Kakak yang dimaksud adalah Prof. Dr. H. Kaimuddin Salle, SH, M.H Daeng Mattawang. Keduanya lahir dan dibesarkan di Balla Barakka, dari pasangan Jagong Daeng Salle dan Patimang Daeng Calla. Prof. Aminuddin kelahiran Galesong, 2 Juli 1948.
Harapan suami Hj. Suryana Hamid, SH, MH, Daeng Memang, terdengar sederhana, seperti dirinya yang bersahaja. Namun, justru sangat substantif, terkait sejarah dan identitas kulturalnya.
“Kalau cucu saya ditanya, orang apa ki? Dia akan jawab, tu Galesong. Apa buktinya? Itu Balla Barakkaka. Nah, sekarang ada buktinya. Eh, lama-lama dikembangkan. Rupanya banyak yang tertarik,” terang Karaeng Patoto.
Tanah keluarganya berada di jalan poros, di Dusun Takbuncini. Balla Barakka juga berdiri setia di sana, sejak tahun 1936. Rumah bergaya tradisional Makassar itu, merupakan warisan orangtuanya, yang diakui sebagai keluarga sederhana.
“Bapak saya kan guru. Tapi alhamdulillah, ada juga harta-harta leluhur. Itu mi beliau bikin rumah, yang menjadi bangunan utama di sini.”
Ketika mengucapkan itu, terdengar ada rasa hormat, bercampur bangga, dan kenangan yang berkelebat pada sosok orangtuanya. Ayah Prof. Aminuddin Salle, bernama Jagong Daeng Salle, dan ibunya bernama Patimang Daeng Calla. Prof. Aminuddin Salle merupakan keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassary, dari garis istri bernama Sitti Hafilah Johar Manikam, yang merupakan putri Sultan Indragiri.
Lokasi tanah yang sekarang, kata Karaeng Patoto, dibeli dari warga, lalu dikembangkan menjadi Kampung Adat dan Budaya BBrG. Peresmiannya dilakukan pada 14 April 2019 oleh Asisten 3 Pemprov Sulawesi Selatan, Dr. H. Tautoto Tana Ranggina, atas nama Gubernur Sulawesi Selatan bersama Sultan Sepuh XIV Prabu Raja Adipati Arief Natadiningrat.
Desa Wisata dan Literasi Budaya
Balla Barakka ri Galesong merupakan satu dari 75 Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sebagai desa wisata, BBrG punya ciri bukan saja berbasis adat dan budaya tetapi juga sarat nilai-nilai filosofis tentang kepemimpinan, pemerintahan, dan konstitusi. Menarinya, pesan-pesan luhur dalam bahasa dan Lontarak Makassar itu telah didigitalisasi sehingga dapat diakses dengan pemindai barcode.
Misalnya, ada tulisan dalam aksara Lontarak Makassar, “Tojeng, rampangi bulo ammawang, Kebenaran ibarat bambu yang terapung.” Ada pula tulisan, “Boyai nanubuntuluk. Carilah ilmu itu, kamu akan mendapatkannya.” Di bawah setiap kalimat atau pesan, tertera tanggal penulisannya dalam dua versi tahun (masehi dan hijriah), lengkap dengan tanda tangan Prof. Aminuddin Salle, dan logo appaka sulapak.













