Karaeng Patoto, Balla Barakkaka, dan Akademia Plato

Misalnya, ada tulisan dalam aksara Lontarak Makassar, “Tojeng, rampangi bulo ammawang, Kebenaran ibarat bambu yang terapung.” Ada pula tulisan, “Boyai nanubuntuluk. Carilah ilmu itu, kamu akan mendapatkannya.” Di bawah setiap kalimat atau pesan, tertera tanggal penulisannya dalam dua versi tahun (masehi dan hijriah), lengkap dengan tanda tangan Prof. Aminuddin Salle, dan logo appaka sulapak.

Pesan-pesan itu ditulis dalam bingkai appaka sulapak, terbuat dari anyaman bambu, berbentuk empat persegi, yang sudah dibuatkan hak ciptanya oleh Prof. Aminuddin Salle. Maka jangan heran bila hampir di setiap sudut terdapat bentuk-bentuk appaka sulapak dalam berbagai ukuran. Bahkan sandaran kursi pun diberi merek appaka sulapak. Sungguh kreatif dan inspiratif.

Pernah, kisah Pro. Aminuddin Salle, berkunjung rombongan dari 12 negara sahabat, menumpangi dua bus, pada 28 Juni 2019. Mereka merupakan Duta Wisata dan Budaya, peserta program Field Trip Beasiswa Seni Budaya Indonesia, Kementerian Luar Negeri RI.

Setelah rombongan meninggalkan Balla Barakka, tiba-tiba muncul polisi yang mengawal mereka. Kata polisi, masih kurang 1 orang, yang berasal dari Meksiko.

BACA JUGA:  Saya Menyematkan Sikap Kritis dan Kepedulian pada Nama Anak-Anak

“Rupanya, peserta asal Meksiko itu masih mau berlama-lama di Balla Barakka. Dia keasyikkan menari ganrang bulo dengan anak-anak hahaha,” cerita Karaeng Patoto terkekeh.

Di area Balla Barraka ini terdapat beberapa bangunan dan fasilitas, antara lain Balla Saukang, Baruga Appaka Sulapak, Baruga Pusakaya, Baruga Konstitusi, Sirinna Barugaya, yang bisa digunakan untuk berdiskusi, dan Taman Baca Diana. Baruga Konstitusi diresmikan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Anwar Usman.

Area BBrG ini terasa adem dan menyenangkan. Sesekali terdengar kesiur angin yang bergesekan di daun-daun bambu. Juga suara cericit burung, yang hinggap di pohon-pohon yang menghadirkan keteduhan.

Prof. Aminuddin Salle bercerita, bila rumpun bambu yang ada di halaman, ada yang tumbuh sendiri dan ada yang sengaja ditanam. Bambu yang aslinya tumbuh di situ adalah bulo parring. Sedangkan, bambu kuning atau bulo gading, beliau beli karena terkait tokoh Sawerigading, dalam epos La Galigo. “Sawe” artinya beranak pinak, dan “gading” di atas. Ada mitos yang menyebut bahwa Sawerigading itu lahir dari bambu.

BACA JUGA:  Catatan Ngopi Asrul Sani Bukan Hanya Sekedar Tulisan

BBrG lebih dari sekadar desa adat dan budaya. Ia bagai ruang kreasi dan ekspresi seni pemiliknya. Lihat saja perabotannya yang terbuat dari bahan daur ulang. Kursi-kursi dari drum bekas berwarna merah kuning hijau mencolok, kontras dengan suasana di sekitarnya.

Meski Prof. Aminuddin Salle merupakan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan pakar hukum adat, tetapi jejak pengabdiannya pada masyarakat begitu terasa. Di biodatanya tertulis, beliau pernah menjadi Ketua RT di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea. Beliau sangat piawai membuat komposter dan menularkan pengetahuan dan keterampilannya itu bagi terwujudnya lingkungan yang asri, indah, bersih dan sehat.

Rumah dan material yang digunakannya punya ceritanya masing-masing. Tiang-tiang kayu ulin (sappu) yang dipakai, banyak yang merupakan daur ulang. Tiang-tiang itu, memang ada yang terlihat bolong, bekas tancap pasak. Meski kayu bekas, teaapi diakui justru lebih kuat dan tahan lama. Sebagian kayunya merupakan kayu campaga (cenrana) yang, katanya, sudah sulit didapat.

Ada juga kayu-kayu sisa tebangan pohon yang disulap jadi meja dan kursi estetik. Kayunya berasal dari pohon trembesi yang ditebang di kampus Unhas, Tamalanrea, karena dianggap menggangu tiang listrik. Ide kreatifnya langsung muncul, begitu melihat batang-batang kayu besar dari pohon yang punya nama Latin Samanea Saman atau Ki Hujan itu.