai jejaring gerakan literasi sastra lewat kegiatan bedah buku dan pembacaan puisi.
Bagi penulis, kedai kopi, warkop, dan kafe merupakan ruang kreativitas yang memberinya vitalitas dalam berkarya. Sejumlah penulis tenar mengaku rutin mengunjungi kedai kopi dan kafe untuk menulis. J.K. Rowling, pencipta tokoh khayali Harry Potter, suka mengunjungi Elephant House, kedai kopi di Edinburgh. Ernest Hemingway kerap bertandang ke Cafe La Rotonde ketika tinggal di Paris.
Demikian halnya dengan penulis Mesir, Naguib Mahfouz, menikmati secangkir kopi hangat sambil menangkar ide tulisannya di kedai Karnak. Fyodor Dostoevsky, tak hanya jatuh cinta pada St Petersburg, tapi juga jadi pengunjung setia Kafe Literaturnoe di kota itu untuk menulis. Franz Kafka pun begitu, jadi pelanggan kedai Montmartre di Kota Praha. Meski ia dikenal bukan penyuka kopi tapi karakter peminum kopi dihadirkan dalam cerpen dan novelnya.
Bagi penulis, kedai kopi, warkop, dan kafe adalah sumber ide yang tak habis ditulis. Ada banyak tulisan yang mengambil sumber ilham dari tempat-tempat itu. Banyak pula tulisan yang dikerjakan di situ, yang bisa dilacak pada pencantuman tarikh, ketika tulisan itu rampung dibuat. (*)












